Minggu, 30 Juni 2013 0 komentar

KISAH SEDEKAH YG MENYENTUH HATI (kisah nyata)

Kisah di bawah ini adalah kisah yang didapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus.

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua." Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-anakku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya kearah kami.

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya ."Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT." Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA! Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang-orang terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!
0 komentar

.... BIARLAH HANYA ALLAH YANG MENGENAL-KU ....

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Ada sebuah pesan menarik dari seorang ulama salaf : "Berusahalah agar kalian lebih dikenal oleh para penghuni langit, walau tak seorangpun penduduk bumi yang mengenal kalian."

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebut tipe manusia seperti ini dengan sebutan Al Akhfiya': Manusia-Manusia Tersembunyi. Beliau juga mengatakan Allah Azza wa Jalla sangat mencintai manusia tipe ini.

Mereka tidak pernah peduli apa kata manusia tentang mereka, yang penting adalah apa kata Allah tentang mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah mengalami kegilaan akan kemahsyuran.

Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka ...

Ia hidup di masa tabi'in. Namun hingga hari ini tak satu buku sejarahpun yang dapat menyingkap identitas pria ini. Satu-satunya informasi tentangnya hanyalah bahwa ia seorang berkulit hitam dan bekerja sebagai tukang sepatu!

Shahibul hikayat adalah seorang tabi'in bernama Muhammad ibn- al-Munkadir-rahimahullah-.

Malam itu sudah terlalu malam dan gelap. Namun walaupun malam, udara terasa lebih panas dari biasanya. Tidak aneh memang, sebab hari-hari itu adalah hari-hari kemarau panjang di kota itu.

Sudah setahun ini kota Madinah tidak pernah mendapatkan curahan air dari langit. Entah telah berapa kali penduduk kota itu berkumpul untuk melakukan shalat istisqa' demi meminta hujan. Namun hingga malam itu, tak setetes hujanpun yang turun menghampiri mereka.

Dan malam itu, seperti kebiasaannya bila sepertiga akhir malam menjelang, Muhammad ibn al-Munkadir meninggalkan rumahnya dan bergegas ke Masjid Rasulullah. Usai mengerjakan shalatnya malam itu, Ibn al-Munkadir bersandar ke salah satu tiang masjid.

Tiba-tiba ia melihat sebuah sosok bergerak tidak jauh dari tempatnya bersandar. Ia mencoba untuk mengetahui siapa sosok itu.

Agak sulit sebab malam telah begitu gelap. Dengan agak susah payah ia melihat seorang pria berkulit hitam agak kecoklatan. Tapi ia sama sekali tidak mengenalnya. Pria itu membentangkan sebuah kain di lantai masjid itu. Dan pria itu sepertinya benar-benar merasa hanya ia sendiri dalam masjid itu. Ia tidak menyadari kehadiran ibn al-Munkadir tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Ia berdiri mengerjakan shalat dua raka'at. Usai itu, ia duduk bersimpuh. Begitu khusyu' ia bermunajat. Dan dalam munajat itu, ia mengatakan, "Duhai Tuhanku, penduduk negeri Haram-Mu ini telah bermunajat dan memohon hujan pada-Mu namun Engkau tidak kunjung mengaruniakannya pada mereka. Duhai Tuhanku, sungguh aku mohon pada-Mu curahkanlah hujan itu untuk mereka."

Ibn al-Munkadir yang mendengar munajat itu agak sedikit mencibir. "Dia pikir dirinya siapa mengatakan seperti itu," katanya dalam hati. "Orang-orang shaleh seantero Madinah telah keluar untuk berdoa meminta hujan, namun tak kunjung dikabulkan. Lalu tiba-tiba, orang ini ingin berdoa pula..." gumamnya.

Namun sungguh di luar dugaan , belum lagi pria hitam itu menurunkan kedua tangannya, tiba-tiba saja suara guntur bergemuruh dari langit. Tetesan-tetesan air hujan menetes ke bumi. Sudah lama tidak begitu. Tak terkira betapa gembiranya pria itu. Segala pujian dan sanjungan ia ucapkan kepada Allah Ta'ala.

Namun tidak lama kemudian ia berkata dengan penuh ketawadhu'an, "Duhai Tuhanku, siapakah aku ini? Siapakah gerangan aku ini hingga Engkau berkenan mengabulkan doaku?."

Ibn al-Munkadir hanya tertegun di tempatnya memandang pria itu. Tidak lama sesudah itu, pria tersebut bangkit kembali dan melanjutkan raka'at-raka'atnya. Hingga ketika saat subuh menjelang, sebelum kaum muslimin lainnya berdatangan, ia segera menyelesaikan witirnya.

Dan ketika shalat subuh ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seolah-olah ia baru saja tiba di masjid itu.

Usai mengerjakan shalat subuh, pria itu bergegas keluar meninggalkan masjid Rasulullah. Jalan-jalan kota Madinah subuh itu digenangi air. Pria itu berjalan cepat sambil mengangkat kain bajunya. Menghilang... Ibn al-Munkadir yang berusaha mengikutinya kehilangan jejak. Ia benar-benar tidak tahu kemana pria hitam itu pergi.

Dan malam kembali merangkak semakin jauh. Malam ini, Muhammad ibn al-Munkadir kembali mendatangi masjid Nabawi. Dan seperti malam kemarin, ia kembali melihat pria hitam itu. Persis seperti kemarin.

Ia mengerjakan shalat malamnya hingga subuh menjelang. Dan ketika shalat ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seperti orang yang baru saja tiba di masjid itu.

Dan ibn al-Munkadir mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu. Pria itu menuju ke sebuah lorong dan setibanya di depan sebuah rumah ia masuk kedalamnya. "Hmm, rupanya di situ pria ini tinggal. Baiklah sebentar aku akan mengunjunginya."

Matahari telah naik sepenggalan. Usai menyelesaikan shalat Dhuha-nya, ibn al-Munkadir pun bergegas mendatangi rumah pria itu. Ternyata ia sedang sibuk mengerjakan sebuah sepatu.

Begitu ia melihat ibn al-Munkadir, ia segera mengenalinya. "Marhaban wahai Abu 'Abdullah, begitulah ibn al-Munkadir dipanggil! Adakah yang bisa kubantu? Mungkin engkau ingin memesan sebuah alas kaki?" ujar pria itu menyambut kedatangan ibn al-Munkadir.

Namun ibn al-Munkadir justru menanyakan hal yang lain. "Bukankah engkau yang bersamaku di masjid kemarin malam itu?".

Dan tanpa diduga, wajah pria itu nampak sangat marah. Dengan nada suara yang tinggi ia berkata, "Apa urusanmu dengan itu semua, wahai ibn al-Munkadir???!.

Ini adalah malam ketiga sejak peristiwa itu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu ibn al-Munkadir berjalan menuju masjid Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Satu hal yang agak berbeda malam itu. Di hatinya ada harapan yang kuat untuk melihat pria tukang sepatu itu.

Setibanya di masjid dan mengerjakan shalat seperti biasanya, ia bersandar sambil berharap pria itu kembali terlihat di depan matanya.

Namun malam semakin malam, namun pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung kelihatan. Ibn al-Munkadir tersadar. Ia telah melakukan suatu kesalahan. "Inna lillah! Apakah yang telah kulakukan???" itulah gumamnya saat menyadari kesalahan itu.

Dan usai shalat subuh, ia segera meninggalkan masjid itu dan mendatangi rumah sang tukang sepatu. Namun yang ditemukan hanya pintu rumah yang terbuka dan tidak ada lagi pria itu. Penghuni rumah itu berkata, "Wahai Abu Abdullah! Apa yang telah terjadi antara engkau dengan dia?".

"Apa yang telah terjadi?" tanya ibn al-Munakdir. Ketika engkau keluar dari sini kemarin itu, ia segera mengumpulkan semua barangnya hingga tidak satu pun yang tersisa. Lalu ia pergi dan kami tidak tahu kemana ia pergi hingga kini, jelas penghuni rumah itu.

Dan sejak hari itu, ibn al-Munkadir mengelilingi semua rumah yang ia ketahui di kota Madinah. Namun sia-sia belaka. Pencariannya tidak pernah membuahkan hasil.

Dan hingga kini di abad 14 Hijriyah ini, kita pun tidak pernah tahu siapa pria tukang sepatu itu. Jejak-jejaknya yang terhapus oleh hembusan angin sejarah seolah bergumam, "Biarlah, Hanya Allah Yang Mengenalku ..."
0 komentar

... KISAH KEBESARAN ALLAH ATAS 6 AMALAN : HUTANG LUNAS & KELUARGA KEMBALI UTUH ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... “Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.

Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.

“Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah... kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.

Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”
“Kenapa?” tanya Malik
“Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”

Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.

Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.

Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah... saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”

Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.

Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26.

”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”

Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.

Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)

Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3.

”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”

Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. Kemudian BERTAUBAT atas dosa dosa nya selama ini. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.

Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.

Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.

Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3.

”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah... ampuniah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu...”

Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.

Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.

Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.

Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya.

“Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat.
“Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.
“Aduh Lik, tolong dong... bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”

Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajak gue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”
Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.
“Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”
“Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.
“Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”

Alhamdulillah... selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.

Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”

Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”
“Selamat apa Bang?”
“Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”
“Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya.

Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu.

Subhanallah, Maha Suci Allah, di tangan Nya lah berkuasa segala sesuatu
0 komentar

MENANGIS MEMADAMKAN API NERAKA...???

Dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Kedua peneliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Hasil penelitian kedua peneliti itu menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ‘‘BARBEDA’’ dengan air mata yang mengalir karena kecewa dan sedih.

Air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ternyata tidak mengandung zat yang berbahaya.

Sedangkan, air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin, atau racun.

Kedua peneliti itu pun merekomendasikan agar orang² yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas²nya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis.

Orang² yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Orang² yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa masa lalu akan memadamkan api neraka.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW; ‘‘Ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT...!!!’’ (HR. Muslim)

Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai.

Tuhan memuji orang menangis; ‘‘Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk...!!!’’ (QS Al-Isra' [17]:109).

Nabi Muhammad SAW bersabda; ‘‘Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa²mu...!!!’’ (HR. Muslim)

Ciri² orang yang beruntung ialah;

1. Ketika mereka hadir di bumi langsung menangis, sementara orang² di sekitarnya tertawa dengan penuh kegembiraan.

2. Jika meninggal dunia ia tersenyum, sementara orang² di sekitarnya menangis karena sedih ditinggalkan.
0 komentar

RENUNGKANLAH....!!!!!

INGAT-LAH...!!!!
Secantik dan setampan apapun wajah kita.
Se'sexi dan se'gagah apa-pun tubuh kita.
Se'kaya dan se'tinggi apapun
jabatan kita.
Janganlah terlalu berlebih-lebihan
membanggakan diri dengan KESOMBONGAN..!!
Sesungguhnya semua itu akan HANCUR kelak termakan cacing dan ulat..!!!
LIHAT-LAH mereka yang lebih dulu terkapar ditanah (kuburan)..!!!
Mereka dulu pernah hidup juga sama seperti kita..!!
Entah itu besok, lusa, atau barangkali
sesaat lagi, tiba saat nya giliran kita
menyusul mereka..!!
GELAR yang kita sandang pun sama,
ALMARHUM juga..!!
Kekayaan, jabatan, kecantikan tak akan lagi bersama kita..
Semua lenyap entah kemana...
Yang ada hanya-lah ulat dan cacing tanah yang menggerogoti tubuh kita...!!!

Astaghfirullah yaa Allah..!
Astaghfirullah yaa kariim...!
Astaghfirullah yaa Rabbi..!

♥♥♥♥

“Yaa Allahu yaa Tuhan ku..
Berilah hati kami petunjuk untuk
menuju kepada-Mu.
Dan beri-lah kami kebaikan di dunia
dan kebaikan di akhirat, serta
selamatkan-lah kami dari siksa Api Neraka..

Allah Subhanahu Wa Ta'aala berfirman:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Kami akan menguji
kamu dengan keburukan dan kebaikan
sebagai cobaan (yang sebenar-benarny a). Dan hanya kepada Kamilah kamu di kembalikan”
(QS. Al-Ambiyaa' : 35)

“Di mana saja kamu berada, kematian
akan mendapatkan kamu, kendatipun
kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”
(QS. An-Nisa : 78)

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulallah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Banyak-banyakl ah kalian
mengingat kejadian yang akan menghancurkan segala kelezatan yaitu Maut (kematian).”
(HR At-Tirmizi & Ibnu Majah)

Aamiin aamiin Yaa Allahu yaa Rabbil'al-amin.
Selasa, 18 Juni 2013 0 komentar

KHUSYU' DALAM SHOLAT

Mengapa Sulit Khusyu' dalam sholat?

1. Memang belum mengenal ALLAH kecuali sebatas Tuhan ...

Belum mengenal Sifat, Af'al & AsmaNYA, Dia yg menciptakan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, aku, tubuhku, mataku, telingaku, jantungku, istriku, anak-anakku, semua yg kulihat, semua yg kudengar, semua yg bergerak, semua yg berada di langit & di bumi.

Semua di hidupkan-NYA "Al Muhyi"; semua akan dimatikanNYA "Al Mumiitu", semua tunduk dalam kehendak "Al Muriidu" & kekuasaanNYA "Al Qodiiru", DIAlah yg mengatur semuanya "Ar Robbu", DIAlah yg mengusai sekaligus memiliki semuanya "Al Maaliku" (QS Ali Imran : 26-27).

Dia Maha Menatap "Al Bashiiru" tahu persis hati, pikiran & lintasan pikiran kita & DIA Maha Mendengar "As Samiiu'" mendengar gesekan daun, langkah semut & rintihan hati hambaNYA,

Lantas sadarkah kita bahwa DIA YANG SEGALA GALANYA yg kita hadapi dalam sholat selama ini?, Bisakah hati & pikiran kita lari saat sholat sementara DIA MENATAP hati pikiran kita? Kalau begitu kok bisa ma'siyat sementara DIA TERUS MENERUS MEMPERHATIKAN kita?

2. Karena belum faham bacaan, makna, hikmah, keutamaan, syarat & rukun sholat ...

Maka jadilah "sukaaro" sholat mabuk alias sholat tanpa rasa, tanpa pemahaman, tanpa penghayatan, tanpa keyaqinan, kosong, hampa, seakan robot jasad tanpa ruh, "alkusaala" malah terasa beban, buru buru pengen cepat selesainya, kebiasaannya menunda nunda waktunya, gerak sholatnya cepat seperti ayam matok.

Surah & bacaan sholatpun komai kamit. Sahabatku, simaklah Kalam ALLAH ini,

"...JANGANLAH KALIAN MENEGAKKAN SHOLAT, SEDANGKAN KALIAN DALAM KEADAAN MABUK, SAMPAI KALIAN BENAR BENAR FAHAM APA APA YANG KALIAN BACA DALAM SHOLAT KALIAN" (QS4:43).

Lihat orang mabuk berkata berbuat tetapi tidak sadar apa yg dikatakan & apa yg diperbuat, lihat orang sholat berdiri, bertakbir, baca ayat, ruku', sujud, tahiyyat & salam, tetapi tidak sadar bahwa ia sedang berdiri, ruku' sujud menghadap PENCINTA LANGIT & BUMI ...tidak sadar bahwa ia sedang berdialog dengan PENCIPTA DIRINYA, YANG MAHA MENENTUKAN SEGALA GALANYA!

3.Karena tidak sadar bahwa sholat itu adalah "Almuhadatsah bainal makhluqi wa Khooliqi" dialog hamba kepada Kholiqnya, ..

"Apabila salah seorang dari kalian sholat, sebenarnya ia sedang berkomukasi dg ALLAH" (HR Bukhori Muslim).

Coba perhatikan dari adzan, panggilan waktu menghadapNYA, yang dipanggilpun yang berSYAHADAT, "Asyhaaduallaa ilaaha illallah wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah", yang tidak beriman tidak dipanggil, karena itulah Rasulullah mengingatkan,

"Yang membedakan kita dengan orang kafir adalah sholat, maka siapa dengan SENGAJA MENINGGALKAN SHOLAT maka sungguh ia sudah BERPERANGAI seperti orang kafir".

Menutup aurat karena memang menghadap-NYA, menghadap qiblat karena memang fokus jasad ruh, hati pikiran kepada-NYA, apalagi berjamaah jadi rapi shof, & seluruh duniapun satu arah qiblat, lalu bersuci krn memang menghadap MAHA SUCI, lalu berdiri tegap, takbir, membaca ifitah "inn wajjahtu wajhiyalilldzi fathoros samaawati wal ardho" hamba datang menghadapMU duhai PENCIPTA LANGIT & bumi, tunduk patuh taat padaMU...

Inilah diantara komunikasi sholat yang. belum difahami, lantas bagaimana khusyu' tanpa kesadaran ini.

4. Karena sedikit kita yang faham bahwa dalam sholat Tatkala membaca Alfatihah terjadi dialog hamba dg RABBnya ...

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Barang siapa membaca surat al-Fatihah, setiap ayat yg dibaca itu langsung dijawab oleh ALLAH",

lalu Rasulullah menyampaikan ketika seorang hamba berkata, ''Segala puji bagi ALLAH, TUHAN seru sekalian alam". ALLAH menjawab, "Hamba-KU telah memuji-KU".

Seorang hamba berkata, ''Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang". ALLAH menjawab, "Hamba-KU memuji-KU".

Seorang hamba berkata, ''RAJA di Hari Pengadilan". ALLAH menjawab, "Hamba-KU mengagungkan Diri-KU. Hamba-KU berserah diri kpd-KU".

Seorang hamba berkata, ''Hanya ENGKAUlah yg kami sembah, hanya kpd-MU kami memohon pertolongan".

ALLAH menjawab, "Inilah pertengahan antara AKU; hamba-KU; bagi hamba-KU apa yg dia minta AKU berikan".

Seorang hamba berkata, ''Tunjukilah kami jalan yg lurus, jalan yg telah ENGKAU anugerahkan kepada mereka, bukan mereka yang kena murka; bukan mereka yang sesat.''

ALLAH menjawab, "Ini milik hamba-KU; bagi hamba-KU apa yg dia minta AKU berikan". (Hadist Qudsi, HR Muslim).

Karena itu sahabatku, mulailah bacanya pelan2 dengan kesadaran dan; keyaqinan "THUMA'NINAH", sungguh ALLAH menjawab stp ayat yg kita baca..."
0 komentar

KEMATIAN

"Takutkah anda mati?", demikian tanya seseorang kepada kawannya.

"Kemana aku pergi bila aku mati?", sang kawan balik bertanya.

"Kepada Tuhan!", jawabnya.

"Aku tak perlu takut, karena aku menyadari bahwa segala sesuatu yg bersumber dari-Nya adalah baik. Dia tidak memberi kecuali yg
baik".

Dalam kehidupannya di dunia, manusia mirip dgn keadaan telur sblm menetas. Kesempurnaan wujud anak ayam adalah dgn
meninggalkan dunianya, dunia telur.

Demikian pula manusia, kesempurnaan kehidupannya hanya dpt
dicapai dgn meninggalkan dunia, dimana ia hidup saat ini.

"Ya Allah, jangan cabut nyawa kami, kecuali Engkau ridho kepada kami..." Aamiin
0 komentar

KISAH PE NJUAL AMPLOP

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas di lihat, barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat.

Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusan plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih.

Astaga, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp 7.500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp 250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu.

Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp 10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis.

Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini : “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka semoga saja perbuatan baik kita dapat berbuah menjadi suatu akibat yang baik pula, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.
0 komentar

SATU JAM TANPA DOSA

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya :

” Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita…? “

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata : ” Tidak, nak… “

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi…

” Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun…?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.

” Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan…?”

Ayahnya tertawa… ” Mungkin tidak bisa juga, nak…”

” OK ayah, ini yang terakhir kali…

Apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja…?”

Akhirnya ayahnya mengangguk. “Kemungkinan besar, bisa nak…”

Anak ini tersenyum lega…

” Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah…
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar… “

Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati. Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini. Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun. Akan menjadikan kita terbiasa…

Dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat. Dan sifat akan berubah jadi karakter.

HIDUPLAH 1 JAM TANPA :
Tanpa kemarahan,
Tanpa hati yang jahat,
Tanpa pikiran negatif,
Tanpa menjelekkan orang,
Tanpa keserakahan,
Tanpa pemborosan,
Tanpa kesombongan,
Tanpa kebohongan,
Tanpa kepalsuan…

Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.. .

HIDUPLAH 1 JAM DENGAN :
Dengan kasih sayang kpd sesama…
Dengan damai,
Dengan kesabaran,
Dengan kelemah lembutan,
Dengan kemurahan hati,
Dengan kerendahan hati..
Dengan ketulusan..
Dan Mulailah dari Jam ini…
0 komentar

ISTANA UMAR BIN KHATTAB

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Dikisahkan pada suatu hari nampak seorang Yahudi dari Mesir baru saja tiba di Pusat Pemerintahan Islam di Madinah, kemudian dia bertanya kepada seorang lelaki : " Dimanakah istana raja negeri ini?".

"Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu," jawab lelaki yang ditanya.

Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.

Namun lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya, sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang di situ ada pohon kurma, tetapi hanya sebatang dan di bawah pohon kurma itu tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah sebatang pohon kurma.

Orang Yahudi itu lalu bertanya : " Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab ".

Lelaki yang ditanya bangkit dan menjawab : " Akulah Umar bin Khattab ".

Orang Yahudi itu terbengong-bengong dan untuk menegaskannya dia bertanya lagi : " Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini ".

" Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini ". kata Umar bin Khattab tidak kalah tegas.

Mulut orang Yahudi itu seakan terkunci dan sangat takjub. Jelas semua itu jauh dari bayangannya dan jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba mewah. Itu baru kelas rahib, apalagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.

Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, masih ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tapi dia tempat istirahatnya hanya dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi.

"Di manakah istana Tuan?" tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.

Khalifah Umar bin Khattab menjawab sambil menunjukkan : " Kalau yang kau maksud kediamanku, maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir."

" Yang itu? Bangunan yang kecil dan kusam itu?". Tanya orang Yahudi itu masih keheranan.

" Ya ! Namun itu bukan istanaku, sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah SWT ".
Orang Yahudi itu tertunduk dan hatinya yang semula panas oleh kemarahannya karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas, kini mencair sudah.

" Tuan, saksikanlah bahwa sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan dan ijinkanlah saya menjadi pemeluk Islam sampai mati ". Kata orang Yahudi itu. Tidak terasa matanya terasa hangat karena membendung air matanya dan akhirrnya satu-persatu tetes air matanya jatuh ... subhanallah
0 komentar

GADIS PENJAGA TOILET

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Mengeluh, dan mengeluh. Selalu ku lakukan atas pekerjaan yang sering menumpuk dan tak kunjung usai. Penat memandang layar monitor dan tak jarang melepas letih dengan bercengkrama dengan kawan by YM.

Facebook? Sudah lama ku tanggalkan sejak fasilitas dari Ping.Fm memudahkanku untuk share status ke beberapa jar-sos sekaligus dalam satu langkah. Terlebih sejak AOL.com memudahkanku membalas komen teman-teman melalui email. Segalanya serba instan memang.

Bahkan di tengah segala fasilitas pekerjaan yang memudahkanku berinteraksi dengan setiap orang di penjuru dunia aku masih saja tetap tak puas, sampai suatu ketika di sore hari rasa lelahku mengantarkan ku pada langkah kaki menuju mushola di lantai dasar basement kantor.

Malas rasanya harus menunggu tarikan lift yang terkesan lambat di jam pulang kantor. Dasar manusia, sudah enak ada lift, tetap saja ada alasan malas untuk menaikinya. Entah setan sedang asik menggelayuti tubuh dan pikiranku, atau aku memang sedang di dera penyakit malas shalat? Naudzu billah ...

Dan disaat itu, Allah ternyata sedang menegurku dan membuka mata bathinku dari rasa malas dan sikap tak bersyukur. Di selasar antara pintu belakang menuju lobi, ada sebuah toilet.

Dan di sanalah ku masuki ruang kecil dengan beberapa sekat dan kaca besar yang memamerkan sepasang westafel di dalamnya seusai shalat ashar.

Dan di dalam sana, ku temukan seorang gadis. Sering aku mendapatinya di lobi gedung. Mengelap kaca lobi sampai mengelap bagian dalam lift. Ia ramah dan mudah tersenyum pada siapapun yang ia temui di lobi.

Dari penampilannya, mungkin usianya sebaya denganku. Dua puluh tahunan. Wajahnya manis, anggun. Kalimat itu yang mungkin bisa melukiskan bagaimana wajahnya. Rambutnya berponi ke samping, dan digulung dalam pita harnet. Seragamnya, warna orange seragam khas office boy and girl pengelola gedung di kawasan Sudirman.

Sekilas, ia tersenyum dan menyapaku. Lucu melihat kekagetanku menatapnya yang sedang jongkok di dalam toilet. Sering memang ku temui ia di toilet itu. Membersihkan westafel atau mengepel serta menyemprotkan pewangi dalam toilet.

Namun baru kutemui pekerjaannya kali ini. Disapunya ruang sekat kecil bernama toilet, kemudian ia berhadapan dengan kloset dalam toilet itu, dilap bersih dengan air sabun setiap bagian-bagian kloset, dan tak lupa diberinya kapur barus di sisi belakangnya.Dibuangnya tissue yang menggunung dalam tempat sampah ke dalam kantong sampah dan diisi lagi tempat tissue yang kosong.

Sedikitpun ia tak merasa malu, tak merasa canggung atas pekerjaan yang ia lakukan. Tak ada raut-raut kecewa dan kata-kata umpatan dalam wajahnya. Ia ikhlas menjalani pekerjaannya. Pekerjaan yang dipandang sebagaian orang sebagai pekerjaan yang memalukan. Merendahkan martabat.

Dan entah apa lagi sebutannya bagi orang-orang para penggila harta dan tahta. Ia hanya berinteraksi dengan para OB dan para security gedung. Ia juga jarang berbincang dengan para pendatang toilet. Ia hanya bergumul dengan teman-temannya sesama pegawai gedung. Sedang aku? Aaah ...

Lama ku terpaku di hadapan cermin besar dalam toilet itu, menyadarkanku .. Bahwa pekerjaan yang ada adalah untuk dijalani sebaik mungkin dan disyukuri. Allah memberikan rezeki untuk kita, bukan untuk disumpah serapahi.

Dan saat itu pula, aku tahu .. Allah sedang menegurku secara halus, agar mampu belajar dari pekerjaan seorang Gadis Penjaga Toilet .. Terima Kasih Ya Allah .. Memberiku segala sesuatu yang layak untuk ku jalani dalam kehidupan. Jadi, sudahkah Anda bersyukur untuk segala yang Anda nikmati hari ini?
0 komentar

KETIKA DIRIKU TELAH MATI

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Ku Merintih, .. Aku Menangis, .. Ku Meratap, .. Aku Mengharap, .. Ku Meminta Dihidupkan Semula, Agar Dapat Kembali Ke Dunia Nyata, ...

Perjalanan Rohku, Melengkapi Sebuah Ke
mbara, .. Singgah Di Rahim Bunda, Sebelum Menjejak Ke Dunia, .. Menanti Di Barzakh, Sebelum Berangkat Ke Mahsyar, .. Diperhitung Amalan, Penentu Syurga Atau Sebaliknya, ...

Tanah Yang Basah Berwarna Merah, .. Semerah Mawar, .. 7 Langkah Pun Baru Berlalu, .. Seusai Talkin Penanda Syahdu, Tenang Dan Damai Di Pusaraku, .. Nisan Batu Menjadi Tugu, Namun Tak Siapa Pun Tahu Resah Penantianku ...

Terbangkitnya Aku Dari Sebuah Kematian, .. Seakan Ku Dengar Tangis Mereka Yang Ku Tinggalkan, .. Kehidupan Disini Bukan Suatu Khayalan Tetapi Ia Sebenar Kejadian ...

Kembali Oh Kembali, .. Kembalilah Kedalam Diri, .. Sendirian Sendiri, .. Sendiri Bertemankan Sepi, Hanya Kain Putih Yang Membaluti Tubuhku,.. Terbujur Dan Kaku, Jasad Terbujur Didalam Keranda Kayu ...

Ajal Yang Datang Dibuka Pintu, .. Tiada Siapa Yang Memberi Tahu, .. Tiada Siapa Pun Dapat Hindari, .. Tiada Siapa Yang Terkecuali, Lemah Jemari Nafas Terhenti, Tidak Tergambar Sakitnya Mati, Cukup sekali Jasadku Untuk Mengulangi, ...

Jantung Berdenyut Kencang, .. Menantikan Malaikat Datang, Mengigil Ketakutan .. Gelap Pekat Dipandangan, Selama Ini Diceritakan Kini Aku Merasakan Dialam Barzakh Jasad Dikebumikan....

Ku Merintih, Aku Menangis,Ku Meratap, Aku Mengharap, Ku Meminta Dihidupkan Semula, .. Agar Dapat Kembali Ke Dunia Nyata ...

0 komentar

SURAT DARI IBLIS LAKNATULLAAH UNTUK MU

Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu...
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu...
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillaah" sebelum memulai santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isya sebelum berangkat ketempat tidurmu..Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukaimu.....Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.

Hai Sayang, Kamu millikku...Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama, dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu....
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allaah......
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allaah...
Dia sudah mencampakkan aku dari surga, dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk membalaskannya.­..Kau lihat, ALLAAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana­untukmu dihari depan....
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku, dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka....
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAAH....
Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani...Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik, makan sekenyang-kenya­ngya, guyon2an jorok, bergosip, manghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua, ,,Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk....
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.Ayolah, Hai Sayang, kita terbakar bersama, selamanya.....

Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita...Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu....
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu...
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.­..Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa...
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.....
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda...
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa...
Yang perlu kau lakukan adalah berzina, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin...
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya....Begitulah anak-anak...Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi...

Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu.Dan hidup untuk Allaah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit....
Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh...
Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu....
Hanya saja kau harus menjadi orang tolol yang lebih baik dimata ALLAAH...

*Catatan : Jika kau benar2 menyayangiku, kau tak akan membagi surat ini dengan siapapun ...
0 komentar

SEORANG TUKANG BAKSO

Di suatu senja sepulang kerja, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, setelah hampir satu jam saya membersihkan dan menyirami tanaman, terdengar suara tukang bakso dorong lewat.

Sambil menyeka keringat, saya panggil tukang bakso itu dan saya memesan beberapa mangkok bakso, setelah saya tanya anak-anak juga pada mau makan bakso.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya, ada satu hal yang menggelitik fikiran saya selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya, dimana yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet dan yang lainnya disimpan di kaleng bekas kue semacam kencleng, atas rasa penasaran lalu saya bertanya :

"Mas kalau boleh tahu, kenapa uang-uang itu Mas pisahkan, barangkali ada maksud dan tujuan ?", kata saya.

Tukang bakso menjawab : "Iya Pak, selama 17 tahun saya menjadi tukang bakso, setiap hari saya selalu memisahkannya, ya tujuannya sederhana saja, saya hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain atau tempat ibadah dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman ".

Mendengar jawaban seorang tukang bakso itu saya benar-benar terkejut dan saya melanjutkan bertanya.

"Maksudnya Mas .. .?",

Sambil bersandar di tembok pagar rumah saya tukang bakso itu menjawab : "Iya Pak, kan agama dan Allah menganjurkan Kita agar bisa berbagi dengan sesama, dan saya membagi 3, dengan pembagian :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari saya dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban, dan Alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam dan Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji dan ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar maka saya berunding dengan istri dan istri menyetujui bahwa disetiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, saya harus menyisihkan
sebagian penghasilan sebagai tabungan haji, dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan Ibadah haji.

Terus terang sedikitpun saya tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari seorang tukang bakso, hati saya benar-benar sangat tersentak juga tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki Pikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu dan seringkali berlindung di balik kata tidak mampu atau belum ada rezeki.

Sahabat ....

Terus saya melanjutkan pertanyaan :

"Iya memang itu bagus Mas, tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya .....". kata saya.

Tukang bakso menjawab : "Itulah sebabnya Pak, saya justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini, karena definisi mampu itu bukan hak Pak RT atau Pak RW, bukan hak Pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuah Definisi dimana Kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri, kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu, sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya, Allah akan memberi kemampuan pada Kita".

Subhanallah, betapa mulianya tukang bakso ini, sama sekali saya tidak menyangka akan mendengar sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso, yang tentunya patut kita semua contoh.
0 komentar

Siapkan Dirimu Untuk Kehidupan Yang Kekal Setelah Kau Hidup Di Dunia.....

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

بسم الله الرحمن الرحيم
"Dengan Menyebut Nama Allah 
Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang" 


Saudara-saudaraku se iman...Seiring berkembangya jaman yang semakin modern, dunia yang semakin gemerlap dengan segala hiburan, perhiasan, budaya, dan segala hal duniawi lainnya yang semakin tidak terkontrol, telah banyak manusia yang lalai dan berada dalam kesesatan. Hati manusia telah benar-benar tertutup untuk urusan akhirat yang kekal, bertemu dengan Rabb-Nya, sang Maha Pencipta yang menciptakan seluruh makhluk, serta surgan yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. 
Dalam benak manusia sekarang, hanyalah dunia yang ada dalam hatinya, sibuk kerja mencari uang, sibuk mengurus jabatannya, dan segala kesibukan lainnya untuk urusan dunia. Solat, berdzikir, atau bahkan bersedekah hanyalah sebuah syarat atau sekedar formalitas sebagai umat islam. Tetapi bukan lagi ibadah atas karena Allah. 
Sungguh benar-benar hal yang menyedihkan, ketika diri kita meletakkan urusan dunia diatas urusan akhirat. Bukankah Allah telah berfirman :
""Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (Allah) dan mereka berasa puas dengan kehidupan dunia serta (berasa) tenteram dengannya, dan orang yang lalai daripada ayat-ayat Kami (Allah).  Mereka itu, tempat kembali mereka ialah neraka, disebabkan apa yang mereka usahakan." Surat Yunus Ayat 7 dan 8

Tidak ada keraguan sedikitpun tentang apa yang telah difirmankan oleh Allah dalam Al Quran...Maka hendaklah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing untuk apa kita hidup didunia?? Apakah tujuan akhir setelah kita hidup di dunia?? dst....

Perbanyaklah Istigfar karena kita telah banyak lalai kepada Sang Khalik yang telah menciptakan kita....

Istigfar dan istigfar........


 
 
;