“Kuatnya keinginan-keinginan manusia itu tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah” (al-Hikam : 3)
“Istirahatkanlah dirimu dari mengatur yang akan terjadi dalam
dalam hidup, karena segala sesuatu yang Allah telah menanggungnya
darimu, kamu jangan mengerjakannya untuk dirimu sendiri” (al-Hikam : 4)
Semoga Allah swt membimbing dan menolong kita untuk bisa menghadapi
dan menikmati dengan baik setiap keadaan yang terjadi dalam hidup ini,
tidak terlalu gembira di saat keinginan berhasil dicapai atau tidak
menderita dan putus asa di saat keinginan belum berhasil menjadi nyata.
Seorang mukmin meyakini bahwa di dalam hidup ini ada ada 2
kehendak, yaitu kehendak Allah dan kehendak makhluk. Kehendak atau
ketetapan Allah pasti akan terjadi, sedangkan kehendak makhluk mungkin
bisa terjadi, namun mungkin juga tidak. ”Dan adalah ketetapan Allah itu
suatu ketetapan yang pasti terlaksana” (Qs. 33 al-Ahzab : 38).
Sebagai
makhluk Allah dan hamba-Nya, keinginan atau cita-cita manusia hanya
akan tercapai jika ia bersesuaian dengan kehendak dan takdir Allah. Jika
keinginan manusia berlainan dengan kehendak Allah, maka sekuat apapun
keinginannya dan sekeras apapun usahanya, ia tidak akan terealisasi.
Oleh karena itu, Imam Ibnu Atha’illah as-Sakandari di dalam Kitab
al-Hikam mengingatkan kepada kita, “Kuatnya keinginan-keinginan manusia
itu tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir Allah”. (al-Hikam :
3)
Rasa kesal, sedih, kecewa, tidak bahagia dan putus asa yang
sering muncul pada diri kita di saat keinginan belum berhasil diraih,
itu disebabkan kita lupa diri, bahwa kita adalah makhluk Allah yang
hidupnya pasti berada di dalam garis “Takdir Allah” yang telah
ditetapkan-Nya. Kita hanya mampu berkeinginan, berencana dan berusaha,
sedangkan apa yang akan terjadi, tercapai atau tidak, berhasil atau
gagal, yang berkuasa menentukan bukan kita, tetapi Allah Azza Wa Jalla.
Dan hal itu hakikatnya sudah tertulis di dalam ketetapan Takdir Allah.
Bahkan Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan Hadits Rasulullah saw yang
menyatakan bahwa di saat janin berusia 4 bulan di rahim ibunya,
bersamaan dengan ditiupkannya ruh, Allah telah menuliskan pula
ketetapan takdir-Nya atas kehidupan seorang manusia.
Meskipun takdir
telah ditetapkan oleh Allah, namun tidak ada manusia yang mengetahui
rincian takdir hidupnya. “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun
yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. 31 Luqman : 34). Oleh karena itu,
tentang apa yang akan terjadi di dalam hidup, itu wewenang dan urusan
Allah, bukan wewenang dan urusan kita. Kita tidak tidak diperintahkan
untuk menyibukkan dan menyusahkan diri memikirkan, mengatur atau
melakukan sesuatu yang sudah diatur dan dilakukan oleh Allah untuk kita.
Inilah makanya, Imam Ibnu Atha’illah memberi nasihat kepada kita,
“Istirahatkan dirimu dari mengatur yang akan terjadi dalam dalam hidup,
karena segala sesuatu yang Allah telah menanggungnya darimu, kamu
jangan mengerjakannya untuk dirimu sendiri” (al-Hikam : 4).
Oleh karenanya, agar hidup ini menjadi ibadah, terasa nikmat dan bahagia, diantara langkah yang harus kita tempuh adalah:
Pertama,
kosongkan hati dan akal pikiran kita dari beban mengatur apa yang akan
terjadi dalam hidup ini. Kita serahkan sepenuhnya beban ini kepada
Allah. Kita menyadari bahwa apa yang akan terjadi di dalam hidup ini
sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Qadha’ dan Qadar-Nya. Kita juga
meyakini bahwa yang Allah tentukan untuk kita adalah yang terbaik. “Bisa
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. 2 Al-Baqarah : 216).
Yang harus kita lakukan adalah menyiapkan diri menghadapi kenyataan,
segera menyambutnya dengan syukur apabila yang datang nikmat, atau
segera menyambutnya dengan sabar jika ia adalah musibah. Syukur akan
mendatangkan tambahan nikmat, sedangkan sabar adalah jalan memperoleh
pahala tak terbatas. “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu” (Qs.14. Ibrahim : 7).
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan
pahala mereka tanpa batas” (Qs.39. az-Zumar : 10). Inilah diantara
keajaiban orang beriman. Jika mendapat luasnya nikmat ia bersyukur, itu
adalah kebaikan. Jika tertimpa himpitan musibah ia bersabar, itu adalah
kebaikan. Tidak ada keajaiban ini kecuali bagi seorang yang beriman.
Kedua,
fokuskan hati, akal dan seluruh anggota badan kita untuk memperhatikan,
memikirkan dan melaksanakan kewajiban kita beribadah kepada Allah,
beramal shalih, da’wah, jihad fi sabilillah, serta kerja di bidang usaha
yang dibenarkan oleh hukum syari’ah-Nya. Pada permulaannya kita membuat
rencana yang sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Di saat pelaksanaan
kita kerahkan seluruh daya dan upaya disertai do’a yang tiada
putus-putusnya. Namun pada akhirnya, apa yang akan terjadi ketentuannya
kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Kita bersyukur kepada Allah,
tidak terlalu gembira dan bangga diri jika berhasil. Kita tidak
menderita dan putus asa jika masih belum sukses. Bahkan kita tetap
merasa bahagia atas amal dan usaha yang kita telah lakukan, apapun
hasilnya, karena yang Allah nilai dari kita adalah amal dan usahanya,
bukan hasilnya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kemampuannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya,
dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (Qs.2.
al-Baqarah : 286). Oleh karena itu kita tidak akan pernah berhenti
beribadah, beramal dan berusaha, sampai akhirnya kita menghadap Allah
Azza Wa Jalla.
Hidup yang terasa nikmat dan bahagia ini adalah buah
dari iman yang benar kepada Qadha’ dan Qadar Allah swt. “Tiada suatu
bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis di dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih hati
terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Qs. 57. al-Hadiid :
22-23).
Pada suatu hari Nabi Sulaiman a.s. duduk di pinggir danau.
Lalu tiba-tiba Beliau melihat seekor semut membawa sebiji gandum yang dibawanya menuju danau.
Nabi Sulaiman a.s. terus memperhatikan semut itu hingga sampai di tepi danau,
Lalu tiba-tiba ada seekor katak yang mengeluarkan kepalanya dari dalam air seraya membuka mulutnya,
Maka semut itu pun masuk ke dalam mulut katak itu.
Kemudian, katak itu pun menyelam ke dasar danau dalam waktu yang cukup lama.
Sementara Nabi Sulaiman a.s. memikirkan hal itu dengan terheran-heran.
Setelah itu, katak tersebut keluar dari dalam air dan membuka mulutnya.
Lalu semut itu keluar, sementara sebiji gandum yang dibawanya sudah tidak ada lagi bersamanya.
Nabi Sulaiman a.s. memanggil semut itu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan barusan,
”Hai semut, pengalaman apa sajakah selama berada di mulut katak?”
Semut itu menjawab, ”Wahai Nabiyullah, sesengguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga, dan di dalam cekukngan batu itu terdapat seekor cacing yang buta.
Yang Allah SWT telah menciptakannya di sana.
Cacing tersebut tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya.
Dan sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya.”
Lanjut semut, ”Oleh karena itu, aku membawakan rezekinya, dan Allah SWT telah menguasakan kepadaku sehingga katak ini membawaku kepadanya.
Maka air ini tidaklah membahayakan bagiku.
Sesampai di batu itu, katak ini meletakkan mulutnya di rongga batu itu, lalu aku pun dapat masuk ke dalamnya.
Kemudian selesai aku menyampaikan rezeki kepada cacing itu,
maka aku keluar dari rongga batu kembali ke mulut katak ini.
Lalu katak ini mengembalikan aku di tepi danau.”
Nabi Sulaiman a.s. kemudian bertanya, ”Apakah kamu mendengar suara tasbih cacing itu?”
Semut itu menjawab, ”Ya nabiyullah, cacing itu mengucapkan,
’Ya man la yansani fi jaufi hadzihil bi rizqika, la tansa ’ibadakal mu’minina bi rahmatik"
(Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu)’.”
Allah Ta'ala berfirman, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)." (QS Huud 11:6)
Lalu tiba-tiba Beliau melihat seekor semut membawa sebiji gandum yang dibawanya menuju danau.
Nabi Sulaiman a.s. terus memperhatikan semut itu hingga sampai di tepi danau,
Lalu tiba-tiba ada seekor katak yang mengeluarkan kepalanya dari dalam air seraya membuka mulutnya,
Maka semut itu pun masuk ke dalam mulut katak itu.
Kemudian, katak itu pun menyelam ke dasar danau dalam waktu yang cukup lama.
Sementara Nabi Sulaiman a.s. memikirkan hal itu dengan terheran-heran.
Setelah itu, katak tersebut keluar dari dalam air dan membuka mulutnya.
Lalu semut itu keluar, sementara sebiji gandum yang dibawanya sudah tidak ada lagi bersamanya.
Nabi Sulaiman a.s. memanggil semut itu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan barusan,
”Hai semut, pengalaman apa sajakah selama berada di mulut katak?”
Semut itu menjawab, ”Wahai Nabiyullah, sesengguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga, dan di dalam cekukngan batu itu terdapat seekor cacing yang buta.
Yang Allah SWT telah menciptakannya di sana.
Cacing tersebut tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya.
Dan sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya.”
Lanjut semut, ”Oleh karena itu, aku membawakan rezekinya, dan Allah SWT telah menguasakan kepadaku sehingga katak ini membawaku kepadanya.
Maka air ini tidaklah membahayakan bagiku.
Sesampai di batu itu, katak ini meletakkan mulutnya di rongga batu itu, lalu aku pun dapat masuk ke dalamnya.
Kemudian selesai aku menyampaikan rezeki kepada cacing itu,
maka aku keluar dari rongga batu kembali ke mulut katak ini.
Lalu katak ini mengembalikan aku di tepi danau.”
Nabi Sulaiman a.s. kemudian bertanya, ”Apakah kamu mendengar suara tasbih cacing itu?”
Semut itu menjawab, ”Ya nabiyullah, cacing itu mengucapkan,
’Ya man la yansani fi jaufi hadzihil bi rizqika, la tansa ’ibadakal mu’minina bi rahmatik"
(Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu)’.”
Allah Ta'ala berfirman, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)." (QS Huud 11:6)
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap,
di situlah wajah Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. 2: 115)
Tidak banyak di antara kita yang sanggup bersungguh-sungguh menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Dzat yang Maha Mengurus makhluk-makhluknya. Jantung yang berdetak teratur. Darah yang dipompakan dan dialirkan ke seluruh tubuh. Kedip mata, yang kadang kita sendiri tak menyadarinya. Bisakah kita mengaturnya walau barang sedetik?
Lalu, kaki pun dilangkahkan di pagi buta menuju suatu tempat. Kadang-kadang terburu-buru dan berharap tiba lebih cepat sampai di tujuan. Tiba dijalan kebetulan sebuah kendaraan mobil melintas di hadapan. Tanpa di stop, mobil itu ternyata berhenti sendiri. Kebetulan ternyata pengemudinya seorang teman akrab. Kebetulan pula tempat yang ditujunya sama. Namun, betulkah semua itu sekadar faktor “kebetulan” belaka?
Terjadinya sering merasakan serba “kebetulan”, ini pun satu bukti mengenai keterbatasan kita dalam memahami hakikat suatu kejadian. Padahal, Allah-lah yang mengurus makhluk-makhluk-Nya dan Dia pula yang menetapkan segala kejadian sekecil apapun. Tiada sehelai rambut yang terlepas dari kulit kepala atau selembar daun yang gugur ketanah, kecuali terjadinya dengan ijin Allah. Adakah dengan begitu suatu kejadian terjadi secara kebetulan? Masya Allah, Dia-lah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Sekai-kali tak ada satu kekuatan pun yang mampu mengatur suatu kejadian, selain karena ijin-Nya!
Subhanallah, mudah-mudahan Allah yang Maha Perkasa membukakan bagi kita pintu hikmah-Nya agar kita mampu memetik “ilmu” dibalik segala kejadian. Suatu “ilmu” yang dapat menjadi jalan bagi kita agar semakin mengenal-Nya. Akan dituturkan dua kejadian yang sepintas tampak sepele, tetapi demi Allah, di sinilah terbuktikan kemahabesaran Dia yang dengan amat mengesankan telah mengatur suatu kejadian, yang justru sepintas tampak seperti serba “kebetulan”.
Kejadian pertama, ketika sebuah keluarga tengah melakukan perjalanan pulang ke suatu kota dengan kendaraan pribadi. Salah seorangnya adalah ibu yang tampak sudah renta dan uzur, sehingga perlu perlakuan khusus.
Di tengah perjalanan, masuk waktu shalat. Dicarilah masjid yang berandanya teduh agar ibu tersebut bisa istirahat sementara dengan nyaman. Setelah melewati beberapa masjid, maka ditemukanlah sebuah masjid dengan beranda yang teduh.
Ketika mobil hendak diparkirkan, ternyata sulit mendapat tempat parkir yang cukup. Mobil pun terus dilajukan pelan-pelan, sampai akhirnya mentok di sebuah pelataran. Ternyata pelataran tersebut letaknya dekat sekali dengan tempat wudhu. Akan tetapi, ibu yang sudah uzur itu kan juga mungkin perlu ke kamar kecil dan berwudhu? Masya Allah, bukankah tempat wudhu tersebut ternyata khusus untuk wanita? Muncul pula persoalan lain, yakni perlu kursi untuk duduk karena memang si ibu sudah tak kuat berdiri. Namun, subhanallah, ternyata kursi yang dibutuhkan itu memang sudah ada pula dekat tempat wudhu tersebut.
Semua seperti terjadi secara kebetulan. Segalanya seperti sudah ada orang yang mengatur dan menyiapkannya. Padahal, Allah-lah yang memang Maha Mampu menyiapkan segala-galanya. Sekiranya kita pela menangkap momen-momen kejadian ini dengan hati yang penuh cahaya iman, niscaya akan semakin mampu mengagumi Kemahaperkasaan-Nya dan menangkap hikmah (pelajaran) di balik segala kejadian.
Kejadian kedua menimpa seorang mubaligh yang juga tengah melakukan perjalanan malam hari menuju Jakarta dengan diantar beberapa orang di dalam kendaraannya. Mobil meluncur masuk jalan tol jagorawi. Namun, di tengah perjalanan, mesin mobil tiba-tiba mati karena kehabisan bensin. Kehabisan bensin di tengah jalan tol di malam hari yang gelap gulita. Jauh ke sana ke mari, adakah yang bisa diperbuat, selain bertumpuk kekesalan, kedongkolan dan kekecewaan?
Mengapa persiapannya tidak disempurnakan? Mengapa sebelum berangkat tadi tidak membeli bensin yang cukup? Mengapa sampai berbuat lalai, padahal Allah telah mengajari manusia supaya peka dan senantiasa berhati-hati? Dan sejumlah pertanyaan “Mengapa” yang lain pun meluncur dari mulut?
Tetapi, sudahlah. Toh kejadiannya sudah terjadi. Maka, persenelling pun di-prei-kan dan kopling pun diinjak. “Biarlah Allah yang menghentikan kendaraan ini ditempat yang Dia sukai. Kita taubat dan berdzikir saja. Kita tak perlu lagi terus-menerus mengeluh,” ujarnya. Akhirnya mobil itupun melaju perlahan dan semakin perlahan, sehingga berhenti sendiri di pinggir jalan.
Tak lama setelah kejadian itu, tiba-tiba dirasakan ingin buang air kecil. Mubaligh itupun turunlah dari mobil dan berjalan mencari tempat yang agak terlindung. Akan tetapi, ternyata dari arah jalan cahaya lampu-lampu kendaraan yang berseliweran cepat di jalan tol masih menyorot kearahnya, sehingga ia pun terus berjalan sampai mendekati pagar kawat pembatas.
Sepintas ia melihat ternyata di bagian tertentu dari pagar yang dihampirinya ada bolong besar seperti sengaja dibuat orang untuk dapat dilalui. Dan ketika ia lebih cermat lagi mengamatinya, ternyata di dekatnya ada plang dengan tulisan sederhana berbunyi: “Di sini jual bensin dua tax”. Allahu Akbar!
Memang Allah Maha Pengatur kejadian yang Maha Sempurna. Betapa lezatnya jika kita mampu menangkap isyarat-Nya bahwa segala kejadian yang tampaknya serba kebetulan itu sebenarnya sudah diatur oleh Allah. Kita saja yang kerapkali tidak peka membaca aneka lintasan kejadian yang memang telah begitu pas dan rapi diatur oleh Allah SWT. Akibatnya, kalbu (hati) ini hampir tidak pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya merasakan hikmah (pelajaran) di balik segala fenomena yang terjadi.
Tampaknya dalam mengarungi kehidupan ini kita harus sungguh-sungguh minta di atur oleh Allah. Boleh saja kita sibuk merencanakan sesuatu dengan baik. Otak seratus persen kita gunakan untuk mengatur taktik dan strategi sesuai dengan syari’at yang kita ketahui. Tubuh pun sibuk berikhtiar, berkuah peluh simbah keringat, semampu yang bisa kita lakukan. Akan tetapi, keyakinan hati tetap pada satu hal, yakni biarlah Allah mengatur segala urusan kita. Karena, Dialah yang Maha Tahu hal yang terbaik dan yang terburuk menurut perhitungan-Nya.
Inginkah kita termasuk orang yang memiliki kalbu (hati) yang peka, lezat menikmati episode demi episode kejadian dalam hidup ini, dan yakin seyakin-yakinnya bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sudah diatur oleh Allah? Kuncinya ternyata sederhana saja. Yakni, akuilah bahwa diri kita ini tak lebih dan tak kurang hanya seorang hamba, yang sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Dia, Dzat Pemilik Jagat raya alam semesta ini. Ah, siapalah kita ini. Hanya sesosok makhluk yang tiada memiliki daya dan upaya, tanpa ijin dan kehendak-Nya.
Tak heran kalau Imam Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, berujar, “Buktikanlah dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan Kemahasempurnaan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemulyaan-Nya. Akuilah kekurangannmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Dan akuilah kelemahanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuatan-Nya.”
Sungguh betapa sangat indahnya bila hidup dan segala aktifitas kita diatur oleh-Nya. []
Tidak banyak di antara kita yang sanggup bersungguh-sungguh menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Dzat yang Maha Mengurus makhluk-makhluknya. Jantung yang berdetak teratur. Darah yang dipompakan dan dialirkan ke seluruh tubuh. Kedip mata, yang kadang kita sendiri tak menyadarinya. Bisakah kita mengaturnya walau barang sedetik?
Lalu, kaki pun dilangkahkan di pagi buta menuju suatu tempat. Kadang-kadang terburu-buru dan berharap tiba lebih cepat sampai di tujuan. Tiba dijalan kebetulan sebuah kendaraan mobil melintas di hadapan. Tanpa di stop, mobil itu ternyata berhenti sendiri. Kebetulan ternyata pengemudinya seorang teman akrab. Kebetulan pula tempat yang ditujunya sama. Namun, betulkah semua itu sekadar faktor “kebetulan” belaka?
Terjadinya sering merasakan serba “kebetulan”, ini pun satu bukti mengenai keterbatasan kita dalam memahami hakikat suatu kejadian. Padahal, Allah-lah yang mengurus makhluk-makhluk-Nya dan Dia pula yang menetapkan segala kejadian sekecil apapun. Tiada sehelai rambut yang terlepas dari kulit kepala atau selembar daun yang gugur ketanah, kecuali terjadinya dengan ijin Allah. Adakah dengan begitu suatu kejadian terjadi secara kebetulan? Masya Allah, Dia-lah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Sekai-kali tak ada satu kekuatan pun yang mampu mengatur suatu kejadian, selain karena ijin-Nya!
Subhanallah, mudah-mudahan Allah yang Maha Perkasa membukakan bagi kita pintu hikmah-Nya agar kita mampu memetik “ilmu” dibalik segala kejadian. Suatu “ilmu” yang dapat menjadi jalan bagi kita agar semakin mengenal-Nya. Akan dituturkan dua kejadian yang sepintas tampak sepele, tetapi demi Allah, di sinilah terbuktikan kemahabesaran Dia yang dengan amat mengesankan telah mengatur suatu kejadian, yang justru sepintas tampak seperti serba “kebetulan”.
Kejadian pertama, ketika sebuah keluarga tengah melakukan perjalanan pulang ke suatu kota dengan kendaraan pribadi. Salah seorangnya adalah ibu yang tampak sudah renta dan uzur, sehingga perlu perlakuan khusus.
Di tengah perjalanan, masuk waktu shalat. Dicarilah masjid yang berandanya teduh agar ibu tersebut bisa istirahat sementara dengan nyaman. Setelah melewati beberapa masjid, maka ditemukanlah sebuah masjid dengan beranda yang teduh.
Ketika mobil hendak diparkirkan, ternyata sulit mendapat tempat parkir yang cukup. Mobil pun terus dilajukan pelan-pelan, sampai akhirnya mentok di sebuah pelataran. Ternyata pelataran tersebut letaknya dekat sekali dengan tempat wudhu. Akan tetapi, ibu yang sudah uzur itu kan juga mungkin perlu ke kamar kecil dan berwudhu? Masya Allah, bukankah tempat wudhu tersebut ternyata khusus untuk wanita? Muncul pula persoalan lain, yakni perlu kursi untuk duduk karena memang si ibu sudah tak kuat berdiri. Namun, subhanallah, ternyata kursi yang dibutuhkan itu memang sudah ada pula dekat tempat wudhu tersebut.
Semua seperti terjadi secara kebetulan. Segalanya seperti sudah ada orang yang mengatur dan menyiapkannya. Padahal, Allah-lah yang memang Maha Mampu menyiapkan segala-galanya. Sekiranya kita pela menangkap momen-momen kejadian ini dengan hati yang penuh cahaya iman, niscaya akan semakin mampu mengagumi Kemahaperkasaan-Nya dan menangkap hikmah (pelajaran) di balik segala kejadian.
Kejadian kedua menimpa seorang mubaligh yang juga tengah melakukan perjalanan malam hari menuju Jakarta dengan diantar beberapa orang di dalam kendaraannya. Mobil meluncur masuk jalan tol jagorawi. Namun, di tengah perjalanan, mesin mobil tiba-tiba mati karena kehabisan bensin. Kehabisan bensin di tengah jalan tol di malam hari yang gelap gulita. Jauh ke sana ke mari, adakah yang bisa diperbuat, selain bertumpuk kekesalan, kedongkolan dan kekecewaan?
Mengapa persiapannya tidak disempurnakan? Mengapa sebelum berangkat tadi tidak membeli bensin yang cukup? Mengapa sampai berbuat lalai, padahal Allah telah mengajari manusia supaya peka dan senantiasa berhati-hati? Dan sejumlah pertanyaan “Mengapa” yang lain pun meluncur dari mulut?
Tetapi, sudahlah. Toh kejadiannya sudah terjadi. Maka, persenelling pun di-prei-kan dan kopling pun diinjak. “Biarlah Allah yang menghentikan kendaraan ini ditempat yang Dia sukai. Kita taubat dan berdzikir saja. Kita tak perlu lagi terus-menerus mengeluh,” ujarnya. Akhirnya mobil itupun melaju perlahan dan semakin perlahan, sehingga berhenti sendiri di pinggir jalan.
Tak lama setelah kejadian itu, tiba-tiba dirasakan ingin buang air kecil. Mubaligh itupun turunlah dari mobil dan berjalan mencari tempat yang agak terlindung. Akan tetapi, ternyata dari arah jalan cahaya lampu-lampu kendaraan yang berseliweran cepat di jalan tol masih menyorot kearahnya, sehingga ia pun terus berjalan sampai mendekati pagar kawat pembatas.
Sepintas ia melihat ternyata di bagian tertentu dari pagar yang dihampirinya ada bolong besar seperti sengaja dibuat orang untuk dapat dilalui. Dan ketika ia lebih cermat lagi mengamatinya, ternyata di dekatnya ada plang dengan tulisan sederhana berbunyi: “Di sini jual bensin dua tax”. Allahu Akbar!
Memang Allah Maha Pengatur kejadian yang Maha Sempurna. Betapa lezatnya jika kita mampu menangkap isyarat-Nya bahwa segala kejadian yang tampaknya serba kebetulan itu sebenarnya sudah diatur oleh Allah. Kita saja yang kerapkali tidak peka membaca aneka lintasan kejadian yang memang telah begitu pas dan rapi diatur oleh Allah SWT. Akibatnya, kalbu (hati) ini hampir tidak pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya merasakan hikmah (pelajaran) di balik segala fenomena yang terjadi.
Tampaknya dalam mengarungi kehidupan ini kita harus sungguh-sungguh minta di atur oleh Allah. Boleh saja kita sibuk merencanakan sesuatu dengan baik. Otak seratus persen kita gunakan untuk mengatur taktik dan strategi sesuai dengan syari’at yang kita ketahui. Tubuh pun sibuk berikhtiar, berkuah peluh simbah keringat, semampu yang bisa kita lakukan. Akan tetapi, keyakinan hati tetap pada satu hal, yakni biarlah Allah mengatur segala urusan kita. Karena, Dialah yang Maha Tahu hal yang terbaik dan yang terburuk menurut perhitungan-Nya.
Inginkah kita termasuk orang yang memiliki kalbu (hati) yang peka, lezat menikmati episode demi episode kejadian dalam hidup ini, dan yakin seyakin-yakinnya bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sudah diatur oleh Allah? Kuncinya ternyata sederhana saja. Yakni, akuilah bahwa diri kita ini tak lebih dan tak kurang hanya seorang hamba, yang sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Dia, Dzat Pemilik Jagat raya alam semesta ini. Ah, siapalah kita ini. Hanya sesosok makhluk yang tiada memiliki daya dan upaya, tanpa ijin dan kehendak-Nya.
Tak heran kalau Imam Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, berujar, “Buktikanlah dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan Kemahasempurnaan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemulyaan-Nya. Akuilah kekurangannmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Dan akuilah kelemahanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuatan-Nya.”
Sungguh betapa sangat indahnya bila hidup dan segala aktifitas kita diatur oleh-Nya. []
Dikisahkan suatu ketika Nabi khidir melakukan perjalanan bersama para
pengikutnya, beliau menyampaikan pesan kepada para pengikutnya
(kaumnya), bahwa esok hari kita akan melakukan perjalanan panjang untuk
bertamasya ke sebuah Goa, namun Nabi khidir mengatakan kepada para
pengikutnya bahwa semua pengikutnya boleh mengambil segala sesuatu yang
terdapat didalam goa tersebut serta dibolehkan pula bila tidak
mengambilnya.. ujar khidir.
Namun bagi siapapun yang mengambilnya maupun yang tidak mengambilnya kalian semuanya kelak akan menyesal. “Ujar khidir kepada para pengikutnya”. Para pengikut (kaum) nabi khidir pun menjadi bingung, heran dan langsung bertanya-tanya kepada Nabi khidir maksud dari makna ucapan tersebut. Namun Nabi khidir hanya berujar: Tunggulah jawabannya esok hari setelah kita keluar melakukan perjalanan pulang dari goa.
Akhirnya esok hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, nabi khidir beserta para pengikutnya pun pergi melakukan perjalanan yang panjang menuju go’a. Setelah semua pengikut masuk dan menjelang tiba di mulut go’a. Nabi khidir kembali mengingatkan kepada para pengikutnya terhadap apa yang diucapkan di hari sebelumnya dan perjalanan menelusuri goa yang gelap serta hampa tersebut dilanjutkan hingga setelah usai melakukan perjalanan dan keluar dari goa.
Nabi khidir berujar kepada kaumnya agar siapapun yang selama dalam perjalanan di dalam goa telah mengambil segala sesuatu benda yang berada didalam goa tersebut agar menunjukkannya ke Nabi Khidir, ternyata sebagian pengikut nabi khidir yang mengambil benda di dalam goa yang semula diperkirakan hanya berupa batu kerikil kecil itu ternyata merupakan sebuah perhiasan emas. Sontak sebagian pengikut nabi yang telah mengambil benda tersebut kecewa sekali dikarenakan tidak mengambil lebih banyak.
Sementara, sebaliknya para pengikut nabi khidir yang seketika melihat benda yang dibawa pengikut lainnya tersebut, namun tidak mengambil benda yang terdapat didalam goa tersebut tidak kalah lebih kecewa.
Hingga akhirnya saat tersebutlah “Nabi khidir akhirnya berujar kepada kaum(pengikut) nya”: bahwa kelak semua umat manusia di muka bumi (dunia) ini akan menyesal, baik yang beriman maupun yang tidak beriman kepada Allah SWT.
Hal ini dikarenakan bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Alloh, semuanya merasakan sangat kurang amal-amal kebaikan yang telah dilakukannya di dunia ini, baik itu amal ibadah maupun amal kebaikan lainnya yang telah diperbuat selama didunia ini, sedangkan bagi orang yang tidak beriman lebih sangat menyesal lagi, dikarenakan selama ia hidup, penglihatannya, pendengaran, akal,serta ilmu yang dimilikinya tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT, beriman dan taat kepada Allah SWT.
Namun bagi siapapun yang mengambilnya maupun yang tidak mengambilnya kalian semuanya kelak akan menyesal. “Ujar khidir kepada para pengikutnya”. Para pengikut (kaum) nabi khidir pun menjadi bingung, heran dan langsung bertanya-tanya kepada Nabi khidir maksud dari makna ucapan tersebut. Namun Nabi khidir hanya berujar: Tunggulah jawabannya esok hari setelah kita keluar melakukan perjalanan pulang dari goa.
Akhirnya esok hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, nabi khidir beserta para pengikutnya pun pergi melakukan perjalanan yang panjang menuju go’a. Setelah semua pengikut masuk dan menjelang tiba di mulut go’a. Nabi khidir kembali mengingatkan kepada para pengikutnya terhadap apa yang diucapkan di hari sebelumnya dan perjalanan menelusuri goa yang gelap serta hampa tersebut dilanjutkan hingga setelah usai melakukan perjalanan dan keluar dari goa.
Nabi khidir berujar kepada kaumnya agar siapapun yang selama dalam perjalanan di dalam goa telah mengambil segala sesuatu benda yang berada didalam goa tersebut agar menunjukkannya ke Nabi Khidir, ternyata sebagian pengikut nabi khidir yang mengambil benda di dalam goa yang semula diperkirakan hanya berupa batu kerikil kecil itu ternyata merupakan sebuah perhiasan emas. Sontak sebagian pengikut nabi yang telah mengambil benda tersebut kecewa sekali dikarenakan tidak mengambil lebih banyak.
Sementara, sebaliknya para pengikut nabi khidir yang seketika melihat benda yang dibawa pengikut lainnya tersebut, namun tidak mengambil benda yang terdapat didalam goa tersebut tidak kalah lebih kecewa.
Hingga akhirnya saat tersebutlah “Nabi khidir akhirnya berujar kepada kaum(pengikut) nya”: bahwa kelak semua umat manusia di muka bumi (dunia) ini akan menyesal, baik yang beriman maupun yang tidak beriman kepada Allah SWT.
Hal ini dikarenakan bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Alloh, semuanya merasakan sangat kurang amal-amal kebaikan yang telah dilakukannya di dunia ini, baik itu amal ibadah maupun amal kebaikan lainnya yang telah diperbuat selama didunia ini, sedangkan bagi orang yang tidak beriman lebih sangat menyesal lagi, dikarenakan selama ia hidup, penglihatannya, pendengaran, akal,serta ilmu yang dimilikinya tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT, beriman dan taat kepada Allah SWT.
Ini kisah tentang salah seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan
kuliah semester akhir di sebuah Universitas Negeri. Sebut saja namanya
Adam, dia mengambil jurusan disebuah fakultas yang cukup favorit, yaitu
Fakultas Kedokteran. Menurut keyakinannya, fakultas inilah yang dapat
membuat hidupnya lebih baik di masa mendatang. Bukan kehidupan yang
hanya baik untuknya, tetapi juga untuk keluarganya yang telah berusaha
susah payah mengumpulkan uang, agar ia dapat meneruskan dan lulus dari
kuliahnya dengan baik.
Kakaknya perempuannya pun rela untuk tidak menikah tahun ini, karena harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya laboratorium serta praktikum yang cukup tinggi untuk Adam.
Kini tiba saatnya Adam harus mengikuti ujian semester akhir, mata kuliah yang diberikan oleh dosennya cukup unik. Saat itu sang dosen ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan, dengan alasan agar sang dosen bisa dekat dengan mahasiswa.
Satu per satu pertanyaan pun dia lontarkan, para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu mungkin dalam kertas ujian mereka.
Ketakutan dan ketegangan Adam saat ujian terjawab saat itu, pasalnya 9 pertanyaan yang dilontarkan oleh sang dosen lumayan mudah untuk dijawab olehnya. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar ia tuliskan di lembar jawabannya.
Hingga sampailah pada pertanyaan ke-10.“Ini pertanyaan terakhir.” kata dosen itu.
“Coba tuliskan nama bapak tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung Jurusan ini !” kata sang dosen sambil menggerakkan tangannya menunjuk keseluruh ruangan kuliah.
Mendengar perkataan sang dosen seperti itu, sontak saja mahasiswa seisi ruangan pun tersenyum dan tertawa kecil. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, jelas pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini, pikir Adam dalam benaknya.
“Ini serius !” kata sang dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang ! ”. lanjutnya mengingatkan.
Adam tahu persis siapa orang yang ditanyakan oleh dosennya itu. Dia adalah seorang bapak tua, orangnya agak pendek, rambut putih karena beruban. Dan ia juga mungkin satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran tempat Adam kuliah. Bapak tua itu selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswi di sana. Ia senantiasa menundukkan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong. Tapi satu hal yang membuat Adam merasa konyol, justru ia tidak hafal nama bapak tua tersebut !!! Dan dengan terpaksa ia memberi jawaban ‘kosong’ pada pertanyaan ke-10 ini. Ujian pun berakhir, satu per satu lembar jawaban pun dikumpulkan ke tangan dosen.
Sambil menyodorkan kertas jawaban, Adam mencoba memberanikan diri bertanya kepada dosennya kenapa ia memberi ‘pertanyaan aneh’ itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini ?.
“Justru ini adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini” kata sang dosen.
Mendengar jawaban sang dosen, beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu berbicara. “Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, jika Anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai Anda hanya C atau D,” ungkap sang dosen.
Semua berdecak, Adam pun bertanya kepadanya lagi, “Kenapa Pak ? Kan soal nomor 10 ini tidak ada hubungannya dengan pelajaran kita?” Jawab sang dosen itu sambil tersenyum, “Siapa bilang tidak ada hubungannya, hanya yang peduli pada orang-orang di sekitarnya saja yang pantas jadi dokter. Kalau seorang dokter tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia bisa menolong dan berguna bagi orang banyak?” Lalu sang sang dosen pergi membawa tumpukan kertas jawaban ujian itu sambil meninggalkan para mahasiswa dengan wajah yang masih tertegun.
Dari kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kita harus peduli dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Peduli merupakan langkah awal untuk menjadi pemberi manfaat bagi orang lain serta penyelesai masalah di masyarakat. Dan peduli, sudah seharusnya menjadi milik semua orang, bukan hanya dokter. Jadi, soal ujian nomor ke-10 di atas, kiranya juga menjadi soal ujian untuk kita semua. Maka seberapa pedulikah kita? sehingga mampu menjawab persoalan-persoalan yang ada disekitar kita. Semoga cerita di atas menjadi hikmah untuk kita
Kakaknya perempuannya pun rela untuk tidak menikah tahun ini, karena harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya laboratorium serta praktikum yang cukup tinggi untuk Adam.
Kini tiba saatnya Adam harus mengikuti ujian semester akhir, mata kuliah yang diberikan oleh dosennya cukup unik. Saat itu sang dosen ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan, dengan alasan agar sang dosen bisa dekat dengan mahasiswa.
Satu per satu pertanyaan pun dia lontarkan, para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu mungkin dalam kertas ujian mereka.
Ketakutan dan ketegangan Adam saat ujian terjawab saat itu, pasalnya 9 pertanyaan yang dilontarkan oleh sang dosen lumayan mudah untuk dijawab olehnya. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar ia tuliskan di lembar jawabannya.
Hingga sampailah pada pertanyaan ke-10.“Ini pertanyaan terakhir.” kata dosen itu.
“Coba tuliskan nama bapak tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung Jurusan ini !” kata sang dosen sambil menggerakkan tangannya menunjuk keseluruh ruangan kuliah.
Mendengar perkataan sang dosen seperti itu, sontak saja mahasiswa seisi ruangan pun tersenyum dan tertawa kecil. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, jelas pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini, pikir Adam dalam benaknya.
“Ini serius !” kata sang dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang ! ”. lanjutnya mengingatkan.
Adam tahu persis siapa orang yang ditanyakan oleh dosennya itu. Dia adalah seorang bapak tua, orangnya agak pendek, rambut putih karena beruban. Dan ia juga mungkin satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran tempat Adam kuliah. Bapak tua itu selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswi di sana. Ia senantiasa menundukkan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong. Tapi satu hal yang membuat Adam merasa konyol, justru ia tidak hafal nama bapak tua tersebut !!! Dan dengan terpaksa ia memberi jawaban ‘kosong’ pada pertanyaan ke-10 ini. Ujian pun berakhir, satu per satu lembar jawaban pun dikumpulkan ke tangan dosen.
Sambil menyodorkan kertas jawaban, Adam mencoba memberanikan diri bertanya kepada dosennya kenapa ia memberi ‘pertanyaan aneh’ itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini ?.
“Justru ini adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini” kata sang dosen.
Mendengar jawaban sang dosen, beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu berbicara. “Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, jika Anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai Anda hanya C atau D,” ungkap sang dosen.
Semua berdecak, Adam pun bertanya kepadanya lagi, “Kenapa Pak ? Kan soal nomor 10 ini tidak ada hubungannya dengan pelajaran kita?” Jawab sang dosen itu sambil tersenyum, “Siapa bilang tidak ada hubungannya, hanya yang peduli pada orang-orang di sekitarnya saja yang pantas jadi dokter. Kalau seorang dokter tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia bisa menolong dan berguna bagi orang banyak?” Lalu sang sang dosen pergi membawa tumpukan kertas jawaban ujian itu sambil meninggalkan para mahasiswa dengan wajah yang masih tertegun.
Dari kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kita harus peduli dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Peduli merupakan langkah awal untuk menjadi pemberi manfaat bagi orang lain serta penyelesai masalah di masyarakat. Dan peduli, sudah seharusnya menjadi milik semua orang, bukan hanya dokter. Jadi, soal ujian nomor ke-10 di atas, kiranya juga menjadi soal ujian untuk kita semua. Maka seberapa pedulikah kita? sehingga mampu menjawab persoalan-persoalan yang ada disekitar kita. Semoga cerita di atas menjadi hikmah untuk kita
Seseorang mengeluh kepada Ibrahim bin Adham tentang anaknya yang
banyak. Sang Sufi agung ini menjawab, “Wahai saudaraku, jika setiap
yang ada di rumahmu terdapat orang yang rezekinya bukan dari Allah,
pindahkan dia ke rumahk.” Rasulullah SAW bersabda, “Berusahalah untuk
memperbanyak keturunan, karena kalian tidak tahu dari anak yang mana
kamu mendapatkan rezeki.“ Sehingga Umar bin Khattab RA berkata,
“Sesungguhnya, aku tidak suka menyetubuhi isteriku, kecuali jika
disertai dengan harapan supaya Allah memberi rezeki berupa keturunan
yang bertasbih kepada Allah dan mentauhidkan-Nya.“ Argumen Khalifah
Kedua itu telah terbukti, dengan adanya komentar diantara ulama
“Alangkah bahagianya kedua orang tua Imam Syafei, Abdullah binMubarak,
Imam Malik,Imam Ahmad dan lain-lain ulama besar serta orang-orang
saleh lainnya. Bisa jadi seorang anak menyebabkan kedua oranbg tuanya
bahagia di dunia daan akhirat. “
Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al Quran mengatakan “Wayarzughu min haitsu laa yahtasib “ (Ath-Thalaq ( 65 ) : 3). Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Rasul SAW bersabda, “Allah telah menetapkan takdir semua mahluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi“ (HR.Muslim). Oleh karena itu selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki Allah SWT. Sebab Sang Pemberi Rezeki telah menjamin, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud 6). “Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Insya Allah, jika ikhtiar, doa serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Dari Umar bin Khattab RA, ia berkata, “Saya mendengar Rassulullah SAW bersabda, ‘Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang disore hari dalam keadaan kenyang “ (HR.Ahmad dan Turmuzi).
Banyak kiat untuk menjemput atau membuka keran pintu rezeki itu. Diantaranya adalah :
Pertama, Memperbanyak istighfar dan taubat. Allah berfirman, “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai “ (Nuh (71) :10-12). Ujar Ibnu Katsir, “Maksudnya, jika kalian telah bertaubat dan beristighfar kepada Allah serta taat kepada-Nya, Dia pasti memperbanyak rezeki kalian dan memberi minum kalian dengan berkah dari langit serta menumbuhkan dan mengalirkan susu binatang ternak serta akan memberikan harta yang banyak, dan anak yang banyak.Lalu Allah akan menjadikaan bagi kalian kebun-kebun yang didalamnya beraneka ragam buah-buahan, yang mengalir di sisinya sungai-sungai“ (Ibnu Katsir Jilid 4 halaman 371).
Kedua, Istiqamah Bersedekah /Berinfak di jalan Allah. Rasul SAW bersabda, “Bersedekahlah kalian, dan jangan (terlalu) lama disimpan dan ditahan. Sebab jika demikian, Allah SWT akan menahan (karunia-Nya) untukmu “ (HR. Bukhari ). Hadis lain, Nabi SAW bersabda “Berinfaklah semampumu, dan jangan menahan hartamu, niscaya Allah akan menahan karunia-Nya bagimu“ (HR. Muslim dan Nasai). Kilah Imam Al-Qurthubi, “Jika seseorang meyakini Allah sepenuhnya, pasti Dia akan memberikan rezeki kepadanya dengan tanpa disangka-sangka. Seyogianya ia mesti berinfak secara ikhlas dan tanpa banyak pertimbangan. “
Ketiga, Meluangkan waktu untuk Beribadah. Rasul SAW bersabda, ”Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi “ (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim). Secara umum hadis tersebut menurut imam Al’Ala’i menjelaskan bahwa hati seseorang jangan terlena dengan kesibukan dunia, hingga ia tidak menunaikan bentuk ketaatan kepada Allah. Dalam menafsirkan firman Allah surah Al Insyirah ayat 7, Ibnu Katsir menuturkan, “Jika kalian telah selesai melakukan pekerjaan-pekerjaan duniawi, bersungguh-sungguhlah menunaikan ibadah dengan tekun. Lalu fokuskan hatimu dan ikhlaskan niatmu.” Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan meluangkan waktu dan memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah dapat membukakan pintu rezeki.
Keempat, Bersegera Mencari Rezeki di Pagi hari. Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi. Semoga keberkahan selalu tercurah bagi umatku yang beraktifitas di pagi hari “ (HR.Thabrani). “Shahr Al-Ghamidi menjelaskan, bahwa Rasulullah mengutus pasukan perang di akhir waktu siang. Sementara itu Shahr sebagai seorang pedagang, sering membawa barang dagangannya di pagi hari. Akhirnya ia sering mendapatkan keuntungan yang berlimpah, hingga hartanya banyak. (HR. Imam yang empat).
Kelima, Bersilaturrahim. Rasul SAW bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya,maka sambunglah tali silaturrahim “ (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasai). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Siapa yang menyambung silaturrahmi, maka akan Aku sambung rahmat-Ku untuknya. Dan siapa yang memutuskan silaturrahmi, maka Aku putuskan pula rahmat-Ku untuknya “ (HR. Tirmuzi dan Abu Daud). Rahmat Allah itu bentuknya beraneka ragam, dan jumlahnya tidak terhitung. Ia bisa berupa kemudahaan dalam segala urusan, ketenangan dalam menjalani hidup, kesehatan jasmani dan rohani, keluasan rezeki dan sebagainya.
Keenam, Senantiasa bersyukur. Allah berfirman “ … Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih “ (Ibrahim 7). Imam Al Mansyur berkomentar “Wahai manusia, jangan sekali-kali kalian mengusir kenikmatan rezeki dengan meninggalkan syukur. Sebab, dengan meninggalkan syukur, justru kalian tengah mengundang bencana. “ Syukur adalah satu keniscayaan atas begitu banyaknya nikmat yang kita rasakan dalam hidup ini.Salah satu hal yang harus kita syukuri adalah rezeki pemberian Allah. Cara mensyukurinya adalah dengan “mengalirkannya“ kepada orang yang membutuhkan. Ibarat air, jika tidak dialirkan akan tersumbat. Demikian pula dengan rezeki, jika tidak dialirkan, saluran rezeki akan tersumbat. Wallahualam. **
Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al Quran mengatakan “Wayarzughu min haitsu laa yahtasib “ (Ath-Thalaq ( 65 ) : 3). Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Rasul SAW bersabda, “Allah telah menetapkan takdir semua mahluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi“ (HR.Muslim). Oleh karena itu selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki Allah SWT. Sebab Sang Pemberi Rezeki telah menjamin, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud 6). “Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Insya Allah, jika ikhtiar, doa serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Dari Umar bin Khattab RA, ia berkata, “Saya mendengar Rassulullah SAW bersabda, ‘Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang disore hari dalam keadaan kenyang “ (HR.Ahmad dan Turmuzi).
Banyak kiat untuk menjemput atau membuka keran pintu rezeki itu. Diantaranya adalah :
Pertama, Memperbanyak istighfar dan taubat. Allah berfirman, “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai “ (Nuh (71) :10-12). Ujar Ibnu Katsir, “Maksudnya, jika kalian telah bertaubat dan beristighfar kepada Allah serta taat kepada-Nya, Dia pasti memperbanyak rezeki kalian dan memberi minum kalian dengan berkah dari langit serta menumbuhkan dan mengalirkan susu binatang ternak serta akan memberikan harta yang banyak, dan anak yang banyak.Lalu Allah akan menjadikaan bagi kalian kebun-kebun yang didalamnya beraneka ragam buah-buahan, yang mengalir di sisinya sungai-sungai“ (Ibnu Katsir Jilid 4 halaman 371).
Kedua, Istiqamah Bersedekah /Berinfak di jalan Allah. Rasul SAW bersabda, “Bersedekahlah kalian, dan jangan (terlalu) lama disimpan dan ditahan. Sebab jika demikian, Allah SWT akan menahan (karunia-Nya) untukmu “ (HR. Bukhari ). Hadis lain, Nabi SAW bersabda “Berinfaklah semampumu, dan jangan menahan hartamu, niscaya Allah akan menahan karunia-Nya bagimu“ (HR. Muslim dan Nasai). Kilah Imam Al-Qurthubi, “Jika seseorang meyakini Allah sepenuhnya, pasti Dia akan memberikan rezeki kepadanya dengan tanpa disangka-sangka. Seyogianya ia mesti berinfak secara ikhlas dan tanpa banyak pertimbangan. “
Ketiga, Meluangkan waktu untuk Beribadah. Rasul SAW bersabda, ”Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi “ (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim). Secara umum hadis tersebut menurut imam Al’Ala’i menjelaskan bahwa hati seseorang jangan terlena dengan kesibukan dunia, hingga ia tidak menunaikan bentuk ketaatan kepada Allah. Dalam menafsirkan firman Allah surah Al Insyirah ayat 7, Ibnu Katsir menuturkan, “Jika kalian telah selesai melakukan pekerjaan-pekerjaan duniawi, bersungguh-sungguhlah menunaikan ibadah dengan tekun. Lalu fokuskan hatimu dan ikhlaskan niatmu.” Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan meluangkan waktu dan memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah dapat membukakan pintu rezeki.
Keempat, Bersegera Mencari Rezeki di Pagi hari. Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi. Semoga keberkahan selalu tercurah bagi umatku yang beraktifitas di pagi hari “ (HR.Thabrani). “Shahr Al-Ghamidi menjelaskan, bahwa Rasulullah mengutus pasukan perang di akhir waktu siang. Sementara itu Shahr sebagai seorang pedagang, sering membawa barang dagangannya di pagi hari. Akhirnya ia sering mendapatkan keuntungan yang berlimpah, hingga hartanya banyak. (HR. Imam yang empat).
Kelima, Bersilaturrahim. Rasul SAW bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya,maka sambunglah tali silaturrahim “ (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasai). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Siapa yang menyambung silaturrahmi, maka akan Aku sambung rahmat-Ku untuknya. Dan siapa yang memutuskan silaturrahmi, maka Aku putuskan pula rahmat-Ku untuknya “ (HR. Tirmuzi dan Abu Daud). Rahmat Allah itu bentuknya beraneka ragam, dan jumlahnya tidak terhitung. Ia bisa berupa kemudahaan dalam segala urusan, ketenangan dalam menjalani hidup, kesehatan jasmani dan rohani, keluasan rezeki dan sebagainya.
Keenam, Senantiasa bersyukur. Allah berfirman “ … Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih “ (Ibrahim 7). Imam Al Mansyur berkomentar “Wahai manusia, jangan sekali-kali kalian mengusir kenikmatan rezeki dengan meninggalkan syukur. Sebab, dengan meninggalkan syukur, justru kalian tengah mengundang bencana. “ Syukur adalah satu keniscayaan atas begitu banyaknya nikmat yang kita rasakan dalam hidup ini.Salah satu hal yang harus kita syukuri adalah rezeki pemberian Allah. Cara mensyukurinya adalah dengan “mengalirkannya“ kepada orang yang membutuhkan. Ibarat air, jika tidak dialirkan akan tersumbat. Demikian pula dengan rezeki, jika tidak dialirkan, saluran rezeki akan tersumbat. Wallahualam. **
Akidah Seorang Muslim
Sebagai Muslim, tentu kita
meyakini bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini sejak dahulu
sampai saat ini, semua terjadi dengan ijin Allah. Perbuatan sadar
manusia, gerakan refleksnya, sakit dan sembuhnya, sukses dan gagalnya,
tertawa dan menangisnya, kejayaan dan keterpurukannya, dan lain-lain,
semua itu terjadi dengan ijin Allah. Tidak ada satu pun urusan yang
lepas dari kontrol Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Segalanya dalam
kendali-Nya.
Dalam Al Qur’an: “Dan di
sisi-Nya lah kunci-kunci keghaiban, tidak ada yang mengetahuinya selain
Dia semata. Dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan. Tiada
sehelai daun pun gugur, melainkan Dia mengetahuinya; dan tidak pula
sebutir biji di kegelapan bumi, dan sesuatu yang basah dan kering,
melainkan (telah tertulis) di Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (Al An’aam: 59).
Nabi mengajarkan sebuah kalimat yang mulia, “Laa haula wa laa quwwata illa billah.” (Tidak ada daya [untuk menolak keburukan] dan kekuatan [untuk merealisasikan kebaikan], melainkan atas ijin Allah).
Bahkan perbuatan sihir pun terjadi juga dengan ijin Allah. “Dan tidaklah mereka (tukang sihir) bisa memberi kerugian dengan sihirnya itu kepada satu orang pun, melainkan dengan ijin Allah.” (Al Baqarah: 102).
Hal seperti ini adalah perkara elementer dalam kehidupan seorang Muslim. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, semua itu terlaksana dengan ijin Allah. Hingga Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa yang sangat baik, “Allahumma laa mani’a li maa a’thaita, wa laa mu’thiya li maa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minka al jaddu”
(Ya Allah, tidak ada yang bisa menolak apa yang Engkau berikan, tidak
ada yang bisa menerima apa yang Engkau cegah, dan tidak bermanfaat harta
seseorang yang memiliki harta terhadap-Mu). Doa ini beliau ajarkan agar dibaca dalam dzikir setelah selesai Shalat.
Membuktikan Kehendak Allah
Sebuah pertanyaan, benarkah Allah berkuasa dalam kehidupan ini?
Sebenarnya, bagi seorang Muslim
yang memahami ajaran Islam, pertanyaan seperti ini tidak perlu
ditanyakan. Tetapi mengingat masih banyak Muslim yang awam atau lemah
keimanannya, penjelasan elementer pun jika dibutuhkan, ya tetap harus
disampaikan. Apalagi sampai setingkat cendekiawan atau ilmuwan Muslim
pun, kadang tidak memiliki konstuksi keyakinan yang benar.
Untuk memudahkan memahami hal ini, mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan dasar: “Bisakah manusia memaksakan suatu hasil pekerjaan, dengan modal tenaga, kepintaran, dana, strategi, serta alat-alat yang canggih?”
Orang-orang atheis yang anti Tuhan pasti akan
mengatakan: “Ya bisa! Kita bisa membuat apapun yang kita suka. Dengan
dana, kepandaian, ilmu yang kami miliki, teknologi canggih, dan
sebagainya, kami bisa membuat apapun yang kami inginkan. Tidak
ada yang bisa menghalangi tujuan kami. Dunia ini berada dalam genggaman
tangan kami. Apa yang kami suka akan terwujud, dan apa yang kami benci
akan tersingkir. Peranan Tuhan telah berakhir, sekarang diganti tangan kami.” Ya begitulah pemikiran orang-orang atheis itu.
Jika orang-orang atheis itu benar keyakinannya,
tentu kita tidak akan mendapati mereka mengalami berbagai kegagalan.
Seharusnya hanya kejayaan, kemegahan, serta kemenangan yang mereka
terima. Ternyata, begitu banyak kegagalan-kegagalan yang dialami
orang-orang atheis ini. Semua itu menunjukkan bahwa mereka hanyalah
makhluk tak berdaya, tidak mampu memaksakan kebaikan dan menolak
keburukan. Berikut ini sebagian fakta-fakta yang layak dicermati:
[o] Lenin dan Stalin dikenal
sebagai pemimpin Partai Komunis Uni Soviet yang sangat kejam. Ada jutaan
manusia mati di bawah telapak kaki penindasan mereka. Sebagiannya adalah
kaum Muslimin di Asia Tengah. Cara kekejaman yang dilakukan oleh Lenin,
Stalin, Mao Tse Tung, Khmer Merah, Kim Il Tsung, dan sebagainya adalah
sebuah bukti bahwa mereka frustasi untuk membangun sesuatu yang mereka
cita-citakan secara damai. Kekejaman regim-regim Komunis dimanapun,
adalah cerminan frsutasi di hati dan pemikiran mereka.
[o] Belum sampai 100 tahun
kekuasaan Komunis hancur-lebur. Pintu kehancuran ini dimulai dengan
ambruknya Komunisme di Jerman Timur, Polandia, dan tentu saja Uni
Soviet. Setelah itu, Uni Soviet bubar dan negara-negara Komunis di Eropa
Timur satu per satu gulung tikar.
[o] Kehancuran Uni Soviet
terjadi karena kekalahan mereka dalam invasi ke Afghanistan. Keuangan
Soviet terkuras dalam perang yang sangat melelahkan. Padahal yang mereka
hadapi adalah kaum Muslimin Afghanistan yang kurang mengenal teknologi,
rumahnya dibuat dari dinding tanah, dan sangat banyak yang masih buta
huruf. Keangkuhan Komunisme kalah oleh kesederhanaan Islam.
[o] Negara Komunis masih ada
sampai saat ini, yaitu RRC, Kuba, Korea Utara, Vietnam, Laos, Tibet, dan
lainnya. Namun Komunis mereka tidak lagi se-ekstrem masa lalu. Kini
Komunisme sangat banyak mengadopsi konsep-konsep ekonomi
Liberal-Kapitalistik. Secara zhahir RRC adalah Komunis, tetapi secara
riil mereka telah berkiblat kepada budaya Barat.
[o] Sebuah fakta menarik,
bahwa rakyat Kuba adalah konsumen rokok sigaret yang sangat besar.
Negara disana berkewajiban menyediakan kebutuhan tembakau bagi
rakyatnya. Fidel Castro sendiri mencontohkan kegilaannya kepada cerutu.
Rakyat Kuba merasa keberatan ketika jatah rokoknya hendak dikurangi. Itu
menandakan bahwa ajaran Komunis hanya menghasilkan stress berat.
Di luar konteks orang-orang Komunis, ada satu kejadian menarik dari seorang insinyur pembangun kapal pesiar termewah di dunia, Titanic.
Di awal kemunculannya, saat berlabuh dari pelabuhan Liverpool Inggris,
arsitek pembangun Titanic sesumbar. Titanic adalah kapal super mewah
yang dibuat dengan teknologi sangat canggih, sehingga Tuhan pun tidak
akan mampu menenggelamkannya. Namun kemudian fakta berbicara, Titanic
adalah tragedi pelayaran terbesar sepanjang sejarah manusia. Bahkan
tragedi transportasi paling mengerikan yang pernah terjadi. Padahal
secara teknis, kerusakan Titanic hanya karena salah satu sisi lambungnya
robek karena gesekan dengan gunung es. Ia tidak menabrak gunung es,
atau menabrak batu karang, atau meledak di tengah jalan, atau mengalami
kebakaran, dan sebagainya. Hanya robek sedikit sisi lambungnya.
Aktifitas Praktis Manusia
Kemudian muncul pertanyaan lain: “Ya, Anda
tidak perlu mengambil contoh-contoh yang besar. Sudahlah yang
kecil-kecil saja. Tidak usah muluk-muluk. Lihatlah kenyataan di sekitar
kita! Kalau saya mau makan, saya bisa segera mengambil makanan di
lemari; kalau saya mau mandi, saya bisa segera masuk kamar mandi; kalau
saya mau baju merah, tinggal pilih saja, tidak ada yang bisa mencegah;
kalau saya mau tidur, tinggal merebah; kalau mau nonton TV, tinggal
memencet tombol. Lihatlah, semuanya berjalan lancar. Setiap yang saya
inginkan, seketika itu bisa saya penuhi, tanpa satu pun bisa mencegah.
Dimana ada bukti peranan Tuhan di balik kesibukan saya sehari-hari ini?”
Sebenarnya, hal-hal yang disebutkan itu bukan masalah kehendak manusia yang bisa memaksa Kehendak Allah. Ia adalah masalah taraf kemampuan.
Maksudnya, setiap manusia diberi kemampuan tertentu dalam hidupnya.
Kita diberi kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti
makan-minum, berjalan, melompat, mandi, mencuci, menyapu lantai, pergi
ke pasar, memilih barang, memotong rumput, menyirami bunga, mengendarai
kendaraan, dan sebagainya. Semua ini adalah kemampuan yang Allah
karuniakan.
Taraf kemampuan diberikan kepada setiap makhluk
hidup, bukan hanya manusia. Hingga kutu di kepala, semut di dinding,
sampai cacing dalam tanah, mereka semua memiliki taraf kemampuan. Pada
orang-orang yang menderita cacat, mereka tidak mampu melakukan kegiatan
sehari-hari secara normal. Hal itu menjadi bukti, bahwa ketika alat
kemampuan manusia mengalami masalah, dia tidak berdaya (atau harus
memenuhi suatu urusan dengan susah-payah).
Sekalipun manusia memiliki taraf
kemampuan (kafa’ah), tetap saja mereka tidak bisa memaksakan bahwa
kemampuannya bekerja secara mutlak. Betapa banyak perubahan jadwal harus terjadi, meskipun manusia telah merencanakan sesuatu dengan sangat sempurna. Seseorang
yang mengingkari perubahan jadwal, adalah manusia yang tidak realistik.
Jangankan jadwal dalam kehidupan kita sehari-hari, protokoler
kepresidenan yang telah disusun berbulan-bulan lamanya, ia bisa berubah
seketika jika diinginkan. Misalnya, Anda sudah komitmen akan makan siang
pukul 13.00 WIB. Ketika waktu telah tiba, Anda duduk di meja, makanan
yang dipesan telah terhidang di depan mata, tinggal detik-detik
menyantap hidangan itu; tiba-tiba boss Anda menelpon dan meminta Anda
segera menghadap. Maka skenario Anda tentang makanan itu bubar seketika.
Kejadian seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita dengan segala
bentuk dan detailnya.
Kalau mau mengukur kemampuan manusia dalam mempengaruhi Kehendak Allah, cobalah Anda susun suatu rencana kegiatan. Misalnya,
minggu depan, pada tanggal tertentu, dalam rentang waktu antara pukul
09.00 sampai 12.00, Anda bermaksud melakukan suatu rangkaian kegiatan.
Susun rencana Anda secara terperinci dan berurutan untuk mengisi waktu
selama 3 jam itu. Lakukan saja kegiatan ini, baik sendirian, di tempat sepi, atau bersama orang lain. Nanti bandingkan hasilnya! Apakah agenda Anda berhasil terlaksana 100 % seperti yang Anda rencanakan? Bisakah Anda memaksakan agenda Anda?
Orang-orang yang sombong dan
angkuh perlu mencoba “simulasi” seperti di atas. Mampukah mereka
membuktikan kesombongannya? Atau tidakkah hati mereka menjadi lembut di
hadapan Keagungan Allah?
Ketidak-berdayaan manusia juga
terlihat dari hasil-hasil usahanya. Betapa banyak terjadi kegagalan,
kekalahan, penyesalan, kekecewaan, kemarahan, stress, frustasi, bunuh
diri, dan sebagainya. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa tidak setiap
kehendak manusia akan terpenuhi sebagaimana yang mereka inginkan.
Manusia hanya mampu merencanakan, sedangkan Allah yang menentukan.
Dalam Al Qur’an, “Demikianlah,
Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Jika Dia telah menetapkan
suatu perkara, cukuplah Dia mengatakan, ‘Jadilah,’ maka jadilah (perkara
itu).” (Ali Imran: 47).
Begitu kuatnya Kehendak Allah
ini, hingga manusia amat sangat berkehendak kepada-Nya. Manusia sangat
menginginkan agar apa yang dia kehendaki dikabulkan oleh Allah, sehingga
ia memperoleh harapan-harapannya. Berbagai upaya manusia lakukan, agar dirinya beruntung (get a lucky).
Termasuk dengan melakukan ritual-ritual tertentu yang tidak rasional
sekalipun. Lihatlah, para panitia konser musik! Jauh-jauh hari mereka
telah mempersiapkan dukun-dukun, untuk menahan agar saat hari H, di
lapangan konser tidak turun hujan. Lihatlah para pembangun gedung-gedung
konstruksi! Mereka menanam kepala kerbau di landasan bangunan, agar
bangunan itu tidak runtuh, tetapi tetap kokoh. Lihatlah pula, pasukan
khusus tertentu! Mereka memakai jimat di kalungnya, untuk menghindari
kematian saat bertugas di area konflik. Lihatlah pula
seorang pejabat! Dia sengaja membeli sebuah cincin “batu delima” dengan
harga miliaran, agar jabatannya awet. Begitu pula, lihatlah seorang
artis cantik! Dia memakai jasa konsultasi paranormal, agar tetap cantik,
memikat perhatian banyak orang, dan tentu saja selalu mendapat order
main sinetron, film, menjadi bintang iklan, atau sekedar menjadi MC.
Hal semacam ini bukan hanya
terjadi di kalangan kita. Orang-orang Barat yang konon sangat rasional
itu ternyata juga doyan perdukunan. Ronald dan Nancy Reagan,
dikenal sebagai pasangan suami-isteri Presiden Amerika yang doyan dengan
advis-advis perdukunan. Kemanapun Reagan berkunjung, sebuah tim para
dukun selalu menyertainya. Film-film mistik, honor, supranatural, sangat
banyak diproduksi oleh Hollywood. Bahkan bidang mistik itu menjadi
studi tersendiri di kampus-kampus Barat, dengan profesor-profesor di
dalamnya.
Adapun kalangan Freemasonry dan sejenisnya.
Mereka dikenal memiliki ritual-ritual mistik mengerikan. Mereka
disebut-sebut sebagai pewaris dan pelanjut ajaran-ajaran sihir bangsa
Mesir, sejak era tukang-tukang sihir jaman Fir’aun. Itulah yang dikenal
oleh para ahli sebagai Kabbalah. Dan penganut Kabbalah ini banyak juga dari orang-orang terkenal dan selebritis top dunia.
Kalau Anda penggemar sepak bola, coba lihat
perilaku pemain-pemain dunia di arena pertandingan. Lihatlah, saat
mereka memegang rumput, lalu berlari ke tengah lapangan! Lihatlah saat
mereka berdoa sebelum bertanding! (Lihat saat Adebayor melakukan ritual
beberapa detik sebelum bertanding). Lihat saat mereka
mencium bola sebelum melakukan tendangan bebas atau pinalti! Lihat saat
mereka mengacungkan jari ke atas, sesaat setelah memasukkan gol!
Lihatlah, betapa banyak “ritual permohonan lucky” di Liga Inggris, Liga
Itali, Liga Spanyol, Liga Jerman, dan lainnya. Bahkan
pemain-pemain Indonesia, tidak segan-segan berdoa satu dua menit,
sebelum pertandingan dimulai. Frank Riberry juga ekspressif ketika
berdoa kepada Allah, sesaat sebelum pertandingan (sebab dia Muslim).
Seangkuh-angkuh manusia, mereka tidak sanggup
untuk memaksakan hasil pekerjaan sebagaimana yang mereka inginkan.
Berbagai cara mereka perlihatkan untuk mengekspresikan ketidak-berdayaan
dirinya. Para prajurit Israel, sebelum terjun ke medan perang, mereka
sangat serius membaca kitab Talmud. Yahudi percaya, bahwa agamalah yang
sanggup memelihara eksistensi mereka.
Perlukah Ada Kesombongan?
Secara hakiki, manusia adalah makhluk yang
lemah; kehendaknya tidak bisa melompati Kehendak Allah; bahkan manusia
itu hidup di bawah naungan Kehendak Allah semata. Namun, dalam kehidupan
ini kita mendapati tidak sedikit manusia bersikap sombong (takabbur).
Andai seseorang tidak bersikap sombong, bukan karena dia tidak mau
sombong, tetapi tidak ada yang bisa dia sombongkan. Sikap sombong
seharusnya tidak muncul jika seseorang benar-benar memahami betapa
kuatnya Kehendak Allah berlaku dalam kehidupan ini.
Sudah pantaskah Anda bersikap sombong?
[a] Kalau Anda adalah seorang
pakar sains dan teknologi yang mumpuni, apakah kehebatan Anda bisa
menandingi Prof. BJ. Habibie? Lihatlah seorang Habibie, dengan
pengetahuan dan pengalamannya yang luas, beliau diterima luas di
forum-forum teknologi dunia. Namun kemampuannya tidak mampu
mempertahankan posisinya sebagai Presiden RI sampai 2 tahun saja.
[b] Kalau Anda adalah pejabat
politik yang mengagumkan, mampu mencapai jabatan politik paling
bergengsi, apakah Anda bisa mencapai posisi setinggi George Walker Bush?
Bush bukan hanya mampu mempertahankan posisinya dua kali, dia adalah
pemimpin tertinggi Amerika, dan dia mampu mengobrak-abrik tatanan dunia.
PBB tidak berdaya menghadapi Bush. Namun akhirnya, kepemimpinan dia
disudahi dengan kejadian paling memalukan sepanjang sejarah manusia. Dia dilempar sepatu oleh Muntazhar Al Zaidi, dua kali, dan hampir kena.
[c]
Kalau Anda adalah seorang petarung, pria berotot, tubuh macho, memakai
tindik dan tatoo, biasa berkelahi, menjadi bintang pertarungan fisik,
apakah Anda bisa sehebat Mike Tyson? Sehebat-hebatnya Anda, sekali saja
dipukul oleh Tyson, tubuh Anda bisa seketika terjengkang di tanah.
Meskipun begitu, Tyson adalah petinju paling malang di dunia. Dia pernah
dituduh memperkosa, melecehkan wanita, terlibat perkelahian, dipenjara,
diharuskan membayar denda ratusan ribu dollar, mengalami kalah KO,
kalah angka, tanding ulang berkali-kali, sampai puncaknya dia menggigit
telinga Evander Holyfield. Tyson sangat terpuruk, sampai mau menjadi
bintang film porno, sekedar untuk mendapatkan uang.
[d]
Kalau Anda seorang seniman, pelukis, pakar estetik, teknisi grafis,
begawan perupa, dan seterusnya; apakah Anda bisa mencapai taraf setinggi
Affandi? Dia adalah seorang pelukis langka yang pernah dimiliki
Indonesia. Karyanya tentang “potret diri” dan “sabung ayam” sangat
terkenal. Lukisan-lukisan Affandi menjadi perburuan para kolektor. Namun
Affandi mendapati kehidupannya sepi, hingga untuk mengurus diri saja
sulit. Entah karena apa, Affandi pernah membuat lukisan telanjang yang
berobyek dirinya dan keluarganya. Sedemikian hebat orang memuja seni,
sampai tidak lagi mengindahkan moral.
[e]
Kalau Anda seorang wanita yang cantik, seksi, dan terkenal, apakah Anda
bisa menyamai posisi yang diraih Merlyn Monroe? Seseksi-seksinya Anda,
meskipun sudah jungkir balik “memanjakan diri”, tidak akan seperti
selebritis top Hollywood itu. Namun akhirnya, riwayat hidupnya berakhir
tragis dengan obat bius.
[f]
Kalau Anda seorang wanita selebritis, populer, hidup mewah, mempunyai
fans sangat banyak, menjadi primadona media, apakah Anda bisa mencapai
kedudukan seperti Lady Diana? Dia dikenal sebagai wanita idaman dunia,
menjadi pesohor internasional, putri bangsawan terhormat. Pesta
pernikahannya dengan Charles adalah pesta perkawinan termegah di dunia
sepanjang abad 20. Apalagi yang belum didapatkan oleh Lady Di berupa
kecantikan, popularitas, kemewahan, kedudukan bangsawan, putra
laki-laki, suami putra mahkota Inggris, kegiatan sosial, kecintaan dunia
internasional, dan sebagainya. Tetapi betapa tragis hidup Ladi Di. Dia
mendapati suaminya berselingkuh, lalu dia membalas dengan melakukan
selingkuh dengan seorang pengawal kerajaan; pengakuan Ladi Di dalam
interview khusus dengan media menjadi kegemparan dunia. Dan akhir kehidupan Ladi Di adalah kecelakaan tragis yang merengut jiwanya.
[g] Kalau Anda seorang
penguasa kaya raya, bisnisman tulen, memiliki aset miliaran rupiah,
hari-hari dihabiskan dalam meeting, negosiasi, transaksi, ekspansi
usaha, perundingan merger, akuisisi, mencari market baru, merilis
inovasi baru, memainkan indeks saham di lantai bursa, dan lainnya;
apakah Anda akan mampu menyamai kekayaan Pangeran Al Walid bin Thalal
dari Saudi? Begitu kayanya Pangeran Al Walid, sampai bingung mau
diapakan lagi kekayaan itu. Beliau mampu membeli pesawat Air Bus ukuran
jumbo, dan disulap menjadi pesawat pribadi, yang interiornya didesain
seperti istana mewah. Diperlukan dana triliunan untuk membeli pesawat
itu, namun Al Walid merasa itu bukan pengeluaran yang besar. Dengan
semua kekayaan yang dimilikinya, ternyata tidak membuat Pangeran Al
Walid menjadi seorang ahli ibadah, ahli Sastra Arab, ahli Syariat, ahli
sejarah Islam, atau seorang Muslim yang sangat teguh dengan Al Wala’ Wal Bara’.
Bahkan tapak kakinya tidak dikenal pernah menyentuh beceknya bumi jihad
di negeri-negeri kaum Muslimin. Kekayaan besar, hanya semakin
meramaikan peliknya godaan kehidupan dunia.
Lalu apa lagi yang harus disombongkan oleh
manusia-manusia ini? Kekuatan dan kemegahan yang dimilikinya tidak akan
sanggup mengungguli prestasi-prestasi di atas. Tidakkah lebih layak
mereka tawadhu kepada Allah Al ‘Alim?
Demikianlah, Allah Ta’ala memiliki Sifat Iradah
(Maha Berkehendak). Kehendak-Nya berlaku dalam kehidupan ini, sedangkan
kehendak manusia bersifat nisbi (relatif). Jika Allah mengijinkan,
kehendak manusia akan terlaksana; jika Dia tidak mengijinkan, maka
kehendak itu akan gagal. Hal ini berlaku dalam segala urusan, termasuk dalam praktik sihir sekalipun. Sihir tidak akan terlaksana, selain hanya dengan ijin Allah Ta’ala. Dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah menetapkan takdir atas segala sesuatu.” (At Thalaaq: 3).
Langganan:
Komentar (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact