Sabtu, 16 November 2013 0 komentar

Agar Hidup Terasa Nikmat dan Bahagia

“Kuatnya keinginan-keinginan manusia itu tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah” (al-Hikam : 3)

“Istirahatkanlah dirimu dari mengatur yang akan terjadi dalam dalam hidup, karena segala sesuatu yang Allah telah menanggungnya darimu, kamu jangan mengerjakannya untuk dirimu sendiri” (al-Hikam : 4)

Semoga Allah swt membimbing dan menolong kita untuk bisa menghadapi dan menikmati dengan baik setiap keadaan yang terjadi dalam hidup ini, tidak terlalu gembira di saat keinginan berhasil dicapai atau tidak menderita dan putus asa di saat keinginan belum berhasil menjadi nyata.

Seorang mukmin meyakini bahwa di dalam hidup ini ada ada 2 kehendak, yaitu kehendak Allah dan kehendak makhluk. Kehendak atau ketetapan Allah pasti akan terjadi, sedangkan kehendak makhluk mungkin bisa terjadi, namun mungkin juga tidak. ”Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti terlaksana” (Qs. 33 al-Ahzab : 38).
Sebagai makhluk Allah dan hamba-Nya, keinginan atau cita-cita manusia hanya akan tercapai jika ia bersesuaian dengan kehendak dan takdir Allah. Jika keinginan manusia berlainan dengan kehendak Allah, maka sekuat apapun keinginannya dan sekeras apapun usahanya, ia tidak akan terealisasi. Oleh karena itu, Imam Ibnu Atha’illah as-Sakandari di dalam Kitab al-Hikam mengingatkan kepada kita, “Kuatnya keinginan-keinginan manusia itu tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”.  (al-Hikam : 3)


Rasa kesal, sedih, kecewa, tidak bahagia dan putus asa yang sering muncul pada diri kita di saat keinginan belum berhasil diraih, itu disebabkan kita lupa diri, bahwa kita adalah makhluk Allah yang hidupnya pasti berada di dalam garis “Takdir Allah” yang telah ditetapkan-Nya. Kita hanya mampu berkeinginan, berencana dan berusaha, sedangkan apa yang akan terjadi, tercapai atau tidak, berhasil atau gagal, yang berkuasa menentukan bukan kita, tetapi Allah Azza Wa Jalla. Dan hal itu hakikatnya sudah tertulis di dalam ketetapan Takdir Allah. Bahkan Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan Hadits Rasulullah saw yang menyatakan bahwa di saat janin berusia 4 bulan di rahim ibunya, bersamaan  dengan ditiupkannya ruh, Allah telah menuliskan pula ketetapan takdir-Nya atas kehidupan seorang manusia.
Meskipun takdir telah ditetapkan oleh Allah, namun tidak ada manusia yang mengetahui rincian takdir hidupnya. “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. 31 Luqman : 34). Oleh karena itu, tentang apa yang akan terjadi di dalam hidup, itu wewenang dan urusan Allah, bukan wewenang dan urusan kita. Kita tidak tidak diperintahkan untuk menyibukkan dan menyusahkan diri memikirkan, mengatur atau melakukan sesuatu yang sudah diatur dan dilakukan oleh Allah untuk kita. Inilah makanya, Imam Ibnu Atha’illah memberi nasihat kepada kita, “Istirahatkan dirimu dari mengatur yang akan terjadi dalam dalam hidup, karena segala sesuatu yang Allah  telah menanggungnya darimu, kamu jangan mengerjakannya untuk dirimu sendiri” (al-Hikam : 4).

Oleh karenanya, agar hidup ini menjadi ibadah, terasa nikmat dan bahagia, diantara langkah yang harus kita tempuh adalah:
Pertama, kosongkan hati dan akal pikiran kita dari beban mengatur apa yang akan terjadi dalam hidup ini. Kita serahkan sepenuhnya beban ini kepada Allah. Kita menyadari bahwa apa yang akan terjadi di dalam hidup ini sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Qadha’ dan Qadar-Nya. Kita juga meyakini bahwa yang Allah tentukan untuk kita adalah yang terbaik. “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. 2 Al-Baqarah : 216). Yang harus kita lakukan adalah menyiapkan diri menghadapi kenyataan, segera menyambutnya dengan syukur apabila yang datang nikmat, atau segera menyambutnya dengan sabar jika ia adalah musibah. Syukur akan mendatangkan tambahan nikmat, sedangkan sabar adalah jalan memperoleh pahala tak terbatas. “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (Qs.14. Ibrahim : 7).
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Qs.39. az-Zumar : 10). Inilah diantara keajaiban orang beriman. Jika mendapat luasnya nikmat ia bersyukur, itu adalah kebaikan. Jika tertimpa himpitan  musibah ia bersabar, itu adalah kebaikan. Tidak ada keajaiban ini kecuali bagi seorang yang beriman.
Kedua, fokuskan hati, akal dan seluruh anggota badan kita untuk memperhatikan, memikirkan dan melaksanakan kewajiban kita beribadah kepada Allah, beramal shalih, da’wah, jihad fi sabilillah, serta kerja di bidang usaha yang dibenarkan oleh hukum syari’ah-Nya. Pada permulaannya kita membuat rencana yang sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Di saat pelaksanaan kita kerahkan seluruh daya dan upaya disertai do’a yang tiada putus-putusnya. Namun pada akhirnya, apa yang akan terjadi ketentuannya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Kita bersyukur kepada Allah, tidak terlalu gembira dan bangga diri  jika berhasil. Kita tidak menderita dan putus asa jika masih belum sukses. Bahkan kita tetap merasa bahagia atas amal dan usaha yang kita telah lakukan, apapun hasilnya, karena yang Allah nilai dari kita adalah amal dan usahanya, bukan hasilnya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya,  dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (Qs.2. al-Baqarah : 286). Oleh karena itu kita tidak akan pernah berhenti beribadah, beramal dan berusaha, sampai akhirnya kita menghadap Allah Azza Wa Jalla.
Hidup yang terasa nikmat dan bahagia ini adalah buah dari iman yang benar kepada Qadha’ dan Qadar Allah swt. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Qs. 57. al-Hadiid : 22-23).
0 komentar

Rezeki Semua Makhluk Sudah Diatur Allah Swt

Pada suatu hari Nabi Sulaiman a.s. duduk di pinggir danau.
Lalu tiba-tiba Beliau melihat seekor semut membawa sebiji gandum yang dibawanya menuju danau.
Nabi Sulaiman a.s. terus memperhatikan semut itu hingga sampai di tepi danau,
Lalu tiba-tiba ada seekor katak yang mengeluarkan kepalanya dari dalam air seraya membuka mulutnya,
Maka semut itu pun masuk ke dalam mulut katak itu.
Kemudian, katak itu pun menyelam ke dasar danau dalam waktu yang cukup lama.
Sementara Nabi Sulaiman a.s. memikirkan hal itu dengan terheran-heran.
Setelah itu, katak tersebut keluar dari dalam air dan membuka mulutnya.
Lalu semut itu keluar, sementara sebiji gandum yang dibawanya sudah tidak ada lagi bersamanya.

Nabi Sulaiman a.s. memanggil semut itu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan barusan,
”Hai semut, pengalaman apa sajakah selama berada di mulut katak?”

Semut itu menjawab, ”Wahai Nabiyullah, sesengguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga, dan di dalam cekukngan batu itu terdapat seekor cacing yang buta.
Yang Allah SWT telah menciptakannya di sana.
Cacing tersebut tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya.
Dan sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya.”

Lanjut semut, ”Oleh karena itu, aku membawakan rezekinya, dan Allah SWT telah menguasakan kepadaku sehingga katak ini membawaku kepadanya.
Maka air ini tidaklah membahayakan bagiku.
Sesampai di batu itu, katak ini meletakkan mulutnya di rongga batu itu, lalu aku pun dapat masuk ke dalamnya.
Kemudian selesai aku menyampaikan rezeki kepada cacing itu,
maka aku keluar dari rongga batu kembali ke mulut katak ini.
Lalu katak ini mengembalikan aku di tepi danau.”

Nabi Sulaiman a.s. kemudian bertanya, ”Apakah kamu mendengar suara tasbih cacing itu?”

Semut itu menjawab, ”Ya nabiyullah, cacing itu mengucapkan,
’Ya man la yansani fi jaufi hadzihil bi rizqika, la tansa ’ibadakal mu’minina bi rahmatik"
(Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu)’.”

Allah Ta'ala berfirman, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)." (QS Huud 11:6)
0 komentar

Bila Hidup diatur oleh Allah

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2: 115)

Tidak banyak di antara kita yang sanggup bersungguh-sungguh menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Dzat yang Maha Mengurus makhluk-makhluknya. Jantung yang berdetak teratur. Darah yang dipompakan dan dialirkan ke seluruh tubuh. Kedip mata, yang kadang kita sendiri tak menyadarinya. Bisakah kita mengaturnya walau barang sedetik?

Lalu, kaki pun dilangkahkan di pagi buta menuju suatu tempat. Kadang-kadang terburu-buru dan berharap tiba lebih cepat sampai di tujuan. Tiba dijalan kebetulan sebuah kendaraan mobil melintas di hadapan. Tanpa di stop, mobil itu ternyata berhenti sendiri. Kebetulan ternyata pengemudinya seorang teman akrab. Kebetulan pula tempat yang ditujunya sama. Namun, betulkah semua itu sekadar faktor “kebetulan” belaka?

Terjadinya sering merasakan serba “kebetulan”, ini pun satu bukti mengenai keterbatasan kita dalam memahami hakikat suatu kejadian. Padahal, Allah-lah yang mengurus makhluk-makhluk-Nya dan Dia pula yang menetapkan segala kejadian sekecil apapun. Tiada sehelai rambut yang terlepas dari kulit kepala atau selembar daun yang gugur ketanah, kecuali terjadinya dengan ijin Allah. Adakah dengan begitu suatu kejadian terjadi secara kebetulan? Masya Allah, Dia-lah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Sekai-kali tak ada satu kekuatan pun yang mampu mengatur suatu kejadian, selain karena ijin-Nya!

Subhanallah, mudah-mudahan Allah yang Maha Perkasa membukakan bagi kita pintu hikmah-Nya agar kita mampu memetik “ilmu” dibalik segala kejadian. Suatu “ilmu” yang dapat menjadi jalan bagi kita agar semakin mengenal-Nya. Akan dituturkan dua kejadian yang sepintas tampak sepele, tetapi demi Allah, di sinilah terbuktikan kemahabesaran Dia yang dengan amat mengesankan telah mengatur suatu kejadian, yang justru sepintas tampak seperti serba “kebetulan”.

Kejadian pertama, ketika sebuah keluarga tengah melakukan perjalanan pulang ke suatu kota dengan kendaraan pribadi. Salah seorangnya adalah ibu yang tampak sudah renta dan uzur, sehingga perlu perlakuan khusus.

Di tengah perjalanan, masuk waktu shalat. Dicarilah masjid yang berandanya teduh agar ibu tersebut bisa istirahat sementara dengan nyaman. Setelah melewati beberapa masjid, maka ditemukanlah sebuah masjid dengan beranda yang teduh.

Ketika mobil hendak diparkirkan, ternyata sulit mendapat tempat parkir yang cukup. Mobil pun terus dilajukan pelan-pelan, sampai akhirnya mentok di sebuah pelataran. Ternyata pelataran tersebut letaknya dekat sekali dengan tempat wudhu. Akan tetapi, ibu yang sudah uzur itu kan juga mungkin perlu ke kamar kecil dan berwudhu? Masya Allah, bukankah tempat wudhu tersebut ternyata khusus untuk wanita? Muncul pula persoalan lain, yakni perlu kursi untuk duduk karena memang si ibu sudah tak kuat berdiri. Namun, subhanallah, ternyata kursi yang dibutuhkan itu memang sudah ada pula dekat tempat wudhu tersebut.

Semua seperti terjadi secara kebetulan. Segalanya seperti sudah ada orang yang mengatur dan menyiapkannya. Padahal, Allah-lah yang memang Maha Mampu menyiapkan segala-galanya. Sekiranya kita pela menangkap momen-momen kejadian ini dengan hati yang penuh cahaya iman, niscaya akan semakin mampu mengagumi Kemahaperkasaan-Nya dan menangkap hikmah (pelajaran) di balik segala kejadian.

Kejadian kedua menimpa seorang mubaligh yang juga tengah melakukan perjalanan malam hari menuju Jakarta dengan diantar beberapa orang di dalam kendaraannya. Mobil meluncur masuk jalan tol jagorawi. Namun, di tengah perjalanan, mesin mobil tiba-tiba mati karena kehabisan bensin. Kehabisan bensin di tengah jalan tol di malam hari yang gelap gulita. Jauh ke sana ke mari, adakah yang bisa diperbuat, selain bertumpuk kekesalan, kedongkolan dan kekecewaan?

Mengapa persiapannya tidak disempurnakan? Mengapa sebelum berangkat tadi tidak membeli bensin yang cukup? Mengapa sampai berbuat lalai, padahal Allah telah mengajari manusia supaya peka dan senantiasa berhati-hati? Dan sejumlah pertanyaan “Mengapa” yang lain pun meluncur dari mulut?

Tetapi, sudahlah. Toh kejadiannya sudah terjadi. Maka, persenelling pun di-prei-kan dan kopling pun diinjak. “Biarlah Allah yang menghentikan kendaraan ini ditempat yang Dia sukai. Kita taubat dan berdzikir saja. Kita tak perlu lagi terus-menerus mengeluh,” ujarnya. Akhirnya mobil itupun melaju perlahan dan semakin perlahan, sehingga berhenti sendiri di pinggir jalan.

Tak lama setelah kejadian itu, tiba-tiba dirasakan ingin buang air kecil. Mubaligh itupun turunlah dari mobil dan berjalan mencari tempat yang agak terlindung. Akan tetapi, ternyata dari arah jalan cahaya lampu-lampu kendaraan yang berseliweran cepat di jalan tol masih menyorot kearahnya, sehingga ia pun terus berjalan sampai mendekati pagar kawat pembatas.

Sepintas ia melihat ternyata di bagian tertentu dari pagar yang dihampirinya ada bolong besar seperti sengaja dibuat orang untuk dapat dilalui. Dan ketika ia lebih cermat lagi mengamatinya, ternyata di dekatnya ada plang dengan tulisan sederhana berbunyi: “Di sini jual bensin dua tax”. Allahu Akbar!

Memang Allah Maha Pengatur kejadian yang Maha Sempurna. Betapa lezatnya jika kita mampu menangkap isyarat-Nya bahwa segala kejadian yang tampaknya serba kebetulan itu sebenarnya sudah diatur oleh Allah. Kita saja yang kerapkali tidak peka membaca aneka lintasan kejadian yang memang telah begitu pas dan rapi diatur oleh Allah SWT. Akibatnya, kalbu (hati) ini hampir tidak pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya merasakan hikmah (pelajaran) di balik segala fenomena yang terjadi.

Tampaknya dalam mengarungi kehidupan ini kita harus sungguh-sungguh minta di atur oleh Allah. Boleh saja kita sibuk merencanakan sesuatu dengan baik. Otak seratus persen kita gunakan untuk mengatur taktik dan strategi sesuai dengan syari’at yang kita ketahui. Tubuh pun sibuk berikhtiar, berkuah peluh simbah keringat, semampu yang bisa kita lakukan. Akan tetapi, keyakinan hati tetap pada satu hal, yakni biarlah Allah mengatur segala urusan kita. Karena, Dialah yang Maha Tahu hal yang terbaik dan yang terburuk menurut perhitungan-Nya.

Inginkah kita termasuk orang yang memiliki kalbu (hati) yang peka, lezat menikmati episode demi episode kejadian dalam hidup ini, dan yakin seyakin-yakinnya bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sudah diatur oleh Allah? Kuncinya ternyata sederhana saja. Yakni, akuilah bahwa diri kita ini tak lebih dan tak kurang hanya seorang hamba, yang sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Dia, Dzat Pemilik Jagat raya alam semesta ini. Ah, siapalah kita ini. Hanya sesosok makhluk yang tiada memiliki daya dan upaya, tanpa ijin dan kehendak-Nya.

Tak heran kalau Imam Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, berujar, “Buktikanlah dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan Kemahasempurnaan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemulyaan-Nya. Akuilah kekurangannmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Dan akuilah kelemahanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuatan-Nya.”

Sungguh betapa sangat indahnya bila hidup dan segala aktifitas kita diatur oleh-Nya. []
0 komentar

Mengambil Hikmah pesan perjalanan Nabi Khidir

Dikisahkan suatu ketika Nabi khidir melakukan perjalanan bersama para pengikutnya, beliau menyampaikan pesan kepada para pengikutnya (kaumnya), bahwa esok hari kita akan melakukan perjalanan panjang untuk bertamasya ke sebuah Goa, namun Nabi khidir mengatakan kepada para pengikutnya bahwa semua pengikutnya boleh mengambil segala sesuatu yang terdapat didalam goa tersebut serta dibolehkan pula bila tidak mengambilnya.. ujar khidir.

Namun bagi siapapun yang mengambilnya maupun yang tidak mengambilnya kalian semuanya kelak akan menyesal. “Ujar khidir kepada para pengikutnya”. Para pengikut (kaum) nabi khidir pun menjadi bingung, heran dan langsung bertanya-tanya kepada Nabi khidir maksud dari makna ucapan tersebut. Namun Nabi khidir hanya berujar: Tunggulah jawabannya esok hari setelah kita keluar melakukan perjalanan pulang dari goa.

Akhirnya esok hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, nabi khidir beserta para pengikutnya pun pergi melakukan perjalanan yang panjang menuju go’a. Setelah semua pengikut masuk dan menjelang tiba di mulut go’a. Nabi khidir kembali mengingatkan kepada para pengikutnya terhadap apa yang diucapkan di hari sebelumnya dan perjalanan menelusuri goa yang gelap serta hampa tersebut dilanjutkan hingga setelah usai melakukan perjalanan dan keluar dari goa.

Nabi khidir berujar kepada kaumnya agar siapapun yang selama dalam perjalanan di dalam goa telah mengambil segala sesuatu benda yang berada didalam goa tersebut agar menunjukkannya ke Nabi Khidir, ternyata sebagian pengikut nabi khidir yang mengambil benda di dalam goa yang semula diperkirakan hanya berupa batu kerikil kecil itu ternyata merupakan sebuah perhiasan emas. Sontak sebagian pengikut nabi yang telah mengambil benda tersebut kecewa sekali dikarenakan tidak mengambil lebih banyak.
Sementara, sebaliknya para pengikut nabi khidir yang seketika melihat benda yang dibawa pengikut lainnya tersebut, namun tidak mengambil benda yang terdapat didalam goa tersebut tidak kalah lebih kecewa.

Hingga akhirnya saat tersebutlah “Nabi khidir akhirnya berujar kepada kaum(pengikut) nya”: bahwa kelak semua umat manusia di muka bumi (dunia) ini akan menyesal, baik yang beriman maupun yang tidak beriman kepada Allah SWT.

 Hal ini dikarenakan bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Alloh, semuanya merasakan sangat kurang amal-amal kebaikan yang telah dilakukannya di dunia ini, baik itu amal ibadah maupun amal kebaikan lainnya yang telah diperbuat selama didunia ini, sedangkan bagi orang yang tidak beriman lebih sangat menyesal lagi, dikarenakan selama ia hidup, penglihatannya, pendengaran, akal,serta ilmu yang dimilikinya tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT, beriman dan taat kepada Allah SWT.
0 komentar

Pertanyaan Aneh di Ujian Akhir

Ini kisah tentang salah seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliah semester akhir di sebuah Universitas Negeri. Sebut saja namanya Adam, dia mengambil jurusan disebuah fakultas yang cukup favorit, yaitu Fakultas Kedokteran. Menurut keyakinannya, fakultas inilah yang dapat membuat hidupnya lebih baik di masa mendatang. Bukan kehidupan yang hanya baik untuknya, tetapi juga untuk keluarganya yang telah berusaha susah payah mengumpulkan uang, agar ia dapat meneruskan dan lulus dari kuliahnya dengan baik.

Kakaknya perempuannya pun rela untuk tidak menikah tahun ini, karena harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya laboratorium serta praktikum yang cukup tinggi untuk Adam.

Kini tiba saatnya Adam harus mengikuti ujian semester akhir, mata kuliah yang diberikan oleh dosennya cukup unik. Saat itu sang dosen ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan, dengan alasan agar sang dosen bisa dekat dengan mahasiswa.

Satu per satu pertanyaan pun dia lontarkan, para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu mungkin dalam kertas ujian mereka.


Ketakutan dan ketegangan Adam saat ujian terjawab saat itu, pasalnya 9 pertanyaan yang dilontarkan oleh sang dosen lumayan mudah untuk dijawab olehnya. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar ia tuliskan di lembar jawabannya.

Hingga sampailah pada pertanyaan ke-10.“Ini pertanyaan terakhir.” kata dosen itu.

“Coba tuliskan nama bapak tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung Jurusan ini !” kata sang dosen sambil menggerakkan tangannya menunjuk keseluruh ruangan kuliah.

Mendengar perkataan sang dosen seperti itu, sontak saja mahasiswa seisi ruangan pun tersenyum dan tertawa kecil. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, jelas pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini, pikir Adam dalam benaknya.

“Ini serius !” kata sang dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang ! ”. lanjutnya mengingatkan.

Adam tahu persis siapa orang yang ditanyakan oleh dosennya itu. Dia adalah seorang bapak tua, orangnya agak pendek, rambut putih karena beruban. Dan ia juga mungkin satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran tempat Adam kuliah. Bapak tua itu selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswi di sana. Ia senantiasa menundukkan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong. Tapi satu hal yang membuat Adam merasa konyol, justru ia tidak hafal nama bapak tua tersebut !!! Dan dengan terpaksa ia memberi jawaban ‘kosong’ pada pertanyaan ke-10 ini. Ujian pun berakhir, satu per satu lembar jawaban pun dikumpulkan ke tangan dosen.

Sambil menyodorkan kertas jawaban, Adam mencoba memberanikan diri bertanya kepada dosennya kenapa ia memberi ‘pertanyaan aneh’ itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini ?.

“Justru ini adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini” kata sang dosen.

Mendengar jawaban sang dosen, beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu berbicara. “Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, jika Anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai Anda hanya C atau D,” ungkap sang dosen.

Semua berdecak, Adam pun bertanya kepadanya lagi, “Kenapa Pak ? Kan soal nomor 10 ini tidak ada hubungannya dengan pelajaran kita?” Jawab sang dosen itu sambil tersenyum, “Siapa bilang tidak ada hubungannya, hanya yang peduli pada orang-orang di sekitarnya saja yang pantas jadi dokter. Kalau seorang dokter tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia bisa menolong dan berguna bagi orang banyak?” Lalu sang sang dosen pergi membawa tumpukan kertas jawaban ujian itu sambil meninggalkan para mahasiswa dengan wajah yang masih tertegun.

Dari kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kita harus peduli dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Peduli merupakan langkah awal untuk menjadi pemberi manfaat bagi orang lain serta penyelesai masalah di masyarakat. Dan peduli, sudah seharusnya menjadi milik semua orang, bukan hanya dokter. Jadi, soal ujian nomor ke-10 di atas, kiranya juga menjadi soal ujian untuk kita semua. Maka seberapa pedulikah kita? sehingga mampu menjawab persoalan-persoalan yang ada disekitar kita. Semoga cerita di atas menjadi hikmah untuk kita
1 komentar

REZEKI SELURUH MAHLUK SUDAH DI JAMIN ALLAH.

Seseorang mengeluh kepada Ibrahim bin Adham tentang anaknya yang banyak. Sang Sufi agung ini menjawab, “Wahai saudaraku, jika setiap yang ada di rumahmu terdapat orang yang rezekinya bukan dari Allah, pindahkan dia ke rumahk.” Rasulullah SAW bersabda, “Berusahalah untuk memperbanyak keturunan, karena kalian tidak tahu dari anak yang mana kamu mendapatkan rezeki.“ Sehingga Umar bin Khattab RA berkata, “Sesungguhnya, aku tidak suka menyetubuhi isteriku, kecuali jika disertai dengan harapan supaya Allah memberi rezeki berupa keturunan yang bertasbih kepada Allah dan mentauhidkan-Nya.“ Argumen Khalifah Kedua itu telah terbukti, dengan adanya komentar diantara ulama “Alangkah bahagianya kedua orang tua Imam Syafei, Abdullah binMubarak, Imam Malik,Imam Ahmad dan lain-lain ulama besar serta orang-orang saleh lainnya. Bisa jadi seorang anak menyebabkan kedua oranbg tuanya bahagia di dunia daan akhirat. “

Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al Quran mengatakan “Wayarzughu min haitsu laa yahtasib “ (Ath-Thalaq ( 65 ) : 3). Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Rasul SAW bersabda, “Allah telah menetapkan takdir semua mahluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi“ (HR.Muslim). Oleh karena itu selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki Allah SWT. Sebab Sang Pemberi Rezeki telah menjamin, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud 6). “Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Insya Allah, jika ikhtiar, doa serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dari Umar bin Khattab RA, ia berkata, “Saya mendengar Rassulullah SAW bersabda, ‘Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang disore hari dalam keadaan kenyang “ (HR.Ahmad dan Turmuzi).

Banyak kiat untuk menjemput atau membuka keran pintu rezeki itu. Diantaranya adalah :
Pertama, Memperbanyak istighfar dan taubat. Allah berfirman, “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai “ (Nuh (71) :10-12). Ujar Ibnu Katsir, “Maksudnya, jika kalian telah bertaubat dan beristighfar kepada Allah serta taat kepada-Nya, Dia pasti memperbanyak rezeki kalian dan memberi minum kalian dengan berkah dari langit serta menumbuhkan dan mengalirkan susu binatang ternak serta akan memberikan harta yang banyak, dan anak yang banyak.Lalu Allah akan menjadikaan bagi kalian kebun-kebun yang didalamnya beraneka ragam buah-buahan, yang mengalir di sisinya sungai-sungai“ (Ibnu Katsir Jilid 4 halaman 371).

Kedua, Istiqamah Bersedekah /Berinfak di jalan Allah. Rasul SAW bersabda, “Bersedekahlah kalian, dan jangan (terlalu) lama disimpan dan ditahan. Sebab jika demikian, Allah SWT akan menahan (karunia-Nya) untukmu “ (HR. Bukhari ). Hadis lain, Nabi SAW bersabda “Berinfaklah semampumu, dan jangan menahan hartamu, niscaya Allah akan menahan karunia-Nya bagimu“ (HR. Muslim dan Nasai). Kilah Imam Al-Qurthubi, “Jika seseorang meyakini Allah sepenuhnya, pasti Dia akan memberikan rezeki kepadanya dengan tanpa disangka-sangka. Seyogianya ia mesti berinfak secara ikhlas dan tanpa banyak pertimbangan. “

Ketiga, Meluangkan waktu untuk Beribadah. Rasul SAW bersabda, ”Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi “ (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim). Secara umum hadis tersebut menurut imam Al’Ala’i menjelaskan bahwa hati seseorang jangan terlena dengan kesibukan dunia, hingga ia tidak menunaikan bentuk ketaatan kepada Allah. Dalam menafsirkan firman Allah surah Al Insyirah ayat 7, Ibnu Katsir menuturkan, “Jika kalian telah selesai melakukan pekerjaan-pekerjaan duniawi, bersungguh-sungguhlah menunaikan ibadah dengan tekun. Lalu fokuskan hatimu dan ikhlaskan niatmu.” Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan meluangkan waktu dan memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah dapat membukakan pintu rezeki.

Keempat, Bersegera Mencari Rezeki di Pagi hari. Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi. Semoga keberkahan selalu tercurah bagi umatku yang beraktifitas di pagi hari “ (HR.Thabrani). “Shahr Al-Ghamidi menjelaskan, bahwa Rasulullah mengutus pasukan perang di akhir waktu siang. Sementara itu Shahr sebagai seorang pedagang, sering membawa barang dagangannya di pagi hari. Akhirnya ia sering mendapatkan keuntungan yang berlimpah, hingga hartanya banyak. (HR. Imam yang empat).

Kelima, Bersilaturrahim. Rasul SAW bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya,maka sambunglah tali silaturrahim “ (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasai). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Siapa yang menyambung silaturrahmi, maka akan Aku sambung rahmat-Ku untuknya. Dan siapa yang memutuskan silaturrahmi, maka Aku putuskan pula rahmat-Ku untuknya “ (HR. Tirmuzi dan Abu Daud). Rahmat Allah itu bentuknya beraneka ragam, dan jumlahnya tidak terhitung. Ia bisa berupa kemudahaan dalam segala urusan, ketenangan dalam menjalani hidup, kesehatan jasmani dan rohani, keluasan rezeki dan sebagainya.

Keenam, Senantiasa bersyukur. Allah berfirman “ … Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih “ (Ibrahim 7). Imam Al Mansyur berkomentar “Wahai manusia, jangan sekali-kali kalian mengusir kenikmatan rezeki dengan meninggalkan syukur. Sebab, dengan meninggalkan syukur, justru kalian tengah mengundang bencana. “ Syukur adalah satu keniscayaan atas begitu banyaknya nikmat yang kita rasakan dalam hidup ini.Salah satu hal yang harus kita syukuri adalah rezeki pemberian Allah. Cara mensyukurinya adalah dengan “mengalirkannya“ kepada orang yang membutuhkan. Ibarat air, jika tidak dialirkan akan tersumbat. Demikian pula dengan rezeki, jika tidak dialirkan, saluran rezeki akan tersumbat. Wallahualam. **
Minggu, 10 November 2013 0 komentar

KEHENDAK (IRADAH) ALLAH...

Akidah Seorang Muslim
Sebagai Muslim, tentu kita meyakini bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini sejak dahulu sampai saat ini, semua terjadi dengan ijin Allah. Perbuatan sadar manusia, gerakan refleksnya, sakit dan sembuhnya, sukses dan gagalnya, tertawa dan menangisnya, kejayaan dan keterpurukannya, dan lain-lain, semua itu terjadi dengan ijin Allah. Tidak ada satu pun urusan yang lepas dari kontrol Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Segalanya dalam kendali-Nya.
Dalam Al Qur’an: Dan di sisi-Nya lah kunci-kunci keghaiban, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia semata. Dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan. Tiada sehelai daun pun gugur, melainkan Dia mengetahuinya; dan tidak pula sebutir biji di kegelapan bumi, dan sesuatu yang basah dan kering, melainkan (telah tertulis) di Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (Al An’aam: 59).

Nabi mengajarkan sebuah kalimat yang mulia, “Laa haula wa laa quwwata illa billah.” (Tidak ada daya [untuk menolak keburukan] dan kekuatan [untuk merealisasikan kebaikan], melainkan atas ijin Allah).

Bahkan perbuatan sihir pun terjadi juga dengan ijin Allah. Dan tidaklah mereka (tukang sihir) bisa memberi kerugian dengan sihirnya itu kepada satu orang pun, melainkan dengan ijin Allah.” (Al Baqarah: 102).
Hal seperti ini adalah perkara elementer dalam kehidupan seorang Muslim. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, semua itu terlaksana dengan ijin Allah. Hingga Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa yang sangat baik, “Allahumma laa mani’a li maa a’thaita, wa laa mu’thiya li maa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minka al jaddu” (Ya Allah, tidak ada yang bisa menolak apa yang Engkau berikan, tidak ada yang bisa menerima apa yang Engkau cegah, dan tidak bermanfaat harta seseorang yang memiliki harta terhadap-Mu). Doa ini beliau ajarkan agar dibaca dalam dzikir setelah selesai Shalat.

Membuktikan Kehendak Allah
Sebuah pertanyaan, benarkah Allah berkuasa dalam kehidupan ini?
Sebenarnya, bagi seorang Muslim yang memahami ajaran Islam, pertanyaan seperti ini tidak perlu ditanyakan. Tetapi mengingat masih banyak Muslim yang awam atau lemah keimanannya, penjelasan elementer pun jika dibutuhkan, ya tetap harus disampaikan. Apalagi sampai setingkat cendekiawan atau ilmuwan Muslim pun, kadang tidak memiliki konstuksi keyakinan yang benar.

Untuk memudahkan memahami hal ini, mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan dasar: “Bisakah manusia memaksakan suatu hasil pekerjaan, dengan modal tenaga, kepintaran, dana, strategi, serta alat-alat yang canggih?
Orang-orang atheis yang anti Tuhan pasti akan mengatakan: “Ya bisa! Kita bisa membuat apapun yang kita suka. Dengan dana, kepandaian, ilmu yang kami miliki, teknologi canggih, dan sebagainya, kami bisa membuat apapun yang kami inginkan. Tidak ada yang bisa menghalangi tujuan kami. Dunia ini berada dalam genggaman tangan kami. Apa yang kami suka akan terwujud, dan apa yang kami benci akan tersingkir. Peranan Tuhan telah berakhir, sekarang diganti tangan kami.” Ya begitulah pemikiran orang-orang atheis itu.
Jika orang-orang atheis itu benar keyakinannya, tentu kita tidak akan mendapati mereka mengalami berbagai kegagalan. Seharusnya hanya kejayaan, kemegahan, serta kemenangan yang mereka terima. Ternyata, begitu banyak kegagalan-kegagalan yang dialami orang-orang atheis ini. Semua itu menunjukkan bahwa mereka hanyalah makhluk tak berdaya, tidak mampu memaksakan kebaikan dan menolak keburukan. Berikut ini sebagian fakta-fakta yang layak dicermati:
[o] Lenin dan Stalin dikenal sebagai pemimpin Partai Komunis Uni Soviet yang sangat kejam. Ada jutaan manusia mati di bawah telapak kaki penindasan mereka. Sebagiannya adalah kaum Muslimin di Asia Tengah. Cara kekejaman yang dilakukan oleh Lenin, Stalin, Mao Tse Tung, Khmer Merah, Kim Il Tsung, dan sebagainya adalah sebuah bukti bahwa mereka frustasi untuk membangun sesuatu yang mereka cita-citakan secara damai. Kekejaman regim-regim Komunis dimanapun, adalah cerminan frsutasi di hati dan pemikiran mereka.
[o] Belum sampai 100 tahun kekuasaan Komunis hancur-lebur. Pintu kehancuran ini dimulai dengan ambruknya Komunisme di Jerman Timur, Polandia, dan tentu saja Uni Soviet. Setelah itu, Uni Soviet bubar dan negara-negara Komunis di Eropa Timur satu per satu gulung tikar.
[o] Kehancuran Uni Soviet terjadi karena kekalahan mereka dalam invasi ke Afghanistan. Keuangan Soviet terkuras dalam perang yang sangat melelahkan. Padahal yang mereka hadapi adalah kaum Muslimin Afghanistan yang kurang mengenal teknologi, rumahnya dibuat dari dinding tanah, dan sangat banyak yang masih buta huruf. Keangkuhan Komunisme kalah oleh kesederhanaan Islam.
[o] Negara Komunis masih ada sampai saat ini, yaitu RRC, Kuba, Korea Utara, Vietnam, Laos, Tibet, dan lainnya. Namun Komunis mereka tidak lagi se-ekstrem masa lalu. Kini Komunisme sangat banyak mengadopsi konsep-konsep ekonomi Liberal-Kapitalistik. Secara zhahir RRC adalah Komunis, tetapi secara riil mereka telah berkiblat kepada budaya Barat.
[o] Sebuah fakta menarik, bahwa rakyat Kuba adalah konsumen rokok sigaret yang sangat besar. Negara disana berkewajiban menyediakan kebutuhan tembakau bagi rakyatnya. Fidel Castro sendiri mencontohkan kegilaannya kepada cerutu. Rakyat Kuba merasa keberatan ketika jatah rokoknya hendak dikurangi. Itu menandakan bahwa ajaran Komunis hanya menghasilkan stress berat.

Di luar konteks orang-orang Komunis, ada satu kejadian menarik dari seorang insinyur pembangun kapal pesiar termewah di dunia, Titanic. Di awal kemunculannya, saat berlabuh dari pelabuhan Liverpool Inggris, arsitek pembangun Titanic sesumbar. Titanic adalah kapal super mewah yang dibuat dengan teknologi sangat canggih, sehingga Tuhan pun tidak akan mampu menenggelamkannya. Namun kemudian fakta berbicara, Titanic adalah tragedi pelayaran terbesar sepanjang sejarah manusia. Bahkan tragedi transportasi paling mengerikan yang pernah terjadi. Padahal secara teknis, kerusakan Titanic hanya karena salah satu sisi lambungnya robek karena gesekan dengan gunung es. Ia tidak menabrak gunung es, atau menabrak batu karang, atau meledak di tengah jalan, atau mengalami kebakaran, dan sebagainya. Hanya robek sedikit sisi lambungnya.

Aktifitas Praktis Manusia
Kemudian muncul pertanyaan lain: “Ya, Anda tidak perlu mengambil contoh-contoh yang besar. Sudahlah yang kecil-kecil saja. Tidak usah muluk-muluk. Lihatlah kenyataan di sekitar kita! Kalau saya mau makan, saya bisa segera mengambil makanan di lemari; kalau saya mau mandi, saya bisa segera masuk kamar mandi; kalau saya mau baju merah, tinggal pilih saja, tidak ada yang bisa mencegah; kalau saya mau tidur, tinggal merebah; kalau mau nonton TV, tinggal memencet tombol. Lihatlah, semuanya berjalan lancar. Setiap yang saya inginkan, seketika itu bisa saya penuhi, tanpa satu pun bisa mencegah. Dimana ada bukti peranan Tuhan di balik kesibukan saya sehari-hari ini?”

Sebenarnya, hal-hal yang disebutkan itu bukan masalah kehendak manusia yang bisa memaksa Kehendak Allah. Ia adalah masalah taraf kemampuan. Maksudnya, setiap manusia diberi kemampuan tertentu dalam hidupnya. Kita diberi kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti makan-minum, berjalan, melompat, mandi, mencuci, menyapu lantai, pergi ke pasar, memilih barang, memotong rumput, menyirami bunga, mengendarai kendaraan, dan sebagainya. Semua ini adalah kemampuan yang Allah karuniakan.

Taraf kemampuan diberikan kepada setiap makhluk hidup, bukan hanya manusia. Hingga kutu di kepala, semut di dinding, sampai cacing dalam tanah, mereka semua memiliki taraf kemampuan. Pada orang-orang yang menderita cacat, mereka tidak mampu melakukan kegiatan sehari-hari secara normal. Hal itu menjadi bukti, bahwa ketika alat kemampuan manusia mengalami masalah, dia tidak berdaya (atau harus memenuhi suatu urusan dengan susah-payah).

Sekalipun manusia memiliki taraf kemampuan (kafa’ah), tetap saja mereka tidak bisa memaksakan bahwa kemampuannya bekerja secara mutlak. Betapa banyak perubahan jadwal harus terjadi, meskipun manusia telah merencanakan sesuatu dengan sangat sempurna. Seseorang yang mengingkari perubahan jadwal, adalah manusia yang tidak realistik. Jangankan jadwal dalam kehidupan kita sehari-hari, protokoler kepresidenan yang telah disusun berbulan-bulan lamanya, ia bisa berubah seketika jika diinginkan. Misalnya, Anda sudah komitmen akan makan siang pukul 13.00 WIB. Ketika waktu telah tiba, Anda duduk di meja, makanan yang dipesan telah terhidang di depan mata, tinggal detik-detik menyantap hidangan itu; tiba-tiba boss Anda menelpon dan meminta Anda segera menghadap. Maka skenario Anda tentang makanan itu bubar seketika. Kejadian seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita dengan segala bentuk dan detailnya.

Kalau mau mengukur kemampuan manusia dalam mempengaruhi Kehendak Allah, cobalah Anda susun suatu rencana kegiatan. Misalnya, minggu depan, pada tanggal tertentu, dalam rentang waktu antara pukul 09.00 sampai 12.00, Anda bermaksud melakukan suatu rangkaian kegiatan. Susun rencana Anda secara terperinci dan berurutan untuk mengisi waktu selama 3 jam itu. Lakukan saja kegiatan ini, baik sendirian, di tempat sepi, atau bersama orang lain. Nanti bandingkan hasilnya! Apakah agenda Anda berhasil terlaksana 100 % seperti yang Anda rencanakan? Bisakah Anda memaksakan agenda Anda?
Orang-orang yang sombong dan angkuh perlu mencoba “simulasi” seperti di atas. Mampukah mereka membuktikan kesombongannya? Atau tidakkah hati mereka menjadi lembut di hadapan Keagungan Allah?

Ketidak-berdayaan manusia juga terlihat dari hasil-hasil usahanya. Betapa banyak terjadi kegagalan, kekalahan, penyesalan, kekecewaan, kemarahan, stress, frustasi, bunuh diri, dan sebagainya. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa tidak setiap kehendak manusia akan terpenuhi sebagaimana yang mereka inginkan. Manusia hanya mampu merencanakan, sedangkan Allah yang menentukan.
Dalam Al Qur’an,Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Jika Dia telah menetapkan suatu perkara, cukuplah Dia mengatakan, ‘Jadilah,’ maka jadilah (perkara itu).” (Ali Imran: 47).

Begitu kuatnya Kehendak Allah ini, hingga manusia amat sangat berkehendak kepada-Nya. Manusia sangat menginginkan agar apa yang dia kehendaki dikabulkan oleh Allah, sehingga ia memperoleh harapan-harapannya. Berbagai upaya manusia lakukan, agar dirinya beruntung (get a lucky). Termasuk dengan melakukan ritual-ritual tertentu yang tidak rasional sekalipun. Lihatlah, para panitia konser musik! Jauh-jauh hari mereka telah mempersiapkan dukun-dukun, untuk menahan agar saat hari H, di lapangan konser tidak turun hujan. Lihatlah para pembangun gedung-gedung konstruksi! Mereka menanam kepala kerbau di landasan bangunan, agar bangunan itu tidak runtuh, tetapi tetap kokoh. Lihatlah pula, pasukan khusus tertentu! Mereka memakai jimat di kalungnya, untuk menghindari kematian saat bertugas di area konflik. Lihatlah pula seorang pejabat! Dia sengaja membeli sebuah cincin “batu delima” dengan harga miliaran, agar jabatannya awet. Begitu pula, lihatlah seorang artis cantik! Dia memakai jasa konsultasi paranormal, agar tetap cantik, memikat perhatian banyak orang, dan tentu saja selalu mendapat order main sinetron, film, menjadi bintang iklan, atau sekedar menjadi MC.

Hal semacam ini bukan hanya terjadi di kalangan kita. Orang-orang Barat yang konon sangat rasional itu ternyata juga doyan perdukunan. Ronald dan Nancy Reagan, dikenal sebagai pasangan suami-isteri Presiden Amerika yang doyan dengan advis-advis perdukunan. Kemanapun Reagan berkunjung, sebuah tim para dukun selalu menyertainya. Film-film mistik, honor, supranatural, sangat banyak diproduksi oleh Hollywood. Bahkan bidang mistik itu menjadi studi tersendiri di kampus-kampus Barat, dengan profesor-profesor di dalamnya.

Adapun kalangan Freemasonry dan sejenisnya. Mereka dikenal memiliki ritual-ritual mistik mengerikan. Mereka disebut-sebut sebagai pewaris dan pelanjut ajaran-ajaran sihir bangsa Mesir, sejak era tukang-tukang sihir jaman Fir’aun. Itulah yang dikenal oleh para ahli sebagai Kabbalah. Dan penganut Kabbalah ini banyak juga dari orang-orang terkenal dan selebritis top dunia.

Kalau Anda penggemar sepak bola, coba lihat perilaku pemain-pemain dunia di arena pertandingan. Lihatlah, saat mereka memegang rumput, lalu berlari ke tengah lapangan! Lihatlah saat mereka berdoa sebelum bertanding! (Lihat saat Adebayor melakukan ritual beberapa detik sebelum bertanding). Lihat saat mereka mencium bola sebelum melakukan tendangan bebas atau pinalti! Lihat saat mereka mengacungkan jari ke atas, sesaat setelah memasukkan gol! Lihatlah, betapa banyak “ritual permohonan lucky” di Liga Inggris, Liga Itali, Liga Spanyol, Liga Jerman, dan lainnya. Bahkan pemain-pemain Indonesia, tidak segan-segan berdoa satu dua menit, sebelum pertandingan dimulai. Frank Riberry juga ekspressif ketika berdoa kepada Allah, sesaat sebelum pertandingan (sebab dia Muslim).
Seangkuh-angkuh manusia, mereka tidak sanggup untuk memaksakan hasil pekerjaan sebagaimana yang mereka inginkan. Berbagai cara mereka perlihatkan untuk mengekspresikan ketidak-berdayaan dirinya. Para prajurit Israel, sebelum terjun ke medan perang, mereka sangat serius membaca kitab Talmud. Yahudi percaya, bahwa agamalah yang sanggup memelihara eksistensi mereka.

Perlukah Ada Kesombongan?
Secara hakiki, manusia adalah makhluk yang lemah; kehendaknya tidak bisa melompati Kehendak Allah; bahkan manusia itu hidup di bawah naungan Kehendak Allah semata. Namun, dalam kehidupan ini kita mendapati tidak sedikit manusia bersikap sombong (takabbur). Andai seseorang tidak bersikap sombong, bukan karena dia tidak mau sombong, tetapi tidak ada yang bisa dia sombongkan. Sikap sombong seharusnya tidak muncul jika seseorang benar-benar memahami betapa kuatnya Kehendak Allah berlaku dalam kehidupan ini.
Sudah pantaskah Anda bersikap sombong?
[a] Kalau Anda adalah seorang pakar sains dan teknologi yang mumpuni, apakah kehebatan Anda bisa menandingi Prof. BJ. Habibie? Lihatlah seorang Habibie, dengan pengetahuan dan pengalamannya yang luas, beliau diterima luas di forum-forum teknologi dunia. Namun kemampuannya tidak mampu mempertahankan posisinya sebagai Presiden RI sampai 2 tahun saja.
[b] Kalau Anda adalah pejabat politik yang mengagumkan, mampu mencapai jabatan politik paling bergengsi, apakah Anda bisa mencapai posisi setinggi George Walker Bush? Bush bukan hanya mampu mempertahankan posisinya dua kali, dia adalah pemimpin tertinggi Amerika, dan dia mampu mengobrak-abrik tatanan dunia. PBB tidak berdaya menghadapi Bush. Namun akhirnya, kepemimpinan dia disudahi dengan kejadian paling memalukan sepanjang sejarah manusia. Dia dilempar sepatu oleh Muntazhar Al Zaidi, dua kali, dan hampir kena.
[c] Kalau Anda adalah seorang petarung, pria berotot, tubuh macho, memakai tindik dan tatoo, biasa berkelahi, menjadi bintang pertarungan fisik, apakah Anda bisa sehebat Mike Tyson? Sehebat-hebatnya Anda, sekali saja dipukul oleh Tyson, tubuh Anda bisa seketika terjengkang di tanah. Meskipun begitu, Tyson adalah petinju paling malang di dunia. Dia pernah dituduh memperkosa, melecehkan wanita, terlibat perkelahian, dipenjara, diharuskan membayar denda ratusan ribu dollar, mengalami kalah KO, kalah angka, tanding ulang berkali-kali, sampai puncaknya dia menggigit telinga Evander Holyfield. Tyson sangat terpuruk, sampai mau menjadi bintang film porno, sekedar untuk mendapatkan uang.
[d] Kalau Anda seorang seniman, pelukis, pakar estetik, teknisi grafis, begawan perupa, dan seterusnya; apakah Anda bisa mencapai taraf setinggi Affandi? Dia adalah seorang pelukis langka yang pernah dimiliki Indonesia. Karyanya tentang “potret diri” dan “sabung ayam” sangat terkenal. Lukisan-lukisan Affandi menjadi perburuan para kolektor. Namun Affandi mendapati kehidupannya sepi, hingga untuk mengurus diri saja sulit. Entah karena apa, Affandi pernah membuat lukisan telanjang yang berobyek dirinya dan keluarganya. Sedemikian hebat orang memuja seni, sampai tidak lagi mengindahkan moral.
[e] Kalau Anda seorang wanita yang cantik, seksi, dan terkenal, apakah Anda bisa menyamai posisi yang diraih Merlyn Monroe? Seseksi-seksinya Anda, meskipun sudah jungkir balik “memanjakan diri”, tidak akan seperti selebritis top Hollywood itu. Namun akhirnya, riwayat hidupnya berakhir tragis dengan obat bius.
[f] Kalau Anda seorang wanita selebritis, populer, hidup mewah, mempunyai fans sangat banyak, menjadi primadona media, apakah Anda bisa mencapai kedudukan seperti Lady Diana? Dia dikenal sebagai wanita idaman dunia, menjadi pesohor internasional, putri bangsawan terhormat. Pesta pernikahannya dengan Charles adalah pesta perkawinan termegah di dunia sepanjang abad 20. Apalagi yang belum didapatkan oleh Lady Di berupa kecantikan, popularitas, kemewahan, kedudukan bangsawan, putra laki-laki, suami putra mahkota Inggris, kegiatan sosial, kecintaan dunia internasional, dan sebagainya. Tetapi betapa tragis hidup Ladi Di. Dia mendapati suaminya berselingkuh, lalu dia membalas dengan melakukan selingkuh dengan seorang pengawal kerajaan; pengakuan Ladi Di dalam interview khusus dengan media menjadi kegemparan dunia. Dan akhir kehidupan Ladi Di adalah kecelakaan tragis yang merengut jiwanya.
[g] Kalau Anda seorang penguasa kaya raya, bisnisman tulen, memiliki aset miliaran rupiah, hari-hari dihabiskan dalam meeting, negosiasi, transaksi, ekspansi usaha, perundingan merger, akuisisi, mencari market baru, merilis inovasi baru, memainkan indeks saham di lantai bursa, dan lainnya; apakah Anda akan mampu menyamai kekayaan Pangeran Al Walid bin Thalal dari Saudi? Begitu kayanya Pangeran Al Walid, sampai bingung mau diapakan lagi kekayaan itu. Beliau mampu membeli pesawat Air Bus ukuran jumbo, dan disulap menjadi pesawat pribadi, yang interiornya didesain seperti istana mewah. Diperlukan dana triliunan untuk membeli pesawat itu, namun Al Walid merasa itu bukan pengeluaran yang besar. Dengan semua kekayaan yang dimilikinya, ternyata tidak membuat Pangeran Al Walid menjadi seorang ahli ibadah, ahli Sastra Arab, ahli Syariat, ahli sejarah Islam, atau seorang Muslim yang sangat teguh dengan Al Wala’ Wal Bara’. Bahkan tapak kakinya tidak dikenal pernah menyentuh beceknya bumi jihad di negeri-negeri kaum Muslimin. Kekayaan besar, hanya semakin meramaikan peliknya godaan kehidupan dunia.

Lalu apa lagi yang harus disombongkan oleh manusia-manusia ini? Kekuatan dan kemegahan yang dimilikinya tidak akan sanggup mengungguli prestasi-prestasi di atas. Tidakkah lebih layak mereka tawadhu kepada Allah Al ‘Alim?

Demikianlah, Allah Ta’ala memiliki Sifat Iradah (Maha Berkehendak). Kehendak-Nya berlaku dalam kehidupan ini, sedangkan kehendak manusia bersifat nisbi (relatif). Jika Allah mengijinkan, kehendak manusia akan terlaksana; jika Dia tidak mengijinkan, maka kehendak itu akan gagal. Hal ini berlaku dalam segala urusan, termasuk dalam praktik sihir sekalipun. Sihir tidak akan terlaksana, selain hanya dengan ijin Allah Ta’ala. Dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah menetapkan takdir atas segala sesuatu.” (At Thalaaq: 3).
Jumat, 01 November 2013 0 komentar

MENGINGAT MATI

Sesungguhnya di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah, jika bukan ibadah yang murni.
Rasulullah saw bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)
Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mendangarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit dan manusiapun melalaikannya.
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS Al-Anbiya 1)
Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)
Kemudian manusia ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada pula yang bertaubat dan ada pula yang arif.
Pertama: adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia tidak mengingat kematian sama sekali. Jika diingatkan ia mengingat semata-mata untuk menyesali dunianya dan sibuk mencelanya. Baginya, mengingat kematian hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah.
Kedua: Adapun orang yang bertaubat, ia banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu ia menyempurnakan taubat dan kadang-kadang tidak menyukai kematian karena takut disergap sebelum terwujud kesempurnaan taubat dan memperbaiki bekal. Dalam hal ini ia dimaafkan dan tidak tergolong ke dalam sabda Nabi saw:
مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena sesungguhnya ia tidak membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah, tetapi hanya takut tidak dapat berjumpa dengan Allah karena berbagai kekurangan dan keteledorannya. Ia seperti orang yang memperlambat pertemuan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan diri untuk menemuinya dalam keadaan yang diridhainya sehingga tidak dianggap membenci pertemuan. Sebagai buktinya ia selalu siap untuk menemuinya dan tidak ada kesibukan selainnya. Jika tidak demikian maka ia termasuk orang yang tenggelam ke dalam dunia.
Ketiga: Sedangkan orang yang ‘arif, ia selalu ingat kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya. Pecinta tidak akan pernah lupa sama sekali akan janji pertemuan dengan kekasihnya. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan alam semesta. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika menghadapi kematian, ia berkata:
“Kekasih datang dalam kemiskinan, semoga tidak berbahagia orang yang menyesal. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan lebih aku cintai dari kekayaan, sakit lebih aku cintai dari kesehatan, dan kematian lebih aku cintai dari kehidupan, maka permudahlah kematian atas diriku agar segera dapat berjumpa dengan-Mu”
Jadi, orang yang bertaubat dimaafkan dari sikap tidak menyukai kematian sedangkan orang yang ‘arif dimaafkan dari tindakan mencintai dan mengharapkan kematian. Tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya ialah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga ia tidak memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya. Apa yang paling dicintai adalah apa yang paling dicintai kekasihnya. Orang ini melalui cinta dan wala’ yang mendalam berhasil mencapai maqam taslim dan ridha, yang merupakan puncak tujuan. Tetapi bagaimanapun, mengingat kematian tetap memberikan pahala dan keutamaan. Karena orang yang tenggelam ke dalam dunia juga bisa memanfaatkan dzikrul maut untuk mengambil jarak dari dunia sebab dzikrul maut itu membuat dirinya kurang berselera kepada kehidupan dunia dan mengeruhkan kemurnian kelezatannya. Setiap hal yang dapat mengeruhkan kelezatan dan syahwat manusia adalah termasuk sebab keselamatan. Rasulullah saw bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan, yaitu kematian.”
(HR Tirmidzi, Nasaa’I dan Ibnu Majah)
Artinya, kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian sehingga kegandrungan kamu kepada berbagai kelezatanterputus lalu kamu berkonsentrasi kepada Allah, karena mengingat kematian dapat menghindarkan diri dari kampung tipudaya dan menggiatkan persiapan untuk kehidupan akhirat, sedangkan lalai akan kematian mangakibatkan tenggelam dalam syahwat dunia, sabda Nabi saw:
تحفة المؤمن الموت
“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)
Nabi saw menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Nabi saw bersabda:
الموت كفارة لكل مسلم
“Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.” (HR al-Baihaqi)
Yang dimaksudnya adalah orang muslim sejati yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, yang merealisasikan akhlaq orang-orang mu’min, tidak terkotori oleh berbagai kemaksiatan kecuali beberapa dosa kecil, sebab kematian akan membersihkannya dari dosa-dosa kecil tersebut setelah ia menjauhi dosa-dosa besar dan menunaikan berbagai kewajiban. Sebagian kaum bijak bestari menulis surat kepada salah seorang kawannya.


Dari Abu Zakaria At-Taimy, dia berkata,
“Tatkala Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis:Wahai anak Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi dan engkau tidak akan terlalu berambisi.

Penyesalanmu akan muncul jika kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan. Saat itu engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai penyesalan dan kerugian.”

Penyebab panjangnya angan-angan
Ketahuilah, munculnya angan-angan yang muluk-muluk ini ada dua hal:
1. Cinta Kepada Dunia.
Jika manusia sudah menyatu dengan keduniaan, kenikmatan dan belenggunya, maka hatinya merasa berat untuk berpisah dengan dunia, sehingga di dalam hatinya tidak terlintas pikiran tentang mati. Padahal kematianlah yang akan memisahkan dirinya dengan dunia.

Siapa pun yang membenci sesuatu, tentu akan menjauhkan sesuatu itu dari dirinya. Manusia selalu dibayang-bayangi angan-angan yang batil. Dia berangan-angan sesuai dengan kehendaknya, seperti hidup terus di dunia, mendapatkan seluruh barang yang dibutuhkannya, seperti harta benda, tempat tinggal, keluarga dan sebab-sebab keduniaan lainnya. Hatinya hanya terpusat pada hal-hal ini, sehingga lalai mengingat mati dan tidak membayangkan kedekatan kematiannya.

Andaikan di dalam hatinya sesekali melintas pikiran tentang kematian dan perlu bersiap-siap menghadapinya, tentu dia bersikap waspada dan mengingat dirinya.
Namun dia hanya berkata,“Hari-hari ada di depanmu hingga engkau menjadi dewasa. Setelah itu engkau bertaubat.”Setelah dewasa dia berkata,“Sebentar lagi engkau akan menjadi tua.”
Setelah tua dia berkata,“Tunggulah hingga rumah ini rampung atau biar kuselesaikan terlebih dahulu perjalananku.”Dia menunda-nunda dan terus menunda-nunda. Hingga selesainya kesibukan demi kesibukan dan hari demi hari, hingga ajal menjemputnya tanpa disadarinya, dan saat itulah dia akan merasakan penyesalan yang mendalam. Kebanyakan teriakan para penghuni neraka ialah kata-kata,“Andaikata”.Mereka berkata,“Aduhai aku benar-benar menyesal”,Yang juga menggambarkan kata-kata “Andaikata”. Sumber dari seluruh angan-angan ini adalah cinta kepada dunia.

2. Kebodohan
Hal ini terjadi karena manusia tidak mempergunakan masa mudanya, menganggap kematian masih lama datangnya karena dia masih muda.
Apakah pemuda semacam ini tidak menghitung bahwa orang-orang yang berumur panjang di wilayahnya tidak lebih dari sepuluh orang?
Mengapa jumlah ornag tua hanya sedikit? Karena banyak manusia yang meninggal dunia selagi muda.
Berbarengan dengan meninggalnya satu orang tua, ada seribu bayi dan anak muda yang meninggal dunia.

Dia tertipu oleh kesehatannya dan tidak tahu bahwa kematian bisa menghampirinya secara tiba-tiba, sekalipun dia menganggap kematian itu masih lama. Sakit bisa menimpanya secara tiba-tiba. Jika dia jatuh sakit, maka kematian tidak jauh darinya.

Andaikan dia mau berpikir dan menyadari bahwa kematian itu tidak mempunyai waktu yang pasti, entah pada musim panas, gugur atau semi, siang atau malam, tidak terikat pada umur tertentu, muda atau tua, tentu dia akan menganggap serius urusan kematian ini dan tentu dia akan bersiap-siap menyongsongnya.

Ada Apa setelah kematian?
Mengingat mati itu bermanfa’at bagi setiap MUKMIN, karena mereka beriman bahwa ada kehidupan yang kekal setelah kematian, mereka beriman ada adzab kubur dan nikmat kubur, mereka beriman kelak ada hisab di padang masyhar, dan mereka beriman kelak seseorang akan dimasukkan surga/neraka.. sehingga mengingat mati, akan melembutkan hati mereka dan mendorong mereka untuk beramal shalih..

Kita melihat orang-orang yang LUPA atau LALAI atau TIDAK TAHU atau bahkan PURA-PURA TIDAK TAHU padahal tahu atau yang KUFUR terhadapnya; maka mereka MERASA CUKUP dengan kehidupan dunia yang fana dan singkat.
Kalaulah kita bicara tentang orang kafir, maka tidak mengherankan mereka hidup tanpa arah sesuai hawa nafsu mereka, bagaikan binatang bahkan lebih jelek dari binatang.
Lantas bagaimana dengan kita YANG MENGIMANI ini semua?

Kita MENGETAHUI dan MENGIMANI bahwa kita PASTI MATI, dan kalau kita MATI pasti ada SAKRATUL MAUT, dan ketika SAKRATUL MAUT pasti ada malaikat yang menjemput, apakah itu malaikat rahmat ataukah malaikat adzab (orang-orang kafir, munafik, fajir, zhalim, dan fasik akan dijemput malaikat adzab; sedangkan orang-orang mukmin yang beramal shalih akan dijemput malaikat rahmat)

Dan setelahnya kita akan berada dialam kubur, ditanya malaikat dengan tiga pertanyaan.. dan setelahnya kita akan menjalani adzab kubur (jika kita fasiq, maka kita akan diadzab sesuai dengan kadar kefasiqan yang kita miliki) ataukah nikmat kubur Dan setelahnya kita dibangunkan dengan sebuah tiupan dan kita berdiri di padang masyhar menanti waktu untuk dihisab amalan-amalan kita; dan semoga kita termasuk orang-orang yang langsung dimasukkan ke surga tanpa hisab.

Dan setelahnya amalan-amalan kita akan ditimbang, dan kita akan dimasukkan ke surga ataukah ke neraka; orang-orang yang merugi akan masuk ke neraka dan orang-orang yang beruntung akan dimasukkan ke surga;Orang-orang yang masih terdapat keimanan dalam hatinya maka akan dimasukkan ke dalam surga setelah adzab di nerakanya usai; dan satu hari di akhirat sama dengan LIMA PULUH RIBU TAHUN di dunia 

Apakah kita akan berkata:
“Tidak apa-apa kita dineraka dulu; toh kalo kita mati dalam keadaan muslim akan masuk surga juga..”
Sedangkan kita TIDAK TAHU apakah kita akan mati diatas tauhid atau tidak?!

Sedangkan kita MENGETAHUI dan MENGIMANI bahwa neraka disana ada ADZAB yang KERAS?!

Sedangkan kita MENGETAHUI dan MENGIMANI sehari di akhirat sama seperti LIMA PULUH RIBU tahun di dunia?!
Apakah kita akan seperti orang-orang yahudi yang berkata:
‎وَقَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَةً
Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”.
‎قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِندَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَن يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”
(Al-Baqarah: 80)
—-
Dan orang-orang yang mati dalam keadaan kafir akan KEKAL DI NERAKA;
Maka orang yang mengingat mati, ia akan MENUNTUT ILMU bagaimana ia bisa mengamalkan agama ini dengna BENAR dan BAIK, kemudian mengamalkannya, kemudian memperingatkan keluarganya akan hal ini..
Inilah SEHARUSNYA buah, bagi orang yang mengingat akan kematian, pemutus segala kelezatan..
Allah berfirman:
‎فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ
oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,
(Al-A’laa: 9)
KHUSUSNYA untuk keluarga/kerabat, karena Allah memerincinya; dalam firmanNya
‎وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
(Asy-Syu’araa: 214)
‎وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
(Adz-Dzaariyat: 55)
maka jangan sampai hati kita MATI, seperti orang-orang kafir:
‎إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ . خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat
(Al-Baqarah: 6-7)
‎وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
(Al-Ahqaf: 26)
‎وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia,
‎قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
‎وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),
‎وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا
dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).
‎أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(Al-A’raaf: 179)
‎وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
(Yaasiin: 10)
‎قُلْ إِنَّمَا أُنذِرُكُم بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاءَ إِذَا مَا يُنذَرُونَ
Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan”
(Al-Anbiyaa: 45)
‎إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan 11 dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
(Yaasiin: 11)
 
;