Sabtu, 10 Agustus 2013 0 komentar

Hakikat Doa Yang Sebenarnya

Agama kita mengajarkan kita agar sentiasa berdoa kepada Allah. Allah memiliki segalanya. Setiap sesuatu terjadi atas izin dan kehendakNya. Maka kita dianjurkan agar meminta kepada Allah segala sesuatu yang baik, untuk kehidupan kita di dunia ini dan kehidupan kita di akhirat kelak. Hanya orang-orang yang sombong yang tidak mau dan malas berdoa, meminta kepada Allah. Doa bukanlah bermaksud kita meminta sesuatu dan kemudian duduk memeluk tubuh tanpa melakukan sesuatu apa pun. Akan tetapi doa mestilah disertai dengan usaha. Jika kita berdoa untuk dimasukkan ke dalam Syurga, kita mestilah berusaha dengan amalan-amalan soleh dan menjauhkan diri dari perkara-perkara munkar. Jika kita berdoa agar Allah melimpahkan rezeki kepada kita, kita harus bekerja keras untuk itu. Jika kita berdoa agar Allah memberi lulus ujian sekolah, maka kita harus belajar sungguh-sungguh.
Allah s.w.t mendengar segala permintaan kita. Apa saja yang kita minta pasti akan didengarNya. Dan orang-orang Islam apabila berdoa insya Allah akan dikabulkan oleh Allah, apalagi kalau orang itu beriman dan melakukan banyak amal soleh. Akan tetapi sudah menjadi sunnatullah, bahwa ada doa yang Allah kabulkan dengan cepat, ada doa yang Allah tidak kabulkan dan ada doa yang Allah simpan untuk hari Qiamat nanti atau untuk mengganti kesusahan yang akan mengenai diri kita.  Dalam sebuah hadist riwayat imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri Rasulullah s.a.w. bersabda:
" ما من مسلم يدعو الله عز وجل بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث خصال إما أن يعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الأخرى وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها "
"Tidak ada orang muslim yang berdoa meminta kepada Allah s.w.t. dengan doa, dimana didalamnya tidak ada dosa dan ia tidak memutuskan tali silaturrahmi, kecuali Allah akan memberinya antara tiga perkara: pertama Allah menangguhkan permintannya untuk yang akan datang; kedua: Allah menyimpannya untuk kesempatan lain, dan; ketiga: Allah mengalihkan darinya kejelekan dan malapetaka yang mirip dengan permintannya

Kadang-kadang kita bertanya, mengapa Allah mengkabulkan permintaan orang-orang kafir sedangkan kita orang-orang yang beriman, kadang-kadang doa kita seolah-olah tidak dikabulkan oleh Allah?
Ketahuilah bahawa ada dua kemungkinan mengapa Allah mengkabulkan permintaan hambanya. Pertama karena Dia cinta dan sayang terhadap hamba tersebut. Dan kedua, karena Allah murka terhadap orang tersebut. Sesungguhnya apabila Allah murka terhadap seseorang, ada kalanya Allah akan menambah rezeki seseorang, meningkatkan derajatnya dan mengkabulkan permintaanya. Orang tersebut lalu akan menjadi lebih lalai dari Allah, akan terus tenggelam dengan kenikmatan dunia dan maksiat. Akhirnya Allah akan mencabut nyawanya dalam keadaan dia lalai. Sehingga dia mati dalam keadaan buruk su'ul khatimah. Inilah yang dikatakan ulama sebagai istidraj.
Firman Allah dalam surah Al-An'am, ayat 44:
فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ  
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa."
Kadang-kadang kita juga bertanya mengapa doa kita tidak dikabulkan oleh Allah s.w.t sedangkan ktia banyak mengerjakan ibadah dan taat kepadaNya.
Ada dua kemungkinan. Pertama, Allah s.w.t suka mendengar permintaan dari hamba-hambanya. Apabila Allah suka pada seseorang hamba, maka hamba tersebut diletakkannya dibawah rahmat dan perlindungannya. Allah juga akan menyimpan doa-doa hamba tersebut untuk hamba itu di hari dimana tiada guna harta dan anak. Itulah hari kiamat. Apabila tiada sesuatu yang dapat menyelamatkan hamba tersebut dari api neraka, maka ketika itu Allah akan menunjukkan kepada hamba tersebut segala doa-doanya dan ketika itu doa-doa tersebut akan dapat menyelamatkannya dari api neraka.
Dalam riwayat Aisyah r.a. berkata:
ما من عبد مؤمن يدعو الله بدعوة فتذهب حتى تعجل له في الدنيا أو تؤخر له في الآخرة إذا لم يعجل أو يقنط قال عروة قلت يا أماه كيف عجلته وقنوطه ؟ قالت يقول سألت فلم أعط ودعوت فلم أجب"
"Tidak ada seorang muslim yang berdo'a kepada Allah meminta sesuatu kemudian tidak muncul, kecuali Allah menangguhkannya untuk kesempatan lain di dunia, atau Allah menangguhkannya hingga hari qiamat nanti, kecuali ia tergesa-gesa dan putus asa". Lalu Urwah bertanya:"Wahai Ummul Mukminin, bagaimana ia tergesa-gesa dan putus asa?" Aisyah menjawab:"Misalnya ia berdoa, lalu berkata aku sudah berdoa tapi tidak diberi, atau aku telah berdoa tapi tidak dikabulkan"
Begitulah, betapa cinta dan kasih sayang Allah terhadap kita. Bukan karena Allah tidak mau memberi permintaan kita, tetapi Allah akan menyimpankannya untuk kita di hari Kiamat kelak. Itulah doa-doa orang-orang solihin, orang-orang yang taat kepada Allah s.w.t.
Kedua, doa tersebut tidak dikabulkan oleh Allah karena suatu sebab yang ada dalam diri kita. Misalnya kita meminta sesuatu kepada Allah tetapi kita tidak patuh perintahNya. Kita ingin Allah memberi sesuatu kepada kita, tetapi sangat tidak seimbang dengan apa yang kita telah lakukan untuk Allah, untuk Islam, untuk Rasulullah s.a.w? Sanggupkan kita lakukan seperti Bilal? Yang menahan siksaan kerana keimannya kepada Allah? Sanggupkah kita lakukan seperti Saidina Abu Bakar As-Siddiq? Yang menafkahkan seluruh hartanya untuk Islam? Sanggupkah kita lakukan seperti Imam Nawawi? Yang mengorbankan siang dan malamnya, yang mengorbankan kelazatan hidup di dunia ini, untuk menegakkan ilmu agama Islam? Tidakkan kita malu, meminta dari Tuhan tetapi tidak patuh perintahnya?
Memintalah kepada Allah. Berdoalah kepada Allah. Tetapi dalam waktu yang sama kita juga berusaha bersungguh-sungguh untuk memenuhi perintah-perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Ibrahim bin Adham, seorang wali Allah pernah berkata:
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak menunaikan hak-hak Allah. Kamu kenal Allah tetapi tidak memenuhi hak-hakNya yaitu untuk disembah.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak mengamalkan isi Al-Quran. Kamu senantiasa membaca Al-Quran tapi tidak kamu amalkan isi-isinya.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak mengamalkan sunnah Rasulullah. Kamu selalu bilang cinta kepada Rasulullah tapi kamu meninggalkan sunnahnya.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu patuh kepada syaitan. Kamu mengakui bahwa syetan itu musuh kamu tetapi kamu patuhi dia.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu mencampakkan diri kamu ke jurang kebinasaan. Kamu selalu berdoa supaya terhindar dari api neraka tapi kamu lemparkan dirimu sendiri ke dalamnya.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, kamu ingin memasuki Syurga tapi kamu tidak melakukan amal soleh.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu sedar kamu akan mati tetapi kamu tidak bersiap-siap untuk menghadapinya.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu melihat cacat dan kekurangan orang lain, tetapi cacat dan kekurangan dirimu kamu tidak pernah melihatnya. Kamu sibuk memikirkan kesalahan dan keburukan orang lain sedangkan keburukan dan kesalahan dirimu sendiri tidak pernah kau hiraukan.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu merasakan kenikmatan yang diberikan Allah  tetapi kamu tidak bersyukur, bersyukur dengan mematuhi segala perintah Allah.
Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu menguburkan jenazah orang lain tapi tidak menginsafi diri kamu sendiri bahwa kelak kamu juga akan dikuburkan.
Marilah kita menjadi orang-orang yang sentiasa melakukan perintah Allah. Marilah kita berazam tidak mahu mengulangi segala perbuatan buruk kita. Insya Allah, segala doa kita akan diterima oleh Allah s.w.t
Firman Allah s.w.t dalam Surah Al-Baqarah, ayat ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
0 komentar

“Man Jadda Wa Jadda” dan “Man Shabara Zhafira”


“Ajarkanlah anakmu Sastra, maka seorang anak yang pengecut bisa menjadi pemberani”, begitulah kata Umar bin Khattab. Analoginya dengan membaca sastra dapat membuat hati yang keras menjadi lunak mencucurkan air mata, sastra dapat merubah seseorang yang malas menjadi rajin bersemangat, sastra dapat membangkitkan kekeringan jiwa menjadi bergairah. Tidak semua sastra tentunya. Maka memilah dan memilih perlu dilakukan agar kita beruntung. Beberapa waktu ini, sebuah novel teman menjadi perhatian dari sekian bacaan yang sedang dibaca, ringan namun berbobot hikmah, novel yang kental dengan sastra syarat makna, menghadirkan inspirasi baru, dan menggelorakan ruh jiwa. ‘Ranah 3 Warna’ yang ditulis oleh A.Fuadi. Buku pertamanya berjudul ‘Negeri 5 Menara’.

Dalam Novel tersebut dikisahkan seorang pemuda lulusan pesantren yang ingin kuliah, namun tidak memiliki ijazah SMA. Di saat banyak teman, saudara, tetangga yang mengecilkan mimpinya, ia terus mencoba dan mencoba, ia ingat kata2 gurunya “Man Jadda Wa Jadda”, barangsiapa bersungguh-sungguh akan mendapatkannya. Namun keterbatasan yang dimilikinya terkadang meluluhkan semangatnya, belum pernah mendapatkan pelajaran umum SMA seperti Biologi, Matematika, Fisika, Kimia, dll, belum lagi keterbatasan ekonomi terkadang mengiringi mimpi besarnya untuk kuliah. Disaat beban terasa berat dan tujuan masih terasa jauh itu, ia masih menyimpan ingatan, “mantra” suci dari gurunya selain “mantra” pertama tadi, yaitu “Man Shabara Zhafira”, Siapa yang bersabar ia akan beruntung. Berbekal semangat inilah ia menempa diri, siang-malam belajar, meminjam buku dan membabat habis bacaannya, belajar dari rekan, serta dorongan orang kesayangan; ayah dan ibunda. Walhasil, pemuda yang tidak pernah mengikuti pelajaran umum SMA ini, dengan segala keterbatasan akses, berhasil Lulus dan tembus masuk ke PTN. Ia berhasil membuktikan kepada dunia, tentunya kepada teman-teman dan orang-orang yang meremehkannya. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya dan siapa yang bersabar akan beruntung. Man Jadda Wa jadda, Man Shabara Zhafira.

Meskipun belum selesai membacanya, kisah Inspiratif dalam buku tersebut mengingatkan pada kehidupan nyata saat SMA, mulai dari keinginan mendapat ranking terbaik di SMA, masuk IPB, kuliah dengan bisa berpenghasilan, bekerja di bidang sosial sebelum lulus kuliah, menguasai dalam drive (walau belum memilikinya), sampai menikah sebelum lulus. Meskipun masih banyak keinginan yang belum tercapai, bersyukur beberapa harapan sudah. Tentunya capaian ini memerlukan kesungguhan dan kesabaran. Bertahan dan aktif saat lelah,, bersabar menahan ujian. Kesungguhan adalah syarat mencapai harapan, sedangkan kesabaran dan keikhlasan merupakan energi yang mengisi celah antara harapan dan hasil akhir yang ingin didapat.

Dimensi yang berbeda dalam berbagai sisi kehidupan kini, maupun yang akan datang juga memerlukan paling tidak dua hal ini, Kesungguhan dan Kesabaran. Walau seolah kekurangan dalam materi dan kemampuan, terasa susah, berat, dengan usaha terbaik terus-menerus, semangat yang selalu menyala, serta kesabaran dalam menghadapi godaan dan lelah, dengan naungan Doa, Insya Allah tiada yang tidak mungkin dan mustahil. Kesungguhan dan kesabaran akan berbuah manis jika dipakai. Hempaskan jauh-jauh sikap suka beralasan atau berdalih seperti “Tapi saya…”, “Kondisinya susah..” dst.. Hindari berdalih dalam menghadapi segala sesuatu, dalih hanya akan mengecilkan kemampuan besar kita, membuat larut dalam keterbatasan. Karenanya jika dalam organisasi/ instansi tempat kerja kita banyak kekurangan, keterbatasan, semprawut, dll,,bukan menjadi alasan untuk tidak berkembang apalagi berhenti atau mundur. Kesabaran itu terus maju dengan beban yang ada. Kesungguhan itu melawan segela keterbatasan meraih harapan dan Visi besar kita. Mari jadikan kesungguhan dan kesabaran sebagai senjata mengalahkan segala hambatan dan tantangan. Sulit dan sekeras apapun mari hadapi, di medan manapun kita layani. Man Jadda Wa jadda, Man Shabara Zhafira sebagai cambuk tekad menebar manfaat meraih ridho Illahi..
 
Dalam firman Allah Surat Ar rad ayat 11 ditegaskan : ” Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ”.
Salah satu pesan ayat di atas adalah menganjurkan kita untuk besungguh-sungguh dan tidak malas. Jika kita punya keinginan maka bersungguh-sungguhlah dan jangan malas, maka insya Allah keinginan kita apapun itu akan terwujud.
Rabu, 07 Agustus 2013 0 komentar

Idul Fitri 1 Syawal 1434 H

Allahu Akbar….. Allahu Akbar….. Allahu Akbar
Laa Ilaa ha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Walilla Ilham

Dengan takbir dan tahmid, umat Islam melepaskan bulan Ramadan dan dengan takbir dan tahmid pula menyambut 1 Syawal 1430 H. Mudah-mudahan pelepasan bulan Ramadan dan penyambutan bulan Syawal terpenuhi makna dan arti kedua peristiwa yang terjadi dalam suasana bergembira.



Selama bulan Ramadhan, jiwa, ruh, dan hati umat Islam benar-benar telah terasah dengan amal-amal kebajikan, sehingga hati mereka yang merupakan wadah ketakwaan semakin terbuka lebar dan luas guna lebih mengembangkan dan meningkatkan kualitas takwa yang sudah diperoleh selama beribadah di bulan Ramadan, "Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa" (QS. Al-Hujurat ayat 3). Tujuan dari puasa adalah untuk menjadikan orang-orang yang melakukannya menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian dapat bertaqwa”.

Idul fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrahnya (kesuciannya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, fitrah dan saling memaafkan serta rezeki yang kita miliki telah dicuci pula dengan zakat.

Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Pada Idul Fitri inilah, manusia yang taat pada takdir Allah SWT meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan kala itu seperti terlahir kembali. Dan, bila kita bersedia menerima fitrah yang ada di hari besar ini serta menerjemahkan dengan pikiran dan bahasa sederhana, Idul Fitri merupakan momentum bagi manusia untuk langkah awal menuju kehidupan lebih baik.

Kembali kepada fitrah berarti kembali kepada jati diri sebagai hamba Allah SWT yang muslim, hamba Allah SWT yang memakmurkan kehidupan, hamba Allah SWT yang tidak egois dan tidak arogan. Jadi, jika seorang muslim selama sebulan berpuasa, shalat tarawih, baca Al-Quran, shalat di masjid. Namun, setelah selesai bulan puasa kita tidak shalat, memusuhi masjid, memusuhi Al-Quran. Ya.... dia justru melenceng dari fitrahnya, puasanya tidak berarti bagi dirinya. Sebaliknya jika selama bulan Ramadhan kita sudah saleh secara pribadi, saleh secara sosial, memakmurkan masjid, bersilaturahim dengan banyak orang, maka dia berada dalam kondisi yang sesuai dengan fitrah. Jika dia ber-Idul Fitri, maka dia akan kembali kepada fitrahnya dengan menguatkan komitmen-komitmen itu sehingga setelah bulan Ramadhan pun akan semakin cinta dengan masjid, cinta dengan Al-Quran, akan tetap bersilaturahim. Hal inilah yang akan menjadikan Islam sebagai sumber keselamatan bagi kehidupan.

Di hari Idul Fitri, jiwa kita akan merasa tenang dan tenteram karena dosa-dosa kita kepada Allah SWT telah diampuni, berkat puasa Ramadhan yang telah kita lakukan kareana dorongan iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampunkan baginya apa yang telah lalu dari dosanya”.

Sesudah shalat Idul Fitri nanti  kita akan meminta maaf kepada keluarga, kaum kerabat dan famili, teman, tetangga dan kenalan kita dari kejahatan, kesalahan serta perbuatan dzalim yang pernah kita lakukan terhadap mereka, agar jiwa kita benar-benar terbebas dari dosa kepada Allah SWT dan kesalahan kepada sesama manusia. Dan dengan demikian kita akan dapat merasakan kebahagiaan yang sejati. Dalam surat Al-Imran ayat 112 Allah, SWT telah berfirman: “Mereka itu akan ditimpa kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka itu menyambung tali hubungan baik dengan Allah SWT dan tali hubungan baik dengan sesama manusia”.

Dengan menyambung tali hubungan baik dengan sesama manusia yang ditandai dengan masing-masing pribadi berani mengakui kesalahan dirinya dan berani meminta maaf kepada orang yang lebih muda usianya dan lebih rendah pangkat dan derajatnya, kehidupan masyarakat nampak rukun dan damai. Persatuan dan kesatuan masyarakat yang tulus dapat kita saksikan dengan jelas. Sedang persatuan dan kesatuan yang tulus dan murni dari sesuatu bangsa itu adalah merupakan salah satu kunci dari keberhasilan dalam mencapai pembangunan lahir dan batin.
 
Beberapa kebiasaan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menyambut Idul Fitri yang patut Umat Islam contoh, yaitu:

Berpenampilan Indah
Rasulullah SAW itu saat Idul Fitri memakai pakaiannya yang paling baik (bukan berarti baju baru, lho) dan membaguskan penampilannya. Berkata Ibnul Qayyim dalam "Zadul Ma'ad": "Nabi memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum'at. Sekali waktu beliau memakai dua burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna merah, namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan lagi namanya burdah. Tapi yang beliau kenakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman." Sedangkan salah seorang sahabat Nabi, Ibnu Umar juga biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada dua hari mulia tersebut.
 
Bertakbir
Bertakbir atau biasa kita sebut takbiran merupakan sunnah Rasul. Telah diriwayatkan bahwa, "Beliau keluar pada hari Idul Fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di tanah lapang dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir". Juga pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di tanah lapang, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam.

Mandi sebelum shalat 'Id

Dari Nafi' ia berkata : "Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke tanah lapang." Sedang Imam Said ibnul Musayyib berkata : "Sunnah Idul Fitri itu ada tiga, berjalan kaki menuju tanah lapang, makan sebelum keluar ke tanah lapang dan mandi."

Makan sebelum berangkat sholat
Makan sebelum berangkat sholat bukan berarti di sana nanti nggak menyediakan konsumsi, tapi karena emang disunnahkan kok oleh Rasulullah SAW. Dari Anas r. a. ia berkata : "Rasulullah SAW tidak pergi ke tanah lapang pada hari Idul Fitri hingga beliau makan beberapa butir kurma."

bbppl-hikmah lebaran.pngUcapan selamat pada hari raya
Setelah sholat biasanya kita saling bersalaman dan mengucapkan selamat untuk teman yang lain. Senang dan lega banget rasanya saat kita menyalami mereka, selain itu mempererat ukhuwah juga menghapus dosa atau kesalahan yang telah kita lakukan pada teman kita itu.

Tahukah kamu apa ucapan yang baik serta dianjurkan sebagai ucapan selamat? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari raya maka beliau menjawab: "Ucapan selamat pada hari raya, dimana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah sholat Id: Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian)." Itu juga yang dilakukan para sahabat Rasulullah SAW bila bertemu pada hari raya.

Allah SWT menciptakan segala sesuatu pasti ada kelebihan atau hikmah yang bisa diambil oleh hamba-Nya, begitu juga dengan Idul Fitri. Banyak sekali hikmah yang dapat kita peroleh baik yang kita sadari karena terlihat manfaatnya langsung pada diri kita maupun yang nggak kita sadari karena mungkin memang kita terlalu lemah untuk melihat hikmah dari berbagai peristiwa.

Hikmah pertama adalah penyadaran hakikat diri sebagai hamba Allah. "Dan tak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzaariyat ayat 56). Itulah sesungguhnya makna sebenarnya atas tugas kita di dunia ini. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan kita tidak lepas dari pengawasan Allah SWT. Jalan untuk meretas batin kita agar selalu merasa terikat dengan Allah SWT adalah dengan bertakwa kepada-Nya. Idul Fitri juga merupakan salah satu sarana takwa yang bisa membawa kita kepada hakikat penghambaan. Idul Fitri seperti ‘alarm’ dalam rangka untuk mengingatkan jati diri kita. Selain itu Idul Fitri mengembalikan kesadaran pemahaman kita kepada berbagai cobaan yang terasa berat saat bulan Ramadhan yang lalu.

bbppl-hikmah lebaran 2.pngHikmah kedua adalah menjadikan Idul Fitri sarana untuk mengeratkan kembali hubungan kita dengan Allah SWT dan manusia. Selama setahun mungkin kita telah melakukan begitu banyak kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Nah, salah satu hikmah Idul Fitri ialah menghadirkan moment saling memaafkan kesalahan yang telah kita perbuat terutama kepada kedua orang tua kita selama ini yang telah membesarkan kita, kemudian kepada keluarga terdekat kita yang mungkin saja sering kita acuhkan dan juga kepada teman-teman yang bergaul dengan kita baik di lingkungan rumah, sekolah atau di tempat yang sangat jauh.

Terakhir, sebagai seorang hamba, hikmah Idul Fitri lainnya ialah membawa kita untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Ingatkah kamu saat seorang hamba berbuat dosa maka ada empat bukti kecintaan Allah SWT pada kita. Pertama, rezeki kita tetap mengalir meski dosa kita bertumpuk. Kedua, nikmat sehat yang tetap dianugerahkan-Nya. Ketiga, Allah SWT tidak segera menyiksa hamba-Nya saat itu juga dan keempat, Allah SWT tidak membeberkan aib atau dosa kita...

Amin ya Robbal A'lamin....
Kamis, 01 Agustus 2013 0 komentar

Berhentilah Mengeluh

Coba renungkan penyampaian ini sebelum Anda mulai mengeluhkan berbagai hal yang terjadi dalam hidup Anda…

01]. Hari ini sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali

02]. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makanan yang Anda santap,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

03]. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.

04]. Sebelum Anda mengeluh bahwa Anda buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

05]. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istri Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

06]. Hari ini sebelum Anda mengeluh tentang hidup Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

07]. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak Anda
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
08]. Sebelum Anda mengeluh tentang rumah Anda yang kotor karena pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

09]. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya Anda telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.

10]. Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Anda,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

11]. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,

12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika Anda sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Anda masih hidup !
a. Life is a gift
b. Live it…
c. Enjoy it…
d. Celebrate it…
e. And fulfill it.
13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan

15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,,,

16]. It’s true you don’t know what you’ve got until it’s gone,
but it’s also true You don’t know what you’ve been missing until it arrives!!!
Jadi……..berhentilah mengeluh, hadapilah manis pahitnya hidup dengan bersyukur terhadap semua yang telah Tuhan berikan….
0 komentar

Akan jadi apa kamu nanti....????????

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”
“Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi.. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, > melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah > direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu?
Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau > pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”. “Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

Masa depan kita ada di tangan kita masing-masing, kita yang menentukan nasib kita sendiri dengan bertawakal dan berdoa kepada-Nya untuk menentukan akan jadi apa diri kita sesuai dengan yang kita inginkan......!!!

Semoga Sukses Buat Semuanya...
Amiennn......
0 komentar

Hiduplah Dalam Batasan Hari ini

“Hari Kemarin…

Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja… ”
“Hari esok…
Esok hari belum tiba; biarkan saja…”
“Hari ini…Pusatkan diri anda untuk hari ini…”
Itu adalah tiga hari yang selalu mengiringi kehidupan kita di dunia ini.

Yang lalu telah berlalu dan harapan itu masih gaib dan kita punya waktu dimana kita harus ada yaitu HARI INI .

Hari kemarin bukan untuk dilupakan tetapi bukan juga untuk selalu diingat . Ada dua hal yang selalu menemani saat hari kemarin yaitu KEBERHASILAN & KETERPURUKAN.

Mengingat keberhasilan dalam hari kemarin bisa menjadi bahan bakar semangat agar lebih baik lagi tetapi mengingat keterpurukan dapat membunuh semangat , mematikan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Hari kemarin mungkin kita dikecewakan oleh seorang wanita yang benar-benar kita cintai dan pikiran kita selalu membawa kearah kekecewaan itu hingga banyak hal yang harus kita lakukan hari ini malah tidak dilakukan.

__________________________________________________ _____
Orang yang selalu gundah hidup dalam kecemasan adalah mereka yang terlalu BANYAK WAKTU LUANGNYA dan SEDIKIT AKTIVITASNYA

__________________________________________________ _____

Bila suatu saat Anda menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah pikiran hari kemarin akan datang. Mulai dari menginggat kegelapan hari kemarin , menyesali kesialan hari ini , hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu terjadi.

INGAT ! PIKIRAN yang mengubah NASIB kita.

Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata , belum berwujud dan tidak memiliki rasa dan warna.

Kita boleh MERENCANAKAN kehidupan hari esok kita dan itu PENTING sebagai tujuan hidup kita. Namun hindarilah angan-angan yang berlebihan yang membuat kita hanya mengkhayal tanpa melakukan sesuatu apapun.

Kita mengharapkan di hari esok bertemu dengan seorang wanita cantik , tinggi , berambut panjang dan keturunan chinese. Dan setiap hari hanya berkhayal sambil tidur diatas ranjang tanpa melakukan apapun yang menuju tujuan kita ke arah sana.

Kita ingin mengetahui menikah dengan siapa nanti lalu bagaimana kehidupan keuangan di hari esok lalu kesehatan kita bagaimana hingga kita mendatangi peramal kehidupan atau mengikuti sms ramalan yang selalu ada di televisi.

Dan hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Menurut peramalnya kita akan menikah dengan janda beranak tiga kemudian tinggal di sebuah kontrakan kecil yang kumuh dan hanya mendapatkan uang dari santunan.

Pada akhirnya kita menjadi ketakutan karena ramalannya dan kita tidak bergairah untuk hidup karena sudah mengetahui masa depan walaupun itu belum tentu terjadi.


MASA DEPAN DITENTUKAN SEKARANG DAN PASTI DATANG.

Jangan dulu menyebrangi jembatan sebelum kita sampai di jembatan itu.

Lakukan apa yang bisa Anda kerjakan saat ini jangan sampai waktu luang membuat pikiran Anda terbang kembali menuju hari kemarin dan mengkhayal sesuatu untuk hari esok.

Tidak perlu melakukan hal-hal yang menguras keringat untuk memanfaatkan waktu luang Anda. Membaca tulisan ini pun Anda sudah memanfaatkan waktu luang Anda dengan baik

Bunuhlah setiap waktu kosong anda dengan “pisau” kesibukan !

Success !
0 komentar

K.E.R.E.N.D.A.H.A.N H.A.T.I

Rendah hati adalah syarat pertama jika kita ingin mencapai derajat sebagai insan yang bertakwa.
Rendah hati merupakan puncak dari akhlak seorang mukmin, yaitu rendah hati kepada Allah, Sang Pemilik kehidupan.
Rendah hati tidak mungkin diraih hanya dengan ilmu, harus diiringi dengan amal perbuatan.
Rendah hati dari segi ilmu memang mudah dipelajari, namun dalam implementasinya membutuhkan waktu yang tidak singkat, bisa bertahun-tahun.
Rendah hati bertahap belajarnya. Seiring perjalanan usia, ilmu dan pengalaman seharusnya semakin rendah hati.
Rendah hati dapat diteladani dari diri Rasulullah saw., karena beliaulah orang paling bertakwa di seluruh alam semesta. Bahkan, malaikat pun hormat kepada beliau karena derajat beliau yang begitu mulia di sisi Allah SWT. Nabi Muhammad saw. dipuji oleh Allah sebagai makhluk dengan akhlak sangat terpuji dan mendapat anugerah sebagai kekasih Allah (habîbullâh).

Saat kita berusaha mencapai puncak, hal ini laksana mendaki gunung. Agar lebih mudah mendakinya, maka badan kita harus condong ke depan dan pandangan mata ke arah bawah. Pernahkah kita melihat seorang pendaki gunung berjalan sambil menegakkan badan, mendongakkan kepala dan membusungkan dada? Semakin curam jalan yang kita daki, kita pun semakin merunduk, bahkan merayap. Bukankah pada dasarnya panjat tebing dilakukan dengan merayap?
Tatkala sudah di puncak, rendah hati tetap harus menghiasi diri. Angin pasti berhembus lebih kencang ketika kondisi kita di puncak. Agar bisa bertahan bahkan maju terus walaupun terpaan angin begitu besar, maka kita harus berjalan sambil membungkuk. Semakin kencang anginnya, berarti badan kita semakin membungkuk bahkan merayap.
Semoga Allah senantiasa menghiasi diri kita dengan sifat rendah hati, amin...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri..
 bY : TAUFIK ISMAIL
0 komentar

Mengenal Arti Sebuah KETULUSAN

Didalam kehidupan kita yang sudah puluhan tahun boleh dikatakan telah banyak kebenaran yang diketahui. Baik dari membaca, mendengar, maupun dari pengalaman hidup. Apalagi bagi kita sebagai umat beragama yang memiliki kitab suci. Saya yakin Kebenaran yang ada di kitab suci telah banyak yang diketahui dan dimengerti serta dipahami.

Sayangnya semua Hakekat Kebenaran itu masih belum banyak berarti untuk mengubah perilaku dan akhlak hidup kita menjadi lebih baik. Tentu ini menjadi pertanyaan besar.
 Ibarat obat, isi kitab suci adalah obat terbaik. Mengapa belum bisa menyembuhkan penyakit keserakahan, kesombongan, kebencian, kemaksiatan, dan kebodohan batin pada manusia? Jawaban klasiknya adalah bukan Kebenaran kitab sucinya yang tidak benar tapi manusianya yang memang tidak baik.
 Itulah kebenarannya!

Lalu mengapa manusianya yang tidak baik, padahal dasarnya adalah baik? Begitu juga kitab suci yang berisi Kebenarannya adalah untuk menjadikan manusia kembali menjadi baik.
 Tetapi mengapa banyak manusia yang notabene taat beragama tetapi perilakunya belum bisa baik juga? Istilahnya pagi khusuk berdoa menyembah Tuhan, siang asik bergumul dengan dosa tanpa ingat lagi Tuhan.

Satu hal adalah seberapa baikpun Kebenaran yang ada, mau dibaca siang malam, mau didengar terus-terusan sampai telinga pekak, tetapi bila ketulusan hati kita belum terbuka lebih akan menjadi sia-sia.
 Kebenaran itu tak akan banyak berfaedah, hanya numpang lewat di hati kita. Tidak singgah dan melekat.

Saya berkeyakinan semua Kebenaran yang ada adalah bertujuan untuk membuka kesadaran akan sebuah ketulusan yang telah ada didasari hati kita untuk menjadi sesadar-sadarnya sehingga tersadarkan. Karena sesungguhnya Kebenaran Sejati itu telah tersimpan rapi didasari hati untuk dibangkitkan.
 Bila ketulusan hati telah dibuka dan dibangkitkan, maka ia akan melebihi segala Kebenaran yang ada.

Kebenaran adalah Kebenaran. Ia takkan berarti apa-apa bila bertemu dengan tiada ketulusan hati. Ketulusan hati adalah benih-benih Kebenaran yang akan terus bersemi sepanjang hidup manusia.

Jadi, betapa agungnya sebuah ketulusan hati yang bisa dibangkitkan, karena itu adalah sebagai pintu untuk membuka Kebenaran yang ada pada diri manusia.
 Sementara itu, saya masih dalam keterlenaan mencarinya kemana-mana.


Suatu hari seorang anak menghampiri meja kerja ayahnya. Lantas ia memungut sebatang pensil yang patah. Anak itu berkata, ”Boleh saya ambil, ayah?”

Ayahnya yang sedang sibuk memandangnya sekilas lalu mengangguk. Sambil tersenyum, ayahnya berkata, ”Ambil saja.”

Setelah itu, ayahnya lupa selamanya. Padahal bagi anaknya, pensil itu sangat berharga untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Ia bersyukur hari itu ia mendapatkan pensil untuk melukis. Setelah meruncingkan pensil itu, ia gunakan dengan baik.

Baginya, itulah alat yang sangat bermakna. Ia dapat mengungkapkan dirinya melalui pensil tersebut. Ia dapat melukis sebuah obyek dengan sangat indah. Itulah cara ia mengungkapkan isi hatinya kepada orang lain. Melalui pensil itu ia dapat membagikan pengalaman hidupnya kepada orang lain.

Dengan hati yang tulus anak itu telah mendapatkan pensil itu. Dengan hati yang tulus pula ia membagikan pengalaman hidupnya kepada sesama melalui lukisan-lukisannya. Begitu banyak orang mengagumi lukisan-lukisannya. Begitu banyak orang menyukai karya-karyanya.

Ketulusan hati di jaman sekarang sudah menjauh dari hidup manusia. Mengapa bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena manusia lebih mementingkan egoismenya. Apa yang dilakukan itu demi kepentingan dirinya sendiri saja. Kepentingan sesama dikesampingkan.

Orang yang memiliki ketulusan hati yang besar biasanya mengerjakan sesuatu tanpa tedeng aling-aling. Orang seperti ini berani menularkan apa yang dimilikinya kepada sesamanya. Ilmu yang dimiliki itu bukan dipakai hanya untuk diri sendiri. Ilmu yang dimiliki itu digunakan untuk kesejahteraan sesama.

Orang yang tulus hati biasanya berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Ia tidak peduli seberapa besar korban yang akan ia berikan. Baginya, korban itu menjadi suatu keharusan. Mengapa? Karena itulah hakekat manusia. Manusia mesti berani memberikan hidupnya bagi sesamanya.

Apakah orang beriman berani untuk memiliki ketulusan hati dalam hidup ini? Bukankah banyak orang beriman yang takut untuk berkorban bagi sesamanya? Bukankah banyak orang beriman yang berpikir terlalu panjang dan berliku-liku, ketika mesti membantu sesamanya?

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki hati yang tulus terhadap sesama kita. Kita ingin melakukan sesuatu untuk sesama dengan sepenuh hati kita. Dengan demikian, kita dapat menyumbangkan hidup dan karya kita bagi sesama. Kita dapat membangun suatu relasi yang baik yang dapat menyejahterakan sesama.
 
;