“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap,
di situlah wajah Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. 2: 115)
Tidak banyak di antara kita yang sanggup
bersungguh-sungguh menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla adalah
satu-satunya Dzat yang Maha Mengurus makhluk-makhluknya. Jantung yang
berdetak teratur. Darah yang dipompakan dan dialirkan ke seluruh tubuh.
Kedip mata, yang kadang kita sendiri tak menyadarinya. Bisakah kita
mengaturnya walau barang sedetik?
Lalu, kaki pun dilangkahkan di
pagi buta menuju suatu tempat. Kadang-kadang terburu-buru dan berharap
tiba lebih cepat sampai di tujuan. Tiba dijalan kebetulan sebuah
kendaraan mobil melintas di hadapan. Tanpa di stop, mobil itu ternyata
berhenti sendiri. Kebetulan ternyata pengemudinya seorang teman akrab.
Kebetulan pula tempat yang ditujunya sama. Namun, betulkah semua itu
sekadar faktor “kebetulan” belaka?
Terjadinya sering merasakan
serba “kebetulan”, ini pun satu bukti mengenai keterbatasan kita dalam
memahami hakikat suatu kejadian. Padahal, Allah-lah yang mengurus
makhluk-makhluk-Nya dan Dia pula yang menetapkan segala kejadian sekecil
apapun. Tiada sehelai rambut yang terlepas dari kulit kepala atau
selembar daun yang gugur ketanah, kecuali terjadinya dengan ijin Allah.
Adakah dengan begitu suatu kejadian terjadi secara kebetulan? Masya
Allah, Dia-lah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.
Sekai-kali tak ada satu kekuatan pun yang mampu mengatur suatu kejadian,
selain karena ijin-Nya!
Subhanallah, mudah-mudahan Allah yang
Maha Perkasa membukakan bagi kita pintu hikmah-Nya agar kita mampu
memetik “ilmu” dibalik segala kejadian. Suatu “ilmu” yang dapat menjadi
jalan bagi kita agar semakin mengenal-Nya. Akan dituturkan dua kejadian
yang sepintas tampak sepele, tetapi demi Allah, di sinilah terbuktikan
kemahabesaran Dia yang dengan amat mengesankan telah mengatur suatu
kejadian, yang justru sepintas tampak seperti serba “kebetulan”.
Kejadian
pertama, ketika sebuah keluarga tengah melakukan perjalanan pulang ke
suatu kota dengan kendaraan pribadi. Salah seorangnya adalah ibu yang
tampak sudah renta dan uzur, sehingga perlu perlakuan khusus.
Di
tengah perjalanan, masuk waktu shalat. Dicarilah masjid yang berandanya
teduh agar ibu tersebut bisa istirahat sementara dengan nyaman. Setelah
melewati beberapa masjid, maka ditemukanlah sebuah masjid dengan
beranda yang teduh.
Ketika mobil hendak diparkirkan, ternyata
sulit mendapat tempat parkir yang cukup. Mobil pun terus dilajukan
pelan-pelan, sampai akhirnya mentok di sebuah pelataran. Ternyata
pelataran tersebut letaknya dekat sekali dengan tempat wudhu. Akan
tetapi, ibu yang sudah uzur itu kan juga mungkin perlu ke kamar kecil
dan berwudhu? Masya Allah, bukankah tempat wudhu tersebut ternyata
khusus untuk wanita? Muncul pula persoalan lain, yakni perlu kursi untuk
duduk karena memang si ibu sudah tak kuat berdiri. Namun, subhanallah,
ternyata kursi yang dibutuhkan itu memang sudah ada pula dekat tempat
wudhu tersebut.
Semua seperti terjadi secara kebetulan.
Segalanya seperti sudah ada orang yang mengatur dan menyiapkannya.
Padahal, Allah-lah yang memang Maha Mampu menyiapkan segala-galanya.
Sekiranya kita pela menangkap momen-momen kejadian ini dengan hati yang
penuh cahaya iman, niscaya akan semakin mampu mengagumi
Kemahaperkasaan-Nya dan menangkap hikmah (pelajaran) di balik segala
kejadian.
Kejadian kedua menimpa seorang mubaligh yang juga
tengah melakukan perjalanan malam hari menuju Jakarta dengan diantar
beberapa orang di dalam kendaraannya. Mobil meluncur masuk jalan tol
jagorawi. Namun, di tengah perjalanan, mesin mobil tiba-tiba mati karena
kehabisan bensin. Kehabisan bensin di tengah jalan tol di malam hari
yang gelap gulita. Jauh ke sana ke mari, adakah yang bisa diperbuat,
selain bertumpuk kekesalan, kedongkolan dan kekecewaan?
Mengapa
persiapannya tidak disempurnakan? Mengapa sebelum berangkat tadi tidak
membeli bensin yang cukup? Mengapa sampai berbuat lalai, padahal Allah
telah mengajari manusia supaya peka dan senantiasa berhati-hati? Dan
sejumlah pertanyaan “Mengapa” yang lain pun meluncur dari mulut?
Tetapi,
sudahlah. Toh kejadiannya sudah terjadi. Maka, persenelling pun
di-prei-kan dan kopling pun diinjak. “Biarlah Allah yang menghentikan
kendaraan ini ditempat yang Dia sukai. Kita taubat dan berdzikir saja.
Kita tak perlu lagi terus-menerus mengeluh,” ujarnya. Akhirnya mobil
itupun melaju perlahan dan semakin perlahan, sehingga berhenti sendiri
di pinggir jalan.
Tak lama setelah kejadian itu, tiba-tiba
dirasakan ingin buang air kecil. Mubaligh itupun turunlah dari mobil dan
berjalan mencari tempat yang agak terlindung. Akan tetapi, ternyata
dari arah jalan cahaya lampu-lampu kendaraan yang berseliweran cepat di
jalan tol masih menyorot kearahnya, sehingga ia pun terus berjalan
sampai mendekati pagar kawat pembatas.
Sepintas ia melihat
ternyata di bagian tertentu dari pagar yang dihampirinya ada bolong
besar seperti sengaja dibuat orang untuk dapat dilalui. Dan ketika ia
lebih cermat lagi mengamatinya, ternyata di dekatnya ada plang dengan
tulisan sederhana berbunyi: “Di sini jual bensin dua tax”. Allahu Akbar!
Memang Allah Maha Pengatur kejadian yang Maha Sempurna. Betapa
lezatnya jika kita mampu menangkap isyarat-Nya bahwa segala kejadian
yang tampaknya serba kebetulan itu sebenarnya sudah diatur oleh Allah.
Kita saja yang kerapkali tidak peka membaca aneka lintasan kejadian yang
memang telah begitu pas dan rapi diatur oleh Allah SWT. Akibatnya,
kalbu (hati) ini hampir tidak pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya
merasakan hikmah (pelajaran) di balik segala fenomena yang terjadi.
Tampaknya
dalam mengarungi kehidupan ini kita harus sungguh-sungguh minta di atur
oleh Allah. Boleh saja kita sibuk merencanakan sesuatu dengan baik.
Otak seratus persen kita gunakan untuk mengatur taktik dan strategi
sesuai dengan syari’at yang kita ketahui. Tubuh pun sibuk berikhtiar,
berkuah peluh simbah keringat, semampu yang bisa kita lakukan. Akan
tetapi, keyakinan hati tetap pada satu hal, yakni biarlah Allah mengatur
segala urusan kita. Karena, Dialah yang Maha Tahu hal yang terbaik dan
yang terburuk menurut perhitungan-Nya.
Inginkah kita termasuk
orang yang memiliki kalbu (hati) yang peka, lezat menikmati episode demi
episode kejadian dalam hidup ini, dan yakin seyakin-yakinnya bahwa
segala sesuatu yang terjadi itu sudah diatur oleh Allah? Kuncinya
ternyata sederhana saja. Yakni, akuilah bahwa diri kita ini tak lebih
dan tak kurang hanya seorang hamba, yang sama sekali tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan Dia, Dzat Pemilik Jagat raya alam semesta
ini. Ah, siapalah kita ini. Hanya sesosok makhluk yang tiada memiliki
daya dan upaya, tanpa ijin dan kehendak-Nya.
Tak heran kalau
Imam Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, berujar, “Buktikanlah
dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan
membantumu dengan Kemahasempurnaan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaanmu,
niscaya Allah menolongmu dengan kemulyaan-Nya. Akuilah kekurangannmu,
niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Dan akuilah
kelemahanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuatan-Nya.”
Sungguh betapa sangat indahnya bila hidup dan segala aktifitas kita diatur oleh-Nya. []
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar