Akidah Seorang Muslim
Sebagai Muslim, tentu kita
meyakini bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini sejak dahulu
sampai saat ini, semua terjadi dengan ijin Allah. Perbuatan sadar
manusia, gerakan refleksnya, sakit dan sembuhnya, sukses dan gagalnya,
tertawa dan menangisnya, kejayaan dan keterpurukannya, dan lain-lain,
semua itu terjadi dengan ijin Allah. Tidak ada satu pun urusan yang
lepas dari kontrol Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Segalanya dalam
kendali-Nya.
Dalam Al Qur’an: “Dan di
sisi-Nya lah kunci-kunci keghaiban, tidak ada yang mengetahuinya selain
Dia semata. Dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan. Tiada
sehelai daun pun gugur, melainkan Dia mengetahuinya; dan tidak pula
sebutir biji di kegelapan bumi, dan sesuatu yang basah dan kering,
melainkan (telah tertulis) di Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (Al An’aam: 59).
Nabi mengajarkan sebuah kalimat yang mulia, “Laa haula wa laa quwwata illa billah.” (Tidak ada daya [untuk menolak keburukan] dan kekuatan [untuk merealisasikan kebaikan], melainkan atas ijin Allah).
Bahkan perbuatan sihir pun terjadi juga dengan ijin Allah. “Dan tidaklah mereka (tukang sihir) bisa memberi kerugian dengan sihirnya itu kepada satu orang pun, melainkan dengan ijin Allah.” (Al Baqarah: 102).
Hal seperti ini adalah perkara elementer dalam kehidupan seorang Muslim. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, semua itu terlaksana dengan ijin Allah. Hingga Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa yang sangat baik, “Allahumma laa mani’a li maa a’thaita, wa laa mu’thiya li maa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minka al jaddu”
(Ya Allah, tidak ada yang bisa menolak apa yang Engkau berikan, tidak
ada yang bisa menerima apa yang Engkau cegah, dan tidak bermanfaat harta
seseorang yang memiliki harta terhadap-Mu). Doa ini beliau ajarkan agar dibaca dalam dzikir setelah selesai Shalat.
Membuktikan Kehendak Allah
Sebuah pertanyaan, benarkah Allah berkuasa dalam kehidupan ini?
Sebenarnya, bagi seorang Muslim
yang memahami ajaran Islam, pertanyaan seperti ini tidak perlu
ditanyakan. Tetapi mengingat masih banyak Muslim yang awam atau lemah
keimanannya, penjelasan elementer pun jika dibutuhkan, ya tetap harus
disampaikan. Apalagi sampai setingkat cendekiawan atau ilmuwan Muslim
pun, kadang tidak memiliki konstuksi keyakinan yang benar.
Untuk memudahkan memahami hal ini, mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan dasar: “Bisakah manusia memaksakan suatu hasil pekerjaan, dengan modal tenaga, kepintaran, dana, strategi, serta alat-alat yang canggih?”
Orang-orang atheis yang anti Tuhan pasti akan
mengatakan: “Ya bisa! Kita bisa membuat apapun yang kita suka. Dengan
dana, kepandaian, ilmu yang kami miliki, teknologi canggih, dan
sebagainya, kami bisa membuat apapun yang kami inginkan. Tidak
ada yang bisa menghalangi tujuan kami. Dunia ini berada dalam genggaman
tangan kami. Apa yang kami suka akan terwujud, dan apa yang kami benci
akan tersingkir. Peranan Tuhan telah berakhir, sekarang diganti tangan kami.” Ya begitulah pemikiran orang-orang atheis itu.
Jika orang-orang atheis itu benar keyakinannya,
tentu kita tidak akan mendapati mereka mengalami berbagai kegagalan.
Seharusnya hanya kejayaan, kemegahan, serta kemenangan yang mereka
terima. Ternyata, begitu banyak kegagalan-kegagalan yang dialami
orang-orang atheis ini. Semua itu menunjukkan bahwa mereka hanyalah
makhluk tak berdaya, tidak mampu memaksakan kebaikan dan menolak
keburukan. Berikut ini sebagian fakta-fakta yang layak dicermati:
[o] Lenin dan Stalin dikenal
sebagai pemimpin Partai Komunis Uni Soviet yang sangat kejam. Ada jutaan
manusia mati di bawah telapak kaki penindasan mereka. Sebagiannya adalah
kaum Muslimin di Asia Tengah. Cara kekejaman yang dilakukan oleh Lenin,
Stalin, Mao Tse Tung, Khmer Merah, Kim Il Tsung, dan sebagainya adalah
sebuah bukti bahwa mereka frustasi untuk membangun sesuatu yang mereka
cita-citakan secara damai. Kekejaman regim-regim Komunis dimanapun,
adalah cerminan frsutasi di hati dan pemikiran mereka.
[o] Belum sampai 100 tahun
kekuasaan Komunis hancur-lebur. Pintu kehancuran ini dimulai dengan
ambruknya Komunisme di Jerman Timur, Polandia, dan tentu saja Uni
Soviet. Setelah itu, Uni Soviet bubar dan negara-negara Komunis di Eropa
Timur satu per satu gulung tikar.
[o] Kehancuran Uni Soviet
terjadi karena kekalahan mereka dalam invasi ke Afghanistan. Keuangan
Soviet terkuras dalam perang yang sangat melelahkan. Padahal yang mereka
hadapi adalah kaum Muslimin Afghanistan yang kurang mengenal teknologi,
rumahnya dibuat dari dinding tanah, dan sangat banyak yang masih buta
huruf. Keangkuhan Komunisme kalah oleh kesederhanaan Islam.
[o] Negara Komunis masih ada
sampai saat ini, yaitu RRC, Kuba, Korea Utara, Vietnam, Laos, Tibet, dan
lainnya. Namun Komunis mereka tidak lagi se-ekstrem masa lalu. Kini
Komunisme sangat banyak mengadopsi konsep-konsep ekonomi
Liberal-Kapitalistik. Secara zhahir RRC adalah Komunis, tetapi secara
riil mereka telah berkiblat kepada budaya Barat.
[o] Sebuah fakta menarik,
bahwa rakyat Kuba adalah konsumen rokok sigaret yang sangat besar.
Negara disana berkewajiban menyediakan kebutuhan tembakau bagi
rakyatnya. Fidel Castro sendiri mencontohkan kegilaannya kepada cerutu.
Rakyat Kuba merasa keberatan ketika jatah rokoknya hendak dikurangi. Itu
menandakan bahwa ajaran Komunis hanya menghasilkan stress berat.
Di luar konteks orang-orang Komunis, ada satu kejadian menarik dari seorang insinyur pembangun kapal pesiar termewah di dunia, Titanic.
Di awal kemunculannya, saat berlabuh dari pelabuhan Liverpool Inggris,
arsitek pembangun Titanic sesumbar. Titanic adalah kapal super mewah
yang dibuat dengan teknologi sangat canggih, sehingga Tuhan pun tidak
akan mampu menenggelamkannya. Namun kemudian fakta berbicara, Titanic
adalah tragedi pelayaran terbesar sepanjang sejarah manusia. Bahkan
tragedi transportasi paling mengerikan yang pernah terjadi. Padahal
secara teknis, kerusakan Titanic hanya karena salah satu sisi lambungnya
robek karena gesekan dengan gunung es. Ia tidak menabrak gunung es,
atau menabrak batu karang, atau meledak di tengah jalan, atau mengalami
kebakaran, dan sebagainya. Hanya robek sedikit sisi lambungnya.
Aktifitas Praktis Manusia
Kemudian muncul pertanyaan lain: “Ya, Anda
tidak perlu mengambil contoh-contoh yang besar. Sudahlah yang
kecil-kecil saja. Tidak usah muluk-muluk. Lihatlah kenyataan di sekitar
kita! Kalau saya mau makan, saya bisa segera mengambil makanan di
lemari; kalau saya mau mandi, saya bisa segera masuk kamar mandi; kalau
saya mau baju merah, tinggal pilih saja, tidak ada yang bisa mencegah;
kalau saya mau tidur, tinggal merebah; kalau mau nonton TV, tinggal
memencet tombol. Lihatlah, semuanya berjalan lancar. Setiap yang saya
inginkan, seketika itu bisa saya penuhi, tanpa satu pun bisa mencegah.
Dimana ada bukti peranan Tuhan di balik kesibukan saya sehari-hari ini?”
Sebenarnya, hal-hal yang disebutkan itu bukan masalah kehendak manusia yang bisa memaksa Kehendak Allah. Ia adalah masalah taraf kemampuan.
Maksudnya, setiap manusia diberi kemampuan tertentu dalam hidupnya.
Kita diberi kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti
makan-minum, berjalan, melompat, mandi, mencuci, menyapu lantai, pergi
ke pasar, memilih barang, memotong rumput, menyirami bunga, mengendarai
kendaraan, dan sebagainya. Semua ini adalah kemampuan yang Allah
karuniakan.
Taraf kemampuan diberikan kepada setiap makhluk
hidup, bukan hanya manusia. Hingga kutu di kepala, semut di dinding,
sampai cacing dalam tanah, mereka semua memiliki taraf kemampuan. Pada
orang-orang yang menderita cacat, mereka tidak mampu melakukan kegiatan
sehari-hari secara normal. Hal itu menjadi bukti, bahwa ketika alat
kemampuan manusia mengalami masalah, dia tidak berdaya (atau harus
memenuhi suatu urusan dengan susah-payah).
Sekalipun manusia memiliki taraf
kemampuan (kafa’ah), tetap saja mereka tidak bisa memaksakan bahwa
kemampuannya bekerja secara mutlak. Betapa banyak perubahan jadwal harus terjadi, meskipun manusia telah merencanakan sesuatu dengan sangat sempurna. Seseorang
yang mengingkari perubahan jadwal, adalah manusia yang tidak realistik.
Jangankan jadwal dalam kehidupan kita sehari-hari, protokoler
kepresidenan yang telah disusun berbulan-bulan lamanya, ia bisa berubah
seketika jika diinginkan. Misalnya, Anda sudah komitmen akan makan siang
pukul 13.00 WIB. Ketika waktu telah tiba, Anda duduk di meja, makanan
yang dipesan telah terhidang di depan mata, tinggal detik-detik
menyantap hidangan itu; tiba-tiba boss Anda menelpon dan meminta Anda
segera menghadap. Maka skenario Anda tentang makanan itu bubar seketika.
Kejadian seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita dengan segala
bentuk dan detailnya.
Kalau mau mengukur kemampuan manusia dalam mempengaruhi Kehendak Allah, cobalah Anda susun suatu rencana kegiatan. Misalnya,
minggu depan, pada tanggal tertentu, dalam rentang waktu antara pukul
09.00 sampai 12.00, Anda bermaksud melakukan suatu rangkaian kegiatan.
Susun rencana Anda secara terperinci dan berurutan untuk mengisi waktu
selama 3 jam itu. Lakukan saja kegiatan ini, baik sendirian, di tempat sepi, atau bersama orang lain. Nanti bandingkan hasilnya! Apakah agenda Anda berhasil terlaksana 100 % seperti yang Anda rencanakan? Bisakah Anda memaksakan agenda Anda?
Orang-orang yang sombong dan
angkuh perlu mencoba “simulasi” seperti di atas. Mampukah mereka
membuktikan kesombongannya? Atau tidakkah hati mereka menjadi lembut di
hadapan Keagungan Allah?
Ketidak-berdayaan manusia juga
terlihat dari hasil-hasil usahanya. Betapa banyak terjadi kegagalan,
kekalahan, penyesalan, kekecewaan, kemarahan, stress, frustasi, bunuh
diri, dan sebagainya. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa tidak setiap
kehendak manusia akan terpenuhi sebagaimana yang mereka inginkan.
Manusia hanya mampu merencanakan, sedangkan Allah yang menentukan.
Dalam Al Qur’an, “Demikianlah,
Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Jika Dia telah menetapkan
suatu perkara, cukuplah Dia mengatakan, ‘Jadilah,’ maka jadilah (perkara
itu).” (Ali Imran: 47).
Begitu kuatnya Kehendak Allah
ini, hingga manusia amat sangat berkehendak kepada-Nya. Manusia sangat
menginginkan agar apa yang dia kehendaki dikabulkan oleh Allah, sehingga
ia memperoleh harapan-harapannya. Berbagai upaya manusia lakukan, agar dirinya beruntung (get a lucky).
Termasuk dengan melakukan ritual-ritual tertentu yang tidak rasional
sekalipun. Lihatlah, para panitia konser musik! Jauh-jauh hari mereka
telah mempersiapkan dukun-dukun, untuk menahan agar saat hari H, di
lapangan konser tidak turun hujan. Lihatlah para pembangun gedung-gedung
konstruksi! Mereka menanam kepala kerbau di landasan bangunan, agar
bangunan itu tidak runtuh, tetapi tetap kokoh. Lihatlah pula, pasukan
khusus tertentu! Mereka memakai jimat di kalungnya, untuk menghindari
kematian saat bertugas di area konflik. Lihatlah pula
seorang pejabat! Dia sengaja membeli sebuah cincin “batu delima” dengan
harga miliaran, agar jabatannya awet. Begitu pula, lihatlah seorang
artis cantik! Dia memakai jasa konsultasi paranormal, agar tetap cantik,
memikat perhatian banyak orang, dan tentu saja selalu mendapat order
main sinetron, film, menjadi bintang iklan, atau sekedar menjadi MC.
Hal semacam ini bukan hanya
terjadi di kalangan kita. Orang-orang Barat yang konon sangat rasional
itu ternyata juga doyan perdukunan. Ronald dan Nancy Reagan,
dikenal sebagai pasangan suami-isteri Presiden Amerika yang doyan dengan
advis-advis perdukunan. Kemanapun Reagan berkunjung, sebuah tim para
dukun selalu menyertainya. Film-film mistik, honor, supranatural, sangat
banyak diproduksi oleh Hollywood. Bahkan bidang mistik itu menjadi
studi tersendiri di kampus-kampus Barat, dengan profesor-profesor di
dalamnya.
Adapun kalangan Freemasonry dan sejenisnya.
Mereka dikenal memiliki ritual-ritual mistik mengerikan. Mereka
disebut-sebut sebagai pewaris dan pelanjut ajaran-ajaran sihir bangsa
Mesir, sejak era tukang-tukang sihir jaman Fir’aun. Itulah yang dikenal
oleh para ahli sebagai Kabbalah. Dan penganut Kabbalah ini banyak juga dari orang-orang terkenal dan selebritis top dunia.
Kalau Anda penggemar sepak bola, coba lihat
perilaku pemain-pemain dunia di arena pertandingan. Lihatlah, saat
mereka memegang rumput, lalu berlari ke tengah lapangan! Lihatlah saat
mereka berdoa sebelum bertanding! (Lihat saat Adebayor melakukan ritual
beberapa detik sebelum bertanding). Lihat saat mereka
mencium bola sebelum melakukan tendangan bebas atau pinalti! Lihat saat
mereka mengacungkan jari ke atas, sesaat setelah memasukkan gol!
Lihatlah, betapa banyak “ritual permohonan lucky” di Liga Inggris, Liga
Itali, Liga Spanyol, Liga Jerman, dan lainnya. Bahkan
pemain-pemain Indonesia, tidak segan-segan berdoa satu dua menit,
sebelum pertandingan dimulai. Frank Riberry juga ekspressif ketika
berdoa kepada Allah, sesaat sebelum pertandingan (sebab dia Muslim).
Seangkuh-angkuh manusia, mereka tidak sanggup
untuk memaksakan hasil pekerjaan sebagaimana yang mereka inginkan.
Berbagai cara mereka perlihatkan untuk mengekspresikan ketidak-berdayaan
dirinya. Para prajurit Israel, sebelum terjun ke medan perang, mereka
sangat serius membaca kitab Talmud. Yahudi percaya, bahwa agamalah yang
sanggup memelihara eksistensi mereka.
Perlukah Ada Kesombongan?
Secara hakiki, manusia adalah makhluk yang
lemah; kehendaknya tidak bisa melompati Kehendak Allah; bahkan manusia
itu hidup di bawah naungan Kehendak Allah semata. Namun, dalam kehidupan
ini kita mendapati tidak sedikit manusia bersikap sombong (takabbur).
Andai seseorang tidak bersikap sombong, bukan karena dia tidak mau
sombong, tetapi tidak ada yang bisa dia sombongkan. Sikap sombong
seharusnya tidak muncul jika seseorang benar-benar memahami betapa
kuatnya Kehendak Allah berlaku dalam kehidupan ini.
Sudah pantaskah Anda bersikap sombong?
[a] Kalau Anda adalah seorang
pakar sains dan teknologi yang mumpuni, apakah kehebatan Anda bisa
menandingi Prof. BJ. Habibie? Lihatlah seorang Habibie, dengan
pengetahuan dan pengalamannya yang luas, beliau diterima luas di
forum-forum teknologi dunia. Namun kemampuannya tidak mampu
mempertahankan posisinya sebagai Presiden RI sampai 2 tahun saja.
[b] Kalau Anda adalah pejabat
politik yang mengagumkan, mampu mencapai jabatan politik paling
bergengsi, apakah Anda bisa mencapai posisi setinggi George Walker Bush?
Bush bukan hanya mampu mempertahankan posisinya dua kali, dia adalah
pemimpin tertinggi Amerika, dan dia mampu mengobrak-abrik tatanan dunia.
PBB tidak berdaya menghadapi Bush. Namun akhirnya, kepemimpinan dia
disudahi dengan kejadian paling memalukan sepanjang sejarah manusia. Dia dilempar sepatu oleh Muntazhar Al Zaidi, dua kali, dan hampir kena.
[c]
Kalau Anda adalah seorang petarung, pria berotot, tubuh macho, memakai
tindik dan tatoo, biasa berkelahi, menjadi bintang pertarungan fisik,
apakah Anda bisa sehebat Mike Tyson? Sehebat-hebatnya Anda, sekali saja
dipukul oleh Tyson, tubuh Anda bisa seketika terjengkang di tanah.
Meskipun begitu, Tyson adalah petinju paling malang di dunia. Dia pernah
dituduh memperkosa, melecehkan wanita, terlibat perkelahian, dipenjara,
diharuskan membayar denda ratusan ribu dollar, mengalami kalah KO,
kalah angka, tanding ulang berkali-kali, sampai puncaknya dia menggigit
telinga Evander Holyfield. Tyson sangat terpuruk, sampai mau menjadi
bintang film porno, sekedar untuk mendapatkan uang.
[d]
Kalau Anda seorang seniman, pelukis, pakar estetik, teknisi grafis,
begawan perupa, dan seterusnya; apakah Anda bisa mencapai taraf setinggi
Affandi? Dia adalah seorang pelukis langka yang pernah dimiliki
Indonesia. Karyanya tentang “potret diri” dan “sabung ayam” sangat
terkenal. Lukisan-lukisan Affandi menjadi perburuan para kolektor. Namun
Affandi mendapati kehidupannya sepi, hingga untuk mengurus diri saja
sulit. Entah karena apa, Affandi pernah membuat lukisan telanjang yang
berobyek dirinya dan keluarganya. Sedemikian hebat orang memuja seni,
sampai tidak lagi mengindahkan moral.
[e]
Kalau Anda seorang wanita yang cantik, seksi, dan terkenal, apakah Anda
bisa menyamai posisi yang diraih Merlyn Monroe? Seseksi-seksinya Anda,
meskipun sudah jungkir balik “memanjakan diri”, tidak akan seperti
selebritis top Hollywood itu. Namun akhirnya, riwayat hidupnya berakhir
tragis dengan obat bius.
[f]
Kalau Anda seorang wanita selebritis, populer, hidup mewah, mempunyai
fans sangat banyak, menjadi primadona media, apakah Anda bisa mencapai
kedudukan seperti Lady Diana? Dia dikenal sebagai wanita idaman dunia,
menjadi pesohor internasional, putri bangsawan terhormat. Pesta
pernikahannya dengan Charles adalah pesta perkawinan termegah di dunia
sepanjang abad 20. Apalagi yang belum didapatkan oleh Lady Di berupa
kecantikan, popularitas, kemewahan, kedudukan bangsawan, putra
laki-laki, suami putra mahkota Inggris, kegiatan sosial, kecintaan dunia
internasional, dan sebagainya. Tetapi betapa tragis hidup Ladi Di. Dia
mendapati suaminya berselingkuh, lalu dia membalas dengan melakukan
selingkuh dengan seorang pengawal kerajaan; pengakuan Ladi Di dalam
interview khusus dengan media menjadi kegemparan dunia. Dan akhir kehidupan Ladi Di adalah kecelakaan tragis yang merengut jiwanya.
[g] Kalau Anda seorang
penguasa kaya raya, bisnisman tulen, memiliki aset miliaran rupiah,
hari-hari dihabiskan dalam meeting, negosiasi, transaksi, ekspansi
usaha, perundingan merger, akuisisi, mencari market baru, merilis
inovasi baru, memainkan indeks saham di lantai bursa, dan lainnya;
apakah Anda akan mampu menyamai kekayaan Pangeran Al Walid bin Thalal
dari Saudi? Begitu kayanya Pangeran Al Walid, sampai bingung mau
diapakan lagi kekayaan itu. Beliau mampu membeli pesawat Air Bus ukuran
jumbo, dan disulap menjadi pesawat pribadi, yang interiornya didesain
seperti istana mewah. Diperlukan dana triliunan untuk membeli pesawat
itu, namun Al Walid merasa itu bukan pengeluaran yang besar. Dengan
semua kekayaan yang dimilikinya, ternyata tidak membuat Pangeran Al
Walid menjadi seorang ahli ibadah, ahli Sastra Arab, ahli Syariat, ahli
sejarah Islam, atau seorang Muslim yang sangat teguh dengan Al Wala’ Wal Bara’.
Bahkan tapak kakinya tidak dikenal pernah menyentuh beceknya bumi jihad
di negeri-negeri kaum Muslimin. Kekayaan besar, hanya semakin
meramaikan peliknya godaan kehidupan dunia.
Lalu apa lagi yang harus disombongkan oleh
manusia-manusia ini? Kekuatan dan kemegahan yang dimilikinya tidak akan
sanggup mengungguli prestasi-prestasi di atas. Tidakkah lebih layak
mereka tawadhu kepada Allah Al ‘Alim?
Demikianlah, Allah Ta’ala memiliki Sifat Iradah
(Maha Berkehendak). Kehendak-Nya berlaku dalam kehidupan ini, sedangkan
kehendak manusia bersifat nisbi (relatif). Jika Allah mengijinkan,
kehendak manusia akan terlaksana; jika Dia tidak mengijinkan, maka
kehendak itu akan gagal. Hal ini berlaku dalam segala urusan, termasuk dalam praktik sihir sekalipun. Sihir tidak akan terlaksana, selain hanya dengan ijin Allah Ta’ala. Dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah menetapkan takdir atas segala sesuatu.” (At Thalaaq: 3).


0 komentar:
Posting Komentar