“Kuatnya keinginan-keinginan manusia itu tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah” (al-Hikam : 3)
“Istirahatkanlah dirimu dari mengatur yang akan terjadi dalam
dalam hidup, karena segala sesuatu yang Allah telah menanggungnya
darimu, kamu jangan mengerjakannya untuk dirimu sendiri” (al-Hikam : 4)
Semoga Allah swt membimbing dan menolong kita untuk bisa menghadapi
dan menikmati dengan baik setiap keadaan yang terjadi dalam hidup ini,
tidak terlalu gembira di saat keinginan berhasil dicapai atau tidak
menderita dan putus asa di saat keinginan belum berhasil menjadi nyata.
Seorang mukmin meyakini bahwa di dalam hidup ini ada ada 2
kehendak, yaitu kehendak Allah dan kehendak makhluk. Kehendak atau
ketetapan Allah pasti akan terjadi, sedangkan kehendak makhluk mungkin
bisa terjadi, namun mungkin juga tidak. ”Dan adalah ketetapan Allah itu
suatu ketetapan yang pasti terlaksana” (Qs. 33 al-Ahzab : 38).
Sebagai
makhluk Allah dan hamba-Nya, keinginan atau cita-cita manusia hanya
akan tercapai jika ia bersesuaian dengan kehendak dan takdir Allah. Jika
keinginan manusia berlainan dengan kehendak Allah, maka sekuat apapun
keinginannya dan sekeras apapun usahanya, ia tidak akan terealisasi.
Oleh karena itu, Imam Ibnu Atha’illah as-Sakandari di dalam Kitab
al-Hikam mengingatkan kepada kita, “Kuatnya keinginan-keinginan manusia
itu tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”. (al-Hikam :
3)
Rasa kesal, sedih, kecewa, tidak bahagia dan putus asa yang
sering muncul pada diri kita di saat keinginan belum berhasil diraih,
itu disebabkan kita lupa diri, bahwa kita adalah makhluk Allah yang
hidupnya pasti berada di dalam garis “Takdir Allah” yang telah
ditetapkan-Nya. Kita hanya mampu berkeinginan, berencana dan berusaha,
sedangkan apa yang akan terjadi, tercapai atau tidak, berhasil atau
gagal, yang berkuasa menentukan bukan kita, tetapi Allah Azza Wa Jalla.
Dan hal itu hakikatnya sudah tertulis di dalam ketetapan Takdir Allah.
Bahkan Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan Hadits Rasulullah saw yang
menyatakan bahwa di saat janin berusia 4 bulan di rahim ibunya,
bersamaan dengan ditiupkannya ruh, Allah telah menuliskan pula
ketetapan takdir-Nya atas kehidupan seorang manusia.
Meskipun takdir
telah ditetapkan oleh Allah, namun tidak ada manusia yang mengetahui
rincian takdir hidupnya. “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun
yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. 31 Luqman : 34). Oleh karena itu,
tentang apa yang akan terjadi di dalam hidup, itu wewenang dan urusan
Allah, bukan wewenang dan urusan kita. Kita tidak tidak diperintahkan
untuk menyibukkan dan menyusahkan diri memikirkan, mengatur atau
melakukan sesuatu yang sudah diatur dan dilakukan oleh Allah untuk kita.
Inilah makanya, Imam Ibnu Atha’illah memberi nasihat kepada kita,
“Istirahatkan dirimu dari mengatur yang akan terjadi dalam dalam hidup,
karena segala sesuatu yang Allah telah menanggungnya darimu, kamu
jangan mengerjakannya untuk dirimu sendiri” (al-Hikam : 4).
Oleh karenanya, agar hidup ini menjadi ibadah, terasa nikmat dan bahagia, diantara langkah yang harus kita tempuh adalah:
Pertama,
kosongkan hati dan akal pikiran kita dari beban mengatur apa yang akan
terjadi dalam hidup ini. Kita serahkan sepenuhnya beban ini kepada
Allah. Kita menyadari bahwa apa yang akan terjadi di dalam hidup ini
sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Qadha’ dan Qadar-Nya. Kita juga
meyakini bahwa yang Allah tentukan untuk kita adalah yang terbaik. “Bisa
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. 2 Al-Baqarah : 216).
Yang harus kita lakukan adalah menyiapkan diri menghadapi kenyataan,
segera menyambutnya dengan syukur apabila yang datang nikmat, atau
segera menyambutnya dengan sabar jika ia adalah musibah. Syukur akan
mendatangkan tambahan nikmat, sedangkan sabar adalah jalan memperoleh
pahala tak terbatas. “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu” (Qs.14. Ibrahim : 7).
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan
pahala mereka tanpa batas” (Qs.39. az-Zumar : 10). Inilah diantara
keajaiban orang beriman. Jika mendapat luasnya nikmat ia bersyukur, itu
adalah kebaikan. Jika tertimpa himpitan musibah ia bersabar, itu adalah
kebaikan. Tidak ada keajaiban ini kecuali bagi seorang yang beriman.
Kedua,
fokuskan hati, akal dan seluruh anggota badan kita untuk memperhatikan,
memikirkan dan melaksanakan kewajiban kita beribadah kepada Allah,
beramal shalih, da’wah, jihad fi sabilillah, serta kerja di bidang usaha
yang dibenarkan oleh hukum syari’ah-Nya. Pada permulaannya kita membuat
rencana yang sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Di saat pelaksanaan
kita kerahkan seluruh daya dan upaya disertai do’a yang tiada
putus-putusnya. Namun pada akhirnya, apa yang akan terjadi ketentuannya
kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Kita bersyukur kepada Allah,
tidak terlalu gembira dan bangga diri jika berhasil. Kita tidak
menderita dan putus asa jika masih belum sukses. Bahkan kita tetap
merasa bahagia atas amal dan usaha yang kita telah lakukan, apapun
hasilnya, karena yang Allah nilai dari kita adalah amal dan usahanya,
bukan hasilnya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kemampuannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya,
dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (Qs.2.
al-Baqarah : 286). Oleh karena itu kita tidak akan pernah berhenti
beribadah, beramal dan berusaha, sampai akhirnya kita menghadap Allah
Azza Wa Jalla.
Hidup yang terasa nikmat dan bahagia ini adalah buah
dari iman yang benar kepada Qadha’ dan Qadar Allah swt. “Tiada suatu
bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis di dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih hati
terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Qs. 57. al-Hadiid :
22-23).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar