Saudaraku, tahukah engkau apa itu tawakal? Apakah sama dengan sabar?
Sebagai seorang muslim yang baik, sudah seharusnya kita tahu apa itu
tawakal. Karena tawakal merupakan ibadah hati yang sangat agung
saudaraku. Mari kita simak hikmah dari hadits-hadits dan perkataan para
ulama berikut.
Dari Abu Hurairoh radiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda, “Akan masuk surga suatu kaum, hati mereka seperti hati
burung” (HR. Muslim) maknanya adalah dalam merealisasikan tawakal.
Lantas seperti apa hati burung? Hal ini dijelaskan oleh hadits dari
sahabat Umar bin khotob radiyallahu’anhu, bahwasannya beliau mendengar
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian
tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki
kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi
hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (shahih Tirmidzi, beliau berkata, ‘hadits hasan sohih)
Mengomentari hadits tersebut, Ibnu Rajab rohimahullah berkata di dalam kitabnya Jami’ul ‘ulum wal Hikam, “Hadits
ini adalah dasar atau asas di dalam bertawakal, hal terebut juga
merupakan diantara sebab yang paling besar dalam memperoleh rizki,” Oleh
karena itu, kita tidak pernah mendengar seekor burung pada pagi hari
terbentur dengan masalah rizki, lalu dia benturkan kepalanya ke tiang
listrik. Itu tidak terjadi pada burung, tapi pada manusia hal tersebut
terjadi dan sering kita dengar di berita atau dia media massa.”
Di dalam realitanya, merealisasikan hakikat tawakal di dalam hati
kita bukan merupakan perkara yang mudah, dia adalah ibadah hati yang
sangat agung, dia merupakan sumber kebaikan. Darinya timbul berbagai
macam ibadah hati yang lainnya. Bahkan hakikat agama adalah tawakal dan inabah (kembali kepada Allah).
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hanya kepada Engkaulah kami
beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS.
Al-Fatihah : 5). Tawakal adalah isti’anah (minta pertolongan) dan inabah adalah ibadah.
Hilangnya berbagai kebaikan, luputnya kita dari amal yang besar,
buruknya ibadah kita – karena tidak hadirnya rasa cinta, harap dan takut
– adalah karena masih jauhnya kita dari hakikat tawakal. Bahkan
kegelisahan dan ketakutan yang menimpa sebagian kaum muslimin adalah
dikarenakan belum hadirnya tawakal di dalam qalbunya.
Berikut ini nukilan kami dari berbagai perkataan ulama tentang
definisi dan hakikat tawakal. Mudah-mudah yang sedikit ini–dengan
taufik dari Allah- bisa membantu kita merealisasikannya. Amin
Definisi Tawakal
Imam Ibnu Rajab rahimahulloh berkata, “Hakekat tawakal adalah
hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh
maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk)
dari urusan-urusan dunia dan akherat”
Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah
menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari
dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada
Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang
dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.
Bertawakallah Hanya Kepada Allah
Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar bertawakal hanya kepada-Nya
dalam banyak ayat. Diantaranya ayat (yang artinya), “Dan hanya kepada
Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang
beriman” (Al-Maidah : 23) “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. At-Tholaq : 3)
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan masuk
surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab….mereka adalah
orang-orang yang tidak minta ruqyah, tidak menyandarkan kesialan kepada
burung dan sejenisnya, tidak berobat dengan besi panas dan mereka
bertawakal kepada Rabb mereka” (HR. Muslim)
Maka dari itu, tawakal kepada Allah adalah syarat sahnya keislaman dan keimanan seseorang. Allah
Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bertawakallah kamu hanya kepada
Allah, jika kamu benar-benar orang-orang beriman” (Al-Maidah :3) dalam
ayat lain Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Musa berkata,
‘wahai kaumku ! apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah
kalian kepada-Nya jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri)”
(QS. Yunus : 84)
Sehingga tawakal merupakan ibadah yang sangat agung. Tawakal
adalah murni ibadah hati, oleh karena itu mengesakan Allah Ta’ala dalam
tawakal adalah merupakan kewajiban, dan memalingkannya kepada selain
Allah merupakan kesyirikan. Wal’iyadzubillah.
“Sungguh kita tidak bisa terlepas dari-Nya sekejap mata pun. Jika
kita bersandar kepada diri sendiri, maka kita telah meyerahkan diri kita
kepada kelemahan yang rendah dan serba kurang, khilaf dan kesalahan.
Dan jika kita bersandar kepada orang lain maka kita telah mempercayakan
diri kepada yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan
bahaya dan manfaat, serta tidak mampu mematikan dan menghidupkan serta
membangkitkan dan mengumpulkan kembali”. Itulah nukilan dari perkataan
Ibnul Qayim rahimahullah didalam kitabnya alfawaid. wallahu ‘alam.
Maka bertawakallah wahai hamba Allah kepada Dzat yang ditangan-Nya segala urusan dan yang memiliki segalanya.
Bertawakal Kepada Selain Allah
Bertawakal kepada selain Allah ada tiga keadaan :
1) Syirik akbar (besar). Yaitu seorang bertawakal
kepada selain Allah Ta’ala dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh
Allah Ta’ala tidak selain-Nya. Contoh : seseorang bertawakal kepada
makhluk /wali di dalam memperoleh kebaikan atau bertawakal kepada
makhluk dengan hatinya Karena ingin mempunyai anak atau pekerjaan,
sedang makhluk tersebut tidak mampu memenuhi keinginannya tersebut.
2) Syirik kecil. Yaitu seseorang bertawakal kepada
selain Allah dalam perkara dimana Allah Ta’ala memberikan kemampuan
kepada makhluk tersebut untuk memenuhinya. Contoh : seorang istri
bertawakal kepada suami dalam kebutuhan hariannya. (peringatan: syirik
walaupun kecil, pelakunya tetap diancam neraka hingga ia bertaubat)
3) Boleh. Yaitu seseorang bertawakal kepada selain
Allah dalam arti mewakilkan urusannya kepada seseorang tanpa disertai
penyandaran hati. Contoh : menyerahkan kendali perusahaan kepada seorang
menejer. seperti Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan
kepada Ali radiyallahu’anhu untuk menyembelih qurbannya dan mewakilkan
kepada Abu Hurairoh radiyallahu’anhu dalam masalah sodaqoh.
Menghadirkan Tawakal
Lalu bagaimana cara menghadirkan tawakal? Tawakal kepada Allah
Ta’ala merupakan ibadah yang dituntut dari seorang mu’min Kekuatan
tawakal seseorang kepada Allah Ta’ala kembali kepada pemahamannya
tentang rububiyah Allah Ta’ala dan keimanannya yang mendalam terhadap
tauhid rububiyah. Maka untuk menghadirkan dan memunculkan tawakal di
dalam hati kembali kepada perenungan terhadap atsar-atsar dari rububiyah
Allah Ta’ala.Semakin banyak seorang hamba merenung dan memperhatikan
kekuasaan dan kerajaan Allah di langit dan di bumi, pengetahuannya bahwa
Allah adalah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, bahwasannya hanya
Dia yang mengatur dan menjalankannya dan pertolongan Allah kepada
hamba-Nya merupakan sesuatu yang mudah dibandingkan dengan pengaturan
alam semesta ini, maka akan semakin besar pengagungannya kepada Allah,
semakin kuat pula tawakalnya kepada Allah Ta’ala, ia pun mengagungkan
perintah-Nya (dengan melaksanakannya), dan mengagungkan larangan-Nya
(dengan menjauhinya), dan ia pun meyakini tidak ada sesuatupun yang
dapat melemahkan-Nya dan tidak ada yang sulit bagi-Nya. “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya” (QS. Ath-Tholaq : 3)” Itulah nukilan perkataan Syekh Sholih Alu Syaikh di dalam kitabnya at-tamhid syarah kitab tauhid. walahu’alam
Penjelasannya, apabila seorang hamba mengilmui tentang keesaan Allah
dalam hal menolak bahaya dan mendatangkan manfaat, dalam hal memberi dan
menahan, dalam hal mencipatakan dan memberi rizki, dalam hal
menghidupakan dan mematikan (dan ini semua adalah rububiyah Allah), maka
itu akan membuahkan ubudiyah tawakal kepada-Nya semata secara batin,
dan konsekwensi tawakal dan buahnya secara lahiriyah.
Tawakal Bukan Hanya Pasrah
Kadang seseorang salah kaprah dalam memaknai tawakal, ia
menganggap bahwa tawakal adalah legowo (menerima total) keadaan tanpa
ada upaya perubahan, namun perlu diketahui bahwa tawakal bukan berarti
meninggalkan usaha atau sebab, karena melakukan atau mengambil sebab
merupakan kesempurnaa tawakal. Akan tetapi tidak boleh bersandar kepada
sebab tersebut. Syekhul islam Abul Abbas rohimahullah berkata,
“Meninggalkan sebab adalah celaan terhadap syari’at dan bersandar kepada
sebab adalah syirik”. Murid beliau Syamsudin Abu Abdillah rahimahullah
berkata, “Pelanggaran terbesar terhadap syari’at adalah meninggalkan
sebab karena menyangka bahwa mengambil sebab akan menafikan tawakal”
yang lain berkata, “Mengandalkan sebab adalah celaan terhadap tawakal
dan tauhid, sedangkan meninggalkan sebab merupakan celaan terhadap
syari’at dan hikmah Allah” karena Allah telah menjadikan segala sesuatu
ada sebab dan akibatnya. Maka kita katakan, “Di dalam bertawakal harus
terpenuhi dua syarat : pertama, menyerahkan seluruh perkara kepada Allah
Ta’ala yang di tangan-NYalah segala urusan. Kedua, tidak boleh
bersandar kepada sebab yang dilakukannya. Hati dan batinnya bersandar
total kepada Allah Ta’ala, sedangkan anggota badannya menjalani sebab.
Dengan itu diketahui bahwa tawakal adalah murni ibadah hati. Barang
siapa yang memalingkannya kepada selain Allah maka dia telah berbuat
syirik, walaupun dia meyakini bahwa Allah Ta’ala satu-satunya yang
menciptakan dan memberi rizki.
Hadits berikut lebih memperjelas: Dari Umar bin Khotob
radiyallahu’anhu, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah
akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung.
Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan
perut kenyang” (Shohih Tirmidzi)
Tawakal burung adalah dengan pergi mencari makanan, maka Allah jamin
dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung-burung itu tidak tidur
saja di sarangnya sambil menunggu makanan datang, tetapi pergi jauh
mencari makanan untuk dirinya dan anak-anaknya.
Ketahuilah, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang
yang paling bertawakal kepada Allah, namun beliau melakukan usaha.
Ketika perang uhud beliau memakai dua baju besi dan ketika hijrah ke
madinah beliau menyewa penunjuk jalan, beliau juga berlindung dari panas
dan dingin, tapi hal tersebut tidak mengurangi tawakalnya kepada Allah
Ta’ala.
Jadi, mengambil sebab yang disyari’atkan menunjukan kesempurnaan
tawakal dan kekuatannya, dan meninggalkan sebab menunjukan kebodohannya
terhadap syari’at rabbnya. Barangsiapa yang membaca kisah-kisah para
Nabi, terkhusus Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para sahabatnya akan melihat bahwasannya mereka adalah manusia yang
paling bertawakal kepada Allah Ta’ala, bersamaan dengan itu mereka juga
mengambil sebab dan meyakini bahwa hal tersebut merupakan kesempurnaan
tawakal kepada Allah.
Saudaraku, semoga kita dijadikan hamba-hamba-Nya yang selalu
bertawakal dan senantiasa ridha dengan apa yang Allah berikan kepada
kita, sekecil apapun rizki yang kita terima tentu harus kita syukuri.
Wallahu ta’ala a’lam bishawab.


0 komentar:
Posting Komentar