Bismillahir-Rahmaanir-Rahim
... Ada sebuah pesan menarik dari seorang ulama salaf : "Berusahalah
agar kalian lebih dikenal oleh para penghuni langit, walau tak
seorangpun penduduk bumi yang mengenal kalian."
Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebut tipe manusia seperti ini dengan
sebutan Al Akhfiya': Manusia-Manusia Tersembunyi. Beliau juga mengatakan Allah Azza wa Jalla sangat mencintai manusia tipe ini.
Mereka tidak pernah peduli apa kata manusia tentang mereka, yang
penting adalah apa kata Allah tentang mereka. Itulah sebabnya, mereka
tidak pernah mengalami kegilaan akan kemahsyuran.
Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka ...
Ia hidup di masa tabi'in. Namun hingga hari ini tak satu buku
sejarahpun yang dapat menyingkap identitas pria ini. Satu-satunya
informasi tentangnya hanyalah bahwa ia seorang berkulit hitam dan
bekerja sebagai tukang sepatu!
Shahibul hikayat adalah seorang tabi'in bernama Muhammad ibn- al-Munkadir-rahimahullah-.
Malam itu sudah terlalu malam dan gelap. Namun walaupun malam, udara
terasa lebih panas dari biasanya. Tidak aneh memang, sebab hari-hari itu
adalah hari-hari kemarau panjang di kota itu.
Sudah setahun
ini kota Madinah tidak pernah mendapatkan curahan air dari langit. Entah
telah berapa kali penduduk kota itu berkumpul untuk melakukan shalat
istisqa' demi meminta hujan. Namun hingga malam itu, tak setetes
hujanpun yang turun menghampiri mereka.
Dan malam itu, seperti
kebiasaannya bila sepertiga akhir malam menjelang, Muhammad ibn
al-Munkadir meninggalkan rumahnya dan bergegas ke Masjid Rasulullah.
Usai mengerjakan shalatnya malam itu, Ibn al-Munkadir bersandar ke salah
satu tiang masjid.
Tiba-tiba ia melihat sebuah sosok bergerak tidak jauh dari tempatnya bersandar. Ia mencoba untuk mengetahui siapa sosok itu.
Agak sulit sebab malam telah begitu gelap. Dengan agak susah payah ia
melihat seorang pria berkulit hitam agak kecoklatan. Tapi ia sama sekali
tidak mengenalnya. Pria itu membentangkan sebuah kain di lantai masjid
itu. Dan pria itu sepertinya benar-benar merasa hanya ia sendiri dalam
masjid itu. Ia tidak menyadari kehadiran ibn al-Munkadir tidak jauh dari
tempatnya berdiri.
Ia berdiri mengerjakan shalat dua raka'at.
Usai itu, ia duduk bersimpuh. Begitu khusyu' ia bermunajat. Dan dalam
munajat itu, ia mengatakan, "Duhai Tuhanku, penduduk negeri Haram-Mu ini
telah bermunajat dan memohon hujan pada-Mu namun Engkau tidak kunjung
mengaruniakannya pada mereka. Duhai Tuhanku, sungguh aku mohon pada-Mu
curahkanlah hujan itu untuk mereka."
Ibn al-Munkadir yang
mendengar munajat itu agak sedikit mencibir. "Dia pikir dirinya siapa
mengatakan seperti itu," katanya dalam hati. "Orang-orang shaleh
seantero Madinah telah keluar untuk berdoa meminta hujan, namun tak
kunjung dikabulkan. Lalu tiba-tiba, orang ini ingin berdoa pula..."
gumamnya.
Namun sungguh di luar dugaan , belum lagi pria hitam
itu menurunkan kedua tangannya, tiba-tiba saja suara guntur bergemuruh
dari langit. Tetesan-tetesan air hujan menetes ke bumi. Sudah lama tidak
begitu. Tak terkira betapa gembiranya pria itu. Segala pujian dan
sanjungan ia ucapkan kepada Allah Ta'ala.
Namun tidak lama
kemudian ia berkata dengan penuh ketawadhu'an, "Duhai Tuhanku, siapakah
aku ini? Siapakah gerangan aku ini hingga Engkau berkenan mengabulkan
doaku?."
Ibn al-Munkadir hanya tertegun di tempatnya memandang
pria itu. Tidak lama sesudah itu, pria tersebut bangkit kembali dan
melanjutkan raka'at-raka'atnya. Hingga ketika saat subuh menjelang,
sebelum kaum muslimin lainnya berdatangan, ia segera menyelesaikan
witirnya.
Dan ketika shalat subuh ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seolah-olah ia baru saja tiba di masjid itu.
Usai mengerjakan shalat subuh, pria itu bergegas keluar meninggalkan
masjid Rasulullah. Jalan-jalan kota Madinah subuh itu digenangi air.
Pria itu berjalan cepat sambil mengangkat kain bajunya. Menghilang...
Ibn al-Munkadir yang berusaha mengikutinya kehilangan jejak. Ia
benar-benar tidak tahu kemana pria hitam itu pergi.
Dan malam
kembali merangkak semakin jauh. Malam ini, Muhammad ibn al-Munkadir
kembali mendatangi masjid Nabawi. Dan seperti malam kemarin, ia kembali
melihat pria hitam itu. Persis seperti kemarin.
Ia mengerjakan
shalat malamnya hingga subuh menjelang. Dan ketika shalat ditegakkan, ia
masuk ke dalam shaf seperti orang yang baru saja tiba di masjid itu.
Dan ibn al-Munkadir mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu siapa
sebenarnya pria itu. Pria itu menuju ke sebuah lorong dan setibanya di
depan sebuah rumah ia masuk kedalamnya. "Hmm, rupanya di situ pria ini
tinggal. Baiklah sebentar aku akan mengunjunginya."
Matahari
telah naik sepenggalan. Usai menyelesaikan shalat Dhuha-nya, ibn
al-Munkadir pun bergegas mendatangi rumah pria itu. Ternyata ia sedang
sibuk mengerjakan sebuah sepatu.
Begitu ia melihat ibn
al-Munkadir, ia segera mengenalinya. "Marhaban wahai Abu 'Abdullah,
begitulah ibn al-Munkadir dipanggil! Adakah yang bisa kubantu? Mungkin
engkau ingin memesan sebuah alas kaki?" ujar pria itu menyambut
kedatangan ibn al-Munkadir.
Namun ibn al-Munkadir justru menanyakan hal yang lain. "Bukankah engkau yang bersamaku di masjid kemarin malam itu?".
Dan tanpa diduga, wajah pria itu nampak sangat marah. Dengan nada suara
yang tinggi ia berkata, "Apa urusanmu dengan itu semua, wahai ibn
al-Munkadir???!.
Ini adalah malam ketiga sejak peristiwa itu.
Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu ibn al-Munkadir berjalan
menuju masjid Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Satu hal yang
agak berbeda malam itu. Di hatinya ada harapan yang kuat untuk melihat
pria tukang sepatu itu.
Setibanya di masjid dan mengerjakan
shalat seperti biasanya, ia bersandar sambil berharap pria itu kembali
terlihat di depan matanya.
Namun malam semakin malam, namun
pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung kelihatan. Ibn al-Munkadir
tersadar. Ia telah melakukan suatu kesalahan. "Inna lillah! Apakah yang
telah kulakukan???" itulah gumamnya saat menyadari kesalahan itu.
Dan usai shalat subuh, ia segera meninggalkan masjid itu dan mendatangi
rumah sang tukang sepatu. Namun yang ditemukan hanya pintu rumah yang
terbuka dan tidak ada lagi pria itu. Penghuni rumah itu berkata, "Wahai
Abu Abdullah! Apa yang telah terjadi antara engkau dengan dia?".
"Apa yang telah terjadi?" tanya ibn al-Munakdir. Ketika engkau keluar
dari sini kemarin itu, ia segera mengumpulkan semua barangnya hingga
tidak satu pun yang tersisa. Lalu ia pergi dan kami tidak tahu kemana ia
pergi hingga kini, jelas penghuni rumah itu.
Dan sejak hari
itu, ibn al-Munkadir mengelilingi semua rumah yang ia ketahui di kota
Madinah. Namun sia-sia belaka. Pencariannya tidak pernah membuahkan
hasil.
Dan hingga kini di abad 14 Hijriyah ini, kita pun tidak
pernah tahu siapa pria tukang sepatu itu. Jejak-jejaknya yang terhapus
oleh hembusan angin sejarah seolah bergumam, "Biarlah, Hanya Allah Yang
Mengenalku ..."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar